BKKBN Sebut Pentingnya Harmonisasi Penduduk dengan Daya Dukung Lingkungan

Rabu, 14 Oktober 2020 - 04:47 WIB
loading...
BKKBN Sebut Pentingnya...
Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut pentingnya pengendalian penduduk dalam pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Penduduk dan daya dukung lingkungan ibarat dua sisi mata uang. Saling terkait. Bagi Indonesia, dengan jumlah penduduk berlimpah, diperlukan pengaturan yang tepat agar keduanya berjalan dengan harmonis. Hal itu terungkap dalam Webinar Series 4 Mewujudkan Indonesia Emas Tahun 2045 Melalui Pembangunan Berwawasan Lingkungan, dengan tema "Bumi dan Manusia: Sejahtera Jika Berencana Bersama", Selasa (13/10/2020). (Baca juga: BKKBN Ajak Keluarga Wujudkan Lansia Tangguh)

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa, dan bertambah di 2018 menjadi 265 juta jiwa. Pertambahan penduduk dipacu oleh laju pertumbuhan yang mencapai 1,49 %. Hasil Sensus Penduduk 2010 juga menunjukkan sebanyak 57,5 % penduduk Indonesia berada di Jawa. Di luar Jawa sekitar 50 % berada di Pulau Sumatera. (Baca juga: BKKBN: Lansia Paling Berisiko terhadap Kematian karena Covid-19)

Penduduk Indonesia pada dasarnya bersifat agraris-pedesaan. Situasi ini bervariasi antar daerah, yang dapat dilihat pada perimbangan antara jumlah penduduk yang bertempat tinggal di wilayah perdesaan dan wilayah perkotaan (wilayah urban). Penduduk di wilayah pedesaan sebagian besar masih merupakan petani atau buruh tani yang pendapatannya berasal dari bercocok tanam. Karena itu, ketergantungan penduduk terhadap lahan sangat besar. (Baca juga: Jokowi Tunjuk BKKBN sebagai Penanggungjawab Utama Penanggulangan Stunting)

Pertumbuhan jumlah penduduk petani mengakibatkan luas lahan yang diolah semakin kecil, sehingga makin banyak petani yang tidak mempunyai lahan. Keadaan ini menyebabkan tekanan penduduk terhadap lahan. Artinya, kebutuhan akan lahan garapan terus bertambah tetapi luas lahan terbatas. Sehingga kemampuan suatu daerah untuk mendukung kehidupan, yang disebut daya dukung lingkungan, terbatas pula. "Karena tekanan penduduk terhadap lahan terus bertambah maka daya dukung lingkungan akan terlampaui" ujar Sekretaris Pusat Studi Lingkungan Hidup ITB Asep Sofyan dalam webinar tersebut. (Baca juga: Bonus Demografi, Peluang atau Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045)

Untuk mengatasi lahan pertanian yang semakin terbatas, pemerintah membuka lahan gambut dengan segala tantangannya. Pembukaan lahan dilakukan, mengingat luasnya areal lahan gambut di Indonesia. Rektor Universitas Lambung Mangkurat Sutarto Hadi mengatakan, wilayah Kalimantan merupakan raksasa sedang tidur. Potensi besar untuk kesejahteraan bangsa dan negara. ”Menjadi kawasan food estate. Eks lahan gambut ada seluas 1 juta hektare," ujar Sutarto.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BNPP Renovasi 15.000...
BNPP Renovasi 15.000 Rumah Tak Layak Huni di 40 Kabupaten Kawasan Perbatasan
Pengendalian Kebakaran...
Pengendalian Kebakaran Gambut, Wamenhut Dorong Penguatan SDM dan Kolaborasi ASEAN
Ancaman Karhutla: Dari...
Ancaman Karhutla: Dari Pemadaman Api Menuju Pencegahan Hotspot
Sesmendukbangga Dorong...
Sesmendukbangga Dorong Daerah Serius Memanfaatkan Bonus Demografi
Pemuda Menaja 2026:...
Pemuda Menaja 2026: Bertahan atau Naik Kelas?
Pemerintah Diminta Tak...
Pemerintah Diminta Tak Berlakukan Pelarangan Truk Sumbu 3 saat Nataru
Canangkan Sensus Ekonomi...
Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Sulawesi Selatan, Kepala BPS RI Gaungkan Rumus TIR
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
Ekspor April 2026 Melesat...
Ekspor April 2026 Melesat 21,98% Tembus Rp449.6 Triliun, Ini Penopangnya
Rekomendasi
Resmi Melantai, IPO...
Resmi Melantai, IPO SpaceX Cetak Sejarah dan Jadikan Elon Musk Triliuner Dunia Pertama
Dari Bangkrut Saat Krisis...
Dari Bangkrut Saat Krisis 2008, MrBeast Kini Pimpin 1.000 Karyawan dan 500 Juta Pengikut
Piala Dunia 2026 Berpotensi...
Piala Dunia 2026 Berpotensi Jadi Panggung Terakhir Luka Modric
Berita Terkini
Pengamat: Kenaikan Harga...
Pengamat: Kenaikan Harga Pertamax Minim Timbulkan Risiko Gejolak Sosial
Kejagung Ungkap Siasat...
Kejagung Ungkap Siasat Curang Pengadaan Motor Listrik BGN
Dukung Blokir Konten...
Dukung Blokir Konten LGBT di Medsos, DPR: Jika Dibiarkan Menormalisasi Perilaku Menyimpang
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Kejagung Geledah 6 Lokasi...
Kejagung Geledah 6 Lokasi terkait Dugaan Korupsi MBG, Sasar Kantor dan Rumah Tersangka
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Infografis
3 Efek Perang Dunia...
3 Efek Perang Dunia III dengan Nuklir terhadap Lingkungan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved