Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar

Senin, 08 Juni 2026 - 10:25 WIB
loading...
A A A
Inggris beralih ke pasar bebas dan mulai mengkampanyekan teori Adam Smith dan David Ricardo tentang kebebasan pasar dan dogma laissez-faire ke seluruh dunia sebagai "kebenaran ilmiah universal". Inggris memaksa Jerman, Perancis, Portugal dan negara Eropa lainnya dengan doktrin; hapus tarif kalian, berdagang secara bebas untuk memakmurkan dunia. Hasilnya, industri Jerman dan Portugal kalah saing, serta hanya berhenti sebagai pengekspor bahan mentah demi menghidupi pabrik-pabrik di London.

Fenomena inilah yang disebut oleh ekonom kawakan, Friedrich List sebagai tindakan menendang tangga (kicking away the ladder). Di mana ketika sebuah negara telah mencapai puncak kejayaan, ia akan menendang tangga yang digunakannya untuk memanjat, agar negara lain tak bisa ikut naik menyusulnya.

Artinya, untuk mengejar ketertinggalan dari industri tekstil Flanders, Belgia, yang jauh lebih maju, Inggris menggunakan “tangga” yang disebut sebagai “proteksionisme ketat” dan “intervensi negara”. Namun ketika tumbuh paling kuat, Inggris memerintahkan negara lain untuk menerapkan pasar bebas atas nama persaingan sempurna dan kesejahteraan dunia.

Padahal agar industri mereka bisa masuk tanpa hambatan dan menghancurkan industri lokal negara-negara yang baru mau tumbuh. Dengan kata lain, Inggris melarang negara lain menggunakan metode (tangga) yang dulu mereka gunakan untuk kaya.

Begitu juga dengan Amerika Serikat. Ketika pertama kali tumbuh mereka mengenakan tarif yang tinggi untuk barang impor, memberikan insentif dan subsidi kepada produk lokal hingga membangun infrastruktur dasar yang oleh menteri keuangan pertama AS, Alexander Hamilton disebut sebagai "the american system". Di bawah lindungan dinding tarif dan proteksi yang masif ini, industri baja, otomotif, kimia, dan komunikasi AS tumbuh raksasa tanpa gangguan kompetitor asing.

Hingga pascaperang dunia II, AS membentuk General Agreement on Tariffs and Trade (GATT). Dan melalui “Washington Consensus” mempromosikan gagasan neoliberalisme, meminta semua negara menghapus tarif, meminimalkan peran negara, membuka pasar mereka, dan memulai era perdagangan bebas global.

Hasilnya, negara-negara dunia ketiga atau negara pascakolonial yang dipaksa menelan mentah-mentah resep neoliberalisme hanya berhenti menjadi “peripheral capitalism” yang menurut Samir Amin kondisi ekonominya mengalami “disarticulation” dan “economic enclave”. Di mana ekonomi suatu negara tidak berfungsi sebagai satu kesatuan yang utuh, melainkan sebagai kepingan-kepingan yang terfragmentasi dan hanya melayani kepentingan negara-negara maju.

Sebuah kawasan industri dan ekonomi modern telah dibangun, namun semua itu terisolasi dan tak terkoneksi dengan perekonomian pedesaan dan wilayah pedalaman yang terus terbelakang. Ia layaknya seperti “enclave”, pulau-pulau yang terpisah satu sama lain.

Di mana pabrik-pabrik di kawasan industri berjalan sangat modern dengan mesin-mesin smelter, dan teknologi pemurnian yang dimiliki oleh investasi asing. Namun semua itu tak terkoneksi dengan ekonomi daerah dan pedesaan yang dibiarkan hidup terbelakang dan menerima upah rendah untuk sekadar bertahan hidup.

Samir Amin menyebut fenomena “disarticulation” dan “economic enclave” ini sebagai “pertumbuhan tanpa pembangunan”, ekonomi tumbuh meroket signifikan namun tak memicu lahirnya pabrik-pabrik mesin atau industri teknologi nasional. Yang lahir justru fenomena petro-state, negara petrodollar yang ekonomi nasionalnya sepenuhnya bertumpu pada penghasilan atas eksploitasi sumber daya alam semata.

Dalam model negara petrodollar, negara hanya berfungsi sebagai “pembagi kue rente” sumber daya alam. Negara tak punya rencana dan desain pembangunan industri jangka panjang, dan birokrasi pun bergeser bukan bagaimana menciptakan produktivitas namun hanya mendistribusikan windfall profit alias rejeki nomplok atas penjualan sumber daya alam.

Dampaknya seperti apa yang disampaikan oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson lahirlah institusi ekstraktif (extractive institutions) yang terjebak dalam vicious circle (lingkaran setan). Di mana kekayaan alam yang diekstraksi oleh para elit digunakan untuk membiayai kekuatan politik mereka dan kemudian kekuatan politik yang didapatkan digunakan untuk membuat hukum dan aturan ekonomi yang lebih ekstraktif lagi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Chatib Basri di Ajang...
Chatib Basri di Ajang Perang Ideologi Ekonomi
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
IFG Life Beri Proteksi...
IFG Life Beri Proteksi 10 Ribu Pelari di Ajang Yellow Run 2026
Dukung Nelayan Lebih...
Dukung Nelayan Lebih Aman Melaut, Askrindo Gandeng DKP Kabupaten Demak
Nanik S Deyang Ancam...
Nanik S Deyang Ancam Tutup SPPG Jika Tak Beli Telur Langsung dari Peternak
Rekomendasi
IHSG Terjun Bebas 4,52%...
IHSG Terjun Bebas 4,52% Sore Ini, Banyak Saham 'Berdarah-darah'
Wali Kota Tangsel Dorong...
Wali Kota Tangsel Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak UMKM-Ekonomi Kerakyatan
Perlukah Melakukan Resolusi...
Perlukah Melakukan Resolusi Hidup di Tahun Baru Islam?
Berita Terkini
KPK Tahan 2 Tersangka...
KPK Tahan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji
HUT ke-80, SPS: Fondasi...
HUT ke-80, SPS: Fondasi Pers Nasional Terletak pada Integritas, Profesionalisme, dan Kepentingan Publik
Delegasi Indonesia Soroti...
Delegasi Indonesia Soroti Kerja Paksa Myanmar dan Krisis Rohingya di Sidang ILO Jenewa
Demi Framing, Pengamat...
Demi Framing, Pengamat Menilai Jusuf Hamka Catut Nama Mbak Tutut dan TPI ke Polemik CMNP dengan MNC Asia
Panja RUU Polri Sepakati...
Panja RUU Polri Sepakati Usia Pensiun Polisi, Jenderal Bintang 4 Bisa 61 Tahun
Eks Waka BGN Sony Sonjaya...
Eks Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan JC, Sebut 20 Nama Besar Diduga Terlibat Korupsi
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved