Chatib Basri di Ajang Perang Ideologi Ekonomi

Senin, 08 Juni 2026 - 13:35 WIB
loading...
Chatib Basri di Ajang...
Ichsanuddin Noorsy, Ekonom dan Pengamat Ekonomi. Foto/Dok.SindoNews
A A A
Ichsanuddin Noorsy
Ekonom dan Pengamat Ekonomi

M Arief Pranoto
Pengamat Geopolitik

LEBIH dari lima belas tahun lalu di pelbagai forum publik, ekonom Chatib Basri pernah menyampaikan sejumlah pernyataan yang bagi sebagian orang terdengar realistis dan modern, namun juga kontroversial. Dan jika dicermati lebih dalam, pernyataan-pernyataan tersebut memperlihatkan cara pandang yang cenderung mengerdilkan nasionalisme, menyingkirkan moralitas dari ekonomi, dan melemahkan kepercayaan terhadap diri (bangsa)-nya sendiri.

Suatu cara pandang yang mengagumi pasar akan mencari keseimbangannya sendiri, pasar adalah penawaran permintaan yang bebas dari nilai dan moral.

Kantongi Nasionalisme-mu


Pernyataan pertama paling kontroversial adalah: "Kantongi nasionalisme-mu". Ini disampaikan oleh Basri di salah satu TV saat off air dalam debat bersama Faisal Basri dan Ichsanuddin Noorsy. Kalimat ini mengandung asumsi, bahwa nasionalisme adalah hambatan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Padahal sejarah menunjukkan hal sebaliknya.

Hampir semua negara yang berhasil menjadi kekuatan ekonomi dunia melakukannya dengan semangat nasionalisme yang kuat. AS contohnya, ia melindungi industrinya selama puluhan tahun. Jepang membangun industri nasionalnya dengan kebijakan yang berpihak pada kepentingan negara. Korea Selatan mendorong konglomerasi nasional untuk menjadi pemain global.

Tidak ada satu pun dari mereka yang "mengantongi nasionalisme" ketika menentukan arah pembangunan. Pernyataan Chatib Basri ini pernah disampaikan Prof Sri Edi Swasono dan Kwik Kian Gie melalui surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum Dede ---panggilan Chatib Basri--- menggantikan Sri Mulyani karena kasus Bank Century.

Dalam konteks Indonesia, nasionalisme ekonomi merupakan amanat konstitusi. Itu jelas. Pembukaan dan pasal 33 ayat (1, 2, 3) UUD 1945 menegaskan tentang peranan negara yang dilarang diminimalkan oleh kekuatan korporasi.

Penyusunan ekonomi, pengaturan dan pendayagunaan sumberdaya serta cabang-cabang produksi yang penting bagi negara harus dikuasai negara. Tatanan sistematis struktural perekonomian dari hulu ke hilir itu digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Karenanya, menganggap nasionalisme sebagai gangguan dalam ekonomi sesungguhnya bertentangan dengan semangat dasar konstitusi.

“Kita tidak mungkin kembali ke era merkantilisme,” katanya meyakinkan.

Menariknya, kaum neolib termasuk Chatib Basri berjuang terus menerus menerapkan prinsip liberalisme perekonomian, di tengah geliat AS karena neoliberalnya dikalahkan China dengan kapitalisme negara, BUMN.

Jika kini membaca koran Wall Street Jounal dan media Bloomberg pekan lalu, kapitalisme bingung menghadapi perekonomian global yang "memaksa” negara melakukan intervensi dari sumberdaya hingga ke harga komoditas.

Kapitalisme dipaksa tunduk pada kepentingan nasional sebagaimana Trump menunjukkan saat menetapkan tarif dan membawa 18 petinggi korporasi ke Beijing pada 13-15 Mei 2026. Ia secara vulgar memperjuangkan kepentingan nasionalisme AS tanpa peduli siapa yang dihadapinya.

Bahkan saat frasa American First dikemukakan, orang mengatakan, jargon itu sebenarnya sudah dimulai sejak era Reagan. Hal ini menandakan bahwa pergulatan “corporate versus state”, “market versus country” sudah lama berjalan.

Bahkan jika mundur ke abad pertengahan, itulah perebutan pengaruh antara orang kaya dengan gereja dan negara. Orang kaya yang direpresentasikan dengan korporasi kapitalisme telah memenangkan pergumulan itu sejak fiat money menjadi kata kuncinya dan mereka kuasai. Maka sistem riba pun mulai mendominasi.

Jangan Bicara Moral dalam Ekonomi


Pernyataan kedua bahkan lebih problematis: "Jangan bicara moral dalam ekonomi." Jika moral dipisahkan dari ekonomi, maka apa yang tersisa selain perhitungan untung-rugi? Dengan logika seperti itu, eksploitasi sumber daya alam, penggusuran rakyat kecil, monopoli korporasi, hingga ketimpangan ekstrem dapat dianggap wajar selama menghasilkan efisiensi ekonomi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Didik Rachbini Prediksi...
Didik Rachbini Prediksi Safari Politik Jokowi Menjadi Faktor Negatif Ekonomi Nasional
Prabowo Terima Usulan...
Prabowo Terima Usulan Rektor, Keuntungan BUMN untuk Riset dan Inovasi
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Relawan Sebut Prabowo...
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
Redesign BUMN Via Danantara,...
Redesign BUMN Via Danantara, Langkah Strategis Optimalkan Perlindungan Direksi atas Keputusan Bisnis
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Prabowo Targetkan Pangkas...
Prabowo Targetkan Pangkas 1.000 BUMN Jadi Tinggal Tersisa 250
Rekomendasi
RSM Indonesia Umumkan...
RSM Indonesia Umumkan Bergabungnya Mahendra Siregar sebagai Senior Advisor
TMII: Temuan Benda di...
TMII: Temuan Benda di Anjungan Sumbar Bukan Bom Tapi Mortir Peninggalan Lama
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Tanggapan Resmi DJP
Berita Terkini
ASEAN Diminta Jaga Sentralitas...
ASEAN Diminta Jaga Sentralitas di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan Laut China Selatan
Lelang Jabatan Sekda,...
Lelang Jabatan Sekda, Bupati Kuansing Minta Mobil Land Cruiser
Fuad Hasan Mangkir dari...
Fuad Hasan Mangkir dari Panggilan Penyidik, KPK: Sedang di Luar Negeri
Wali Kota Agustina Dorong...
Wali Kota Agustina Dorong Gerakan Nasional Penyelamatan Heritage Kota Maritim
HUT ke-118, Ikatan Notaris...
HUT ke-118, Ikatan Notaris Indonesia Dorong Penegakan Etik dan Adaptasi Digital
PN Jaktim Izinkan Siaran...
PN Jaktim Izinkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa kecuali Tahap Pembuktian
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved