BPS Catat Penerapan Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional dan Tempat Ibadah Rendah

loading...
BPS Catat Penerapan Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional dan Tempat Ibadah Rendah
Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan tercatat fakta bahwa penerapan protokol kesehatan di pasar tradisional dan tempat-tempat beribadah tergolong rendah. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Dari survei Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai perubahan perilaku di masa pandemi COVID-19 yang dilaksanakan pada 7 sampai 14 September dengan 90.967 orang, tercatat fakta bahwa penerapan protokol kesehatan di pasar tradisional dan tempat-tempat beribadah tergolong rendah.

“Catatan khususnya adalah untuk pasar tradisional dan pedagang kaki lima 17,3% responden menyatakan sama sekali tidak ada protokol kesehatan,” ungkap Kepala BPS, Suhariyanto dalam Rilis Hasil Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi COVID-19, di Media Center Satgas Penanganan COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Senin (28/9/2020). (Baca juga: BPS Rilis Survei Perubahan Perilaku di Masa Pandemi, Ini Kata Doni Monardo)

Suhariyanto mengatakan dilihat menurut lokasinya hasil temuannya konsisten bahwa di pasar, baik menjaga jarak, mencuci tangan maupun penerapan thermogun itu sangat sangat rendah sekali. “Jadi kalau kita lihat di sana perbedaannya sangat mencolok kembali kita semua tahu bahwa penerapan protokol kesehatan di kaki lima dan pasar tradisional sangat lemah,” katanya.

Kemudian di tempat ibadah sebanyak 5,78% responden mengaku bahwa tempat ibadah tidak menerapkan protokol kesehatan. “Kemudian berikutnya yang harus dijaga adalah tempat-tempat beribadah, karena 5,78% responden itu mengaku bahwa di tempat ibadahnya tidak ada protokol kesehatan sama sekali," jelasnya.



Suhariyanto mengingatkan agar dua tempat ini perlu perhatian khusus untuk pelaksanaan protokol kesehatan. “Jadi dua tempat ini nampaknya ke depan memang perlu perhatian yang lebih ketika kita melakukan sosialisasi protokol kesehatan.” (Baca juga: Survei BPS: 92% Responden Patuh Kenakan Masker)

“Sehingga ke depan mungkin selain sosialisasi juga perlu ada support atau bantuan langsung dari pemerintah supaya penerapan protokol kesehatannya bisa lebih tertib lagi,” tegas Suhariyanto.
(kri)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top