Statistikulasi dan Cerita Produksi Beras Indonesia yang 'Wow'
Kamis, 09 Juli 2026 - 06:39 WIB
loading...
A
A
A
Selain memproyeksikan produksi, konsumsi, dan stok akhir beras di level dunia, FAO juga menaksir di level negara-negara produsen utama, terutama eksportir. Yang tidak kalah penting, FAO juga menampilkan tabel data per kawasan dan per negara, baik data produksi, konsumsi, impor, ekspor maupun stok akhir.
Masalahnya, media-media, misalnya, tidak menelisik sejak kapan produksi beras Indonesia tertinggi keempat dunia dan jawara di Asia Tenggara? Agar diketahui apakah ada lompatan produksi.
Sejatinya, predikat produsen nomor empat dunia dan tertinggi di Asia Tenggara bukan hal baru. Itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Masalah lain, media juga tidak menampilkan data konsumsi. Ini membuat cerita produksi tak seimbang.
Misalnya, ketika produksi beras Indonesia diproyeksikan FAO sebesar 34,6 juta ton pada 2024/2025, 38,5 juta ton pada 2025/2026, dan 38,6 juta ton pada 2026/2027 sejatinya konsumsi berturut-turut mencapai 36,8 juta ton pada 2024/2025, 38,6 juta ton pada 2025/2026, dan 38,9 juta ton pada 2026/2027. Artinya, mengikuti proyeksi ini sebetulnya produksi beras Indonesia defisit apabila dikurangi konsumsi.
Data lain yang seringkali dijadikan pembanding produksi oleh BPS adalah terbitan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Merujuk Grain: World Markets and Trade edisi Juni 2026 oleh USDA, produksi beras dunia 2026/2027 diperkirakan turun 1%.
Di sisi lain konsumsi diperkirakan meningkat, yang membuat stok global menurun 2%. Perdagangan global naik ke rekor tertinggi, dengan India menyumbang 40% ekspor di pasar dunia. Filipina, Vietnam, dan China tetap menjadi importir utama.
Selain memproyeksikan di tingkat dunia baik dari sisi produksi, konsumsi, ekspor-impor, dan stok akhir, USDA juga memperkirakan produksi, konsumsi, dan stok akhir negara-negara produsen beras utama dunia. USDA memproyeksikan produksi beras Indonesia pada 2024/2025 sebesar 34,1 juta ton, turun menjadi 33,8 juta ton pada pada 2025/2026, dan turun lagi menjadi 33,6 juta ton pada 2026/2027.
Pada periode yang sama, konsumsi beras Indonesia mencapai 35,5 juta ton pada 2024/2025, turun menjadi 35,3 juta ton pada 2025/2026, dan turun lagi menjadi 35 juta ton pada 2026/2027. Artinya, seperti data-data FAO, mengikuti proyeksi USDA sebetulnya produksi beras Indonesia defisit apabila dikurangi konsumsi.
Ketika produksi beras Indonesia diproyeksikan naik dari 33,02 juta ton pada 2023/2024 jadi 33,4 juta ton pada 2024/2025, USDA dikutip. Ketika produksi tahun ini diproyeksikan menurun, data USDA diabaikan. Itu tampak dari rilis kementerian teknis.
Mengapa narasi produksi beras Indonesia 'wow' ini terjadi? Salah satu kemungkinannya adalah media-media sekadar menyitir rilis yang dibuat oleh kementerian teknis, yang data-datanya sudah diseleksi untuk mendukung narasi. Tidak ada upaya media untuk mengulik sendiri data asli.
Di tengah tuntutan berita cepat dan produksi banyak, kelengkapan terkesampingkan. Yang dirugikan tentu publik. Karena dengan seleksi data kemudian mengarahkan narasi, cerita bisa berubah dan berbelok. Berbelok jauh.
Masalahnya, media-media, misalnya, tidak menelisik sejak kapan produksi beras Indonesia tertinggi keempat dunia dan jawara di Asia Tenggara? Agar diketahui apakah ada lompatan produksi.
Sejatinya, predikat produsen nomor empat dunia dan tertinggi di Asia Tenggara bukan hal baru. Itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Masalah lain, media juga tidak menampilkan data konsumsi. Ini membuat cerita produksi tak seimbang.
Misalnya, ketika produksi beras Indonesia diproyeksikan FAO sebesar 34,6 juta ton pada 2024/2025, 38,5 juta ton pada 2025/2026, dan 38,6 juta ton pada 2026/2027 sejatinya konsumsi berturut-turut mencapai 36,8 juta ton pada 2024/2025, 38,6 juta ton pada 2025/2026, dan 38,9 juta ton pada 2026/2027. Artinya, mengikuti proyeksi ini sebetulnya produksi beras Indonesia defisit apabila dikurangi konsumsi.
Data lain yang seringkali dijadikan pembanding produksi oleh BPS adalah terbitan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Merujuk Grain: World Markets and Trade edisi Juni 2026 oleh USDA, produksi beras dunia 2026/2027 diperkirakan turun 1%.
Di sisi lain konsumsi diperkirakan meningkat, yang membuat stok global menurun 2%. Perdagangan global naik ke rekor tertinggi, dengan India menyumbang 40% ekspor di pasar dunia. Filipina, Vietnam, dan China tetap menjadi importir utama.
Selain memproyeksikan di tingkat dunia baik dari sisi produksi, konsumsi, ekspor-impor, dan stok akhir, USDA juga memperkirakan produksi, konsumsi, dan stok akhir negara-negara produsen beras utama dunia. USDA memproyeksikan produksi beras Indonesia pada 2024/2025 sebesar 34,1 juta ton, turun menjadi 33,8 juta ton pada pada 2025/2026, dan turun lagi menjadi 33,6 juta ton pada 2026/2027.
Pada periode yang sama, konsumsi beras Indonesia mencapai 35,5 juta ton pada 2024/2025, turun menjadi 35,3 juta ton pada 2025/2026, dan turun lagi menjadi 35 juta ton pada 2026/2027. Artinya, seperti data-data FAO, mengikuti proyeksi USDA sebetulnya produksi beras Indonesia defisit apabila dikurangi konsumsi.
Ketika produksi beras Indonesia diproyeksikan naik dari 33,02 juta ton pada 2023/2024 jadi 33,4 juta ton pada 2024/2025, USDA dikutip. Ketika produksi tahun ini diproyeksikan menurun, data USDA diabaikan. Itu tampak dari rilis kementerian teknis.
Mengapa narasi produksi beras Indonesia 'wow' ini terjadi? Salah satu kemungkinannya adalah media-media sekadar menyitir rilis yang dibuat oleh kementerian teknis, yang data-datanya sudah diseleksi untuk mendukung narasi. Tidak ada upaya media untuk mengulik sendiri data asli.
Di tengah tuntutan berita cepat dan produksi banyak, kelengkapan terkesampingkan. Yang dirugikan tentu publik. Karena dengan seleksi data kemudian mengarahkan narasi, cerita bisa berubah dan berbelok. Berbelok jauh.
(shf)
Lihat Juga :