Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan

Jum'at, 19 Juni 2026 - 13:34 WIB
loading...
A A A
Krisis kedelai berulang karena pemerintah tidak merespons dengan kebijakan memadai. Dalam kebijakan publik, krisis berulang menandakan ada kealpaan dari otoritas pembuat kebijakan. Pemerintah sebenarnya sudah amat paham apa penyebab krisis berulang, yakni menyerahkan harga kedelai pada mekanisme pasar. Sayangnya, sejauh ini respons kebijakan sama sekali tidak menyentuh akar masalah yang ada.

Apa yang dituai berulang-ulang selama bertahun-tahun adalah buah politik pembiaran (hands-of economic policy) yang berkepanjangan. Pertama, harga kedelai bergerak bagai roller coaster mengikuti pergerakan harga di pasar dunia. Ketika harga turun, produsen tahu-tempe, juga konsumen, bergembira karena harga tahu-tempe jauh lebih terjangkau. Kala harga kedelai naik, seperti saat ini, semua merasakan akibatnya.

Dampak ikutannya, bukan hanya kepastian usaha produsen tahu-tempe terganggu, kehidupan ratusan ribu rakyat jelata, dari pedagang tahu-tempe hingga penjual gorengan pinggir jalan juga terancam usahanya. Bagi konsumen, kalau tahu-tempe lenyap dari pasar, adalah kerugian besar. Kandungan gizi dan vitamin tahu-tempe amat tinggi. Ia bisa menjadi makanan diet, pengganti makanan kaya lemak.

Ahli gizi, misalnya, menyebut tempe makanan super karena tak tertandingi makanan sejenis. Dari sisi harga, protein tahu-tempe juga jauh lebih murah ketimbang telur dan daging. Apalagi dibandingkan dengan sumber protein hewani dari daging ruminansia besar seperti sapi, kerbau atau kambing dan domba. Oleh karena itu, tahu-tempe sebenarnya bisa menjadi solusi masalah kekurangan energi protein warga miskin.

Kedua, akibat pelepasan kedelai pada mekanisme pasar, ketergantungan Indonesia pada kedelai impor amat tinggi: lebih 90% dari kebutuhan. Itu baru kedelai untuk konsumsi. Padahal, selain kedelai untuk konsumsi Indonesia juga mengimpor bungkil kedelai (soybean meal) untuk campuran pakan. Volumenya sekitar 5 juta ton per tahun. Tahun 2024 misalnya, 5,5 juta ton dari 8,2 juta ton impor kedelai adalah bungkil.

Ketergantungan impor yang tinggi ini diiringi gelombang ogah menanam kedelai di dalam negeri pada taraf yang akut. Pada 1992 luas panen kedelai masih 1.665.706 hektare, tetapi pada 2019 tinggal 285.265 hektare (17,13% dari 1992) dan tahun 2024 jadi 135 ribu ha (8,2% dari luas panen pada 1992). Konsekuensinya produksi pun merosot: dari 1,869 juta ton (1992) turun jadi 0,424 juta ton (2019) dan turun lagi menjadi 0,23 juta ton (2024) atau hanya tersisa 12,3% dari produksi tahun 1992.

Gelombang menjauh dari kedelai ini sepertinya akan berlanjut. Karena belum ada tanda-tanda serius untuk mengoreksi dalam bentuk kebijakan. Mengapa petani enggan menanam kedelai? Keuntungan usahatani kedelai selama semusim (3-4 bulan) kecil, hanya 11,95% (BPS, 2017). Keuntungan ini tak ada separuh dari mereka yang bertanam padi (26,76%) atau jagung (29,06%). Sebagai makhluk ekonomi yang rasional, wajar petani enggan bertanam kedelai. Petani memilih menanam komoditas yang menjanjikan.

Merujuk hasil survei ubinan 2024 (BPS, 2025), mayoritas (75,75%) kedelai ditanam di sawah (irigasi, tadah hujan, dan pasang surut). Rata-rata produktivitas kedelai nasional 1,62 ton/ha. Produktivitas kedelai tertinggi, mencapai 2,8 ton/ha, ada di Pulau Sumatera. Produktivitas tertinggi kedelai ditanam di lahan sawah pasang surut: 2,89 ton/ha. Produktivitas kedelai di sawah irigasi dan tadah hujan masing-masing hanya 1,72 ton/ha dan 1,6 ton/ha. Produktivitas kedelai di Jawa 1,67 ton/ha. Sayangnya, survei itu tidak ada informasi varietas kedelai.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Urgensi Cadangan Beras...
Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas
Pertaruhan Tugas Bulog...
Pertaruhan Tugas Bulog saat Stok Beras Jumbo
Mengapa Harga Beras...
Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Kasus Bea Cukai, KPK...
Kasus Bea Cukai, KPK Periksa 20 Petinggi Forwarder
KPK Sita Mobil dan Uang...
KPK Sita Mobil dan Uang Rp1 Miliar terkait Kasus Suap Impor Barang Bea Cukai
OTT Importasi Barang,...
OTT Importasi Barang, KPK Tangkap Mantan Direktur Penyidikan dan Penindakan Bea Cukai
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
Indonesia Negara Kaya...
Indonesia Negara Kaya Batu Bara, Mengapa Justru Impor dari AS?
Perkuat Penyimpanan...
Perkuat Penyimpanan Pangan di Kalsel, Titiek Soeharto Resmikan Gudang Bulog Kapasitas 3.500 Ton
Rekomendasi
TikTok Gelontorkan Rp3,6...
TikTok Gelontorkan Rp3,6 Miliar Edukasi Gizi dan Angkat Potensi Pangan Lokal
Bidik Pasar Triliunan...
Bidik Pasar Triliunan Dolar, OKX Luncurkan Marketplace Berbasis Agen AI
Cikarang Tumbuh Pesat,...
Cikarang Tumbuh Pesat, Lippoland Luncurkan OAZE Lakeside Homes Hunian Premium
Berita Terkini
Prabowo Kembali Ingatkan...
Prabowo Kembali Ingatkan untuk Hentikan Korupsi, Penyelundupan, Narkoba, hingga Judi
Maruf Cahyono Gunakan...
Maruf Cahyono Gunakan Uang Gratifikasi untuk Renovasi Rumah dan Biayai Resepsi Pernikahan Anak
Yusril Minta Perpres...
Yusril Minta Perpres Pertahanan Negara Dipahami Utuh: Tidak Secara Khusus Berbicara mengenai LBGTQ
Menhut Siapkan Generasi...
Menhut Siapkan Generasi Baru Pemimpin Kehutanan melalui Penguatan SDM
Mantan Sekjen MPR Maruf...
Mantan Sekjen MPR Maruf Cahyono Minta Fee Proyek Pakai Istilah Uang Assalammualaikum
Kejagung Hormati Penggeledahan...
Kejagung Hormati Penggeledahan 12 Titik oleh Polri
Infografis
34 PTS yang Masuk THE...
34 PTS yang Masuk THE Sustainability Impact Ratings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved