Statistikulasi dan Cerita Produksi Beras Indonesia yang 'Wow'
Kamis, 09 Juli 2026 - 06:39 WIB
loading...
A
A
A
Melalui sebuah cerita yang diarahkan, statistik bisa menjadi alat menggiring persepsi dan opini. Misalnya, ketika sebuah media menulis "Angka kriminalitas naik 50%", publik bisa panik. Padahal, naik 50% dari berapa? Kalau kasus kriminal awal hanya 2, lalu menjadi 3, memang naik 50%.
Tapi ini angka kriminalitas yang kecil kalau ditempatkan pada konteks angka 2. Tetapi siapa perduli soal konteks?
Lalu, soal pendapatan perusahaan yang merata. Misalnya, sebuah perusahaan memiliki 10 karyawan: 9 staf bergaji Rp7 juta, sementara sang pemilik bergaji Rp175 juta. Jika ingin menyajikan pendapatan yang merata, bisa menggunakan rata-rata hitung gaji 10 orang karyawan: Rp23,8 juta.
Angka ini terlihat tinggi. Namun, tidak mencerminkan nasib mayoritas karyawan. Jika menggunakan nilai tengah (median) didapati angka Rp7 juta. Angka ini lebih mendekati kondisi riil dan mewakili pendapatan karyawan.
Secara statistik, keduanya adalah 'rata-rata'. Tapi pilihan yang digunakan, antara mean atau median, mengikuti pesan apa yang hendak disampaikan. Darrell Huff, penulis buku 'Berbohong dengan Statistik', menyebut kedua hal ini, dan berbagai trik lain untuk berbohong dengan statistik, dalam satu istilah besar: statistikulasi.
Menurut dia, ini seni memanipulasi statistik tanpa benar-benar melakukan kebohongan matematis yang nyata. Praktik statistikulasi bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Salah satunya adalah memilih-milih data untuk mengarahkan cerita. Sepanjang pekan ketiga Juni 2026, misalnya, sejumlah media arus utama menyuguhkan berita bahwa produksi beras Indonesia tertinggi keempat di dunia, tertinggi di Asia Tenggara, dan bahkan menjadi penopang cadangan beras dunia.
Produksi beras Indonesia berada di bawah India, China, dan Bangladesh. Di Asia Tenggara, produksi beras Indonesia meninggalkan Myanmar, Filipina, dua eksportir beras yaitu Thailand dan Vietnam.
Dasar pemberitaan ini adalah proyeksi FAO edisi Juni 2026 bertajuk Food Outlook. Laporan 137 halaman itu memproyeksikan produksi beras dunia 2026/2027 turun 1,6% menjadi 552,4 juta ton.
Penurunan produksi diperkirakan terjadi antara lain di di Thailand (anjlok 6,1%), Amerika Serikat (15,2%), Brasil (12,9%), dan Kamboja (2,8%). Di tengah kontraksi produksi, produksi beras Indonesia justru bergerak naik.
FAO menempatkan produksi beras Indonesia pada angka 38,5 juta ton pada 2025/2026 dan menjadi 38,6 juta ton pada 2026/2027, melonjak signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/2025. Kenaikan produksi RI sebesar 4,5 juta ton dari 2024/2025 ke 2025/2026 mengalahkan India (naik 1,7 juta ton), Bangladesh (1,1 juta ton), dan China (1 juta ton).
FAO memperkirakan, stok beras Indonesia pada 2025/2026 mencapai 7,5 juta ton dan tembus 7,8 juta ton pada 2026/2027. Pendek kata produksi beras RI 'wow'.
Tapi ini angka kriminalitas yang kecil kalau ditempatkan pada konteks angka 2. Tetapi siapa perduli soal konteks?
Lalu, soal pendapatan perusahaan yang merata. Misalnya, sebuah perusahaan memiliki 10 karyawan: 9 staf bergaji Rp7 juta, sementara sang pemilik bergaji Rp175 juta. Jika ingin menyajikan pendapatan yang merata, bisa menggunakan rata-rata hitung gaji 10 orang karyawan: Rp23,8 juta.
Angka ini terlihat tinggi. Namun, tidak mencerminkan nasib mayoritas karyawan. Jika menggunakan nilai tengah (median) didapati angka Rp7 juta. Angka ini lebih mendekati kondisi riil dan mewakili pendapatan karyawan.
Secara statistik, keduanya adalah 'rata-rata'. Tapi pilihan yang digunakan, antara mean atau median, mengikuti pesan apa yang hendak disampaikan. Darrell Huff, penulis buku 'Berbohong dengan Statistik', menyebut kedua hal ini, dan berbagai trik lain untuk berbohong dengan statistik, dalam satu istilah besar: statistikulasi.
Menurut dia, ini seni memanipulasi statistik tanpa benar-benar melakukan kebohongan matematis yang nyata. Praktik statistikulasi bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Salah satunya adalah memilih-milih data untuk mengarahkan cerita. Sepanjang pekan ketiga Juni 2026, misalnya, sejumlah media arus utama menyuguhkan berita bahwa produksi beras Indonesia tertinggi keempat di dunia, tertinggi di Asia Tenggara, dan bahkan menjadi penopang cadangan beras dunia.
Produksi beras Indonesia berada di bawah India, China, dan Bangladesh. Di Asia Tenggara, produksi beras Indonesia meninggalkan Myanmar, Filipina, dua eksportir beras yaitu Thailand dan Vietnam.
Dasar pemberitaan ini adalah proyeksi FAO edisi Juni 2026 bertajuk Food Outlook. Laporan 137 halaman itu memproyeksikan produksi beras dunia 2026/2027 turun 1,6% menjadi 552,4 juta ton.
Penurunan produksi diperkirakan terjadi antara lain di di Thailand (anjlok 6,1%), Amerika Serikat (15,2%), Brasil (12,9%), dan Kamboja (2,8%). Di tengah kontraksi produksi, produksi beras Indonesia justru bergerak naik.
FAO menempatkan produksi beras Indonesia pada angka 38,5 juta ton pada 2025/2026 dan menjadi 38,6 juta ton pada 2026/2027, melonjak signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/2025. Kenaikan produksi RI sebesar 4,5 juta ton dari 2024/2025 ke 2025/2026 mengalahkan India (naik 1,7 juta ton), Bangladesh (1,1 juta ton), dan China (1 juta ton).
FAO memperkirakan, stok beras Indonesia pada 2025/2026 mencapai 7,5 juta ton dan tembus 7,8 juta ton pada 2026/2027. Pendek kata produksi beras RI 'wow'.
Lihat Juga :