Rupiah dalam Pusaran Greenback
Senin, 18 Mei 2026 - 14:20 WIB
loading...
A
A
A
Tetapi juga dibutuhkan orkestrasi kebijakan bersama antara moneter, fiskal dan sektor riil dalam satu tarikan nafas. Instrumen kebijakan fiskal yang bisa dimainkan dalam situasi ini adalah politik anggaran yang kuat. APBN harus hadir sebagai peredam guncangan, terutama melalui perlindungan daya beli, ketahanan pangan, subsidi yang tepat sasaran dan belanja produktif.
Bauran fiskal-moneter bekerja secara harmonis. BI menjaga ritme stabilitas rupiah sedangkan pemerintah menjaga nafas rumah tangga dan sektor riil. Koordinasi kebijakan bukan pilihan tambahan, melainkan syarat utama agar stabilisasi rupiah tidak mengorbankan tumbuhnya ekonomi.
Fondasi Daya Lenting
Pelajaran terbesar dari tekanan rupiah saat ini ialah jangan membiarkan depresiasi berubah menjadi spiral ekspektasi inflasi. Jika pelaku usaha mulai percaya bahwa rupiah akan terus melemah, mereka dapat mempercepat pembelian dolar. Dampaknya harga akan terkerek, mengubah kontrak dan menunda investasi.
Pada titik itu, ekspektasi menjadi bara kecil yang bisa membakar gudang stabilitas. Sargent (1982) mengingatkan bahwa inflasi besar tidak cukup dijinakkan oleh tindakan teknis. Ia membutuhkan kredibilitas institusi fiskal dan moneter. Membiayai defisit yang bersifat inflasioner perlu dihindari.
Karena itu, agenda fundamental Indonesia harus lebih dalam daripada sekadar menahan kurs harian. Ekspor bernilai tambah perlu diperkuat, ketergantungan impor energi dan pangan harus dikurangi secara realistis, pasar valas perlu diperdalam dan instrumen lindung nilai korporasi diperluas. Neraca perdagangan Januari–Maret 2026 masih surplus USD5,55 miliar dolar, tetapi defisit migas USD5,08 miliar menunjukkan bahwa energi tetap menjadi titik rawan eksternal.
Dalam pusaran greenback, pelemahan rupiah bukan hanya dipengaruhi instrumen moneter. Akan tetapi, struktur ekonomi secara keseluruhan turut berperan. Ruang fiskal, arus modal, belanja produktif, perdagangan luar negeri hingga ekspektasi pasar perlu dipertahankan. Demiresiliensi ekonomi dalam jangka panjang.
Bauran fiskal-moneter bekerja secara harmonis. BI menjaga ritme stabilitas rupiah sedangkan pemerintah menjaga nafas rumah tangga dan sektor riil. Koordinasi kebijakan bukan pilihan tambahan, melainkan syarat utama agar stabilisasi rupiah tidak mengorbankan tumbuhnya ekonomi.
Fondasi Daya Lenting
Pelajaran terbesar dari tekanan rupiah saat ini ialah jangan membiarkan depresiasi berubah menjadi spiral ekspektasi inflasi. Jika pelaku usaha mulai percaya bahwa rupiah akan terus melemah, mereka dapat mempercepat pembelian dolar. Dampaknya harga akan terkerek, mengubah kontrak dan menunda investasi.
Pada titik itu, ekspektasi menjadi bara kecil yang bisa membakar gudang stabilitas. Sargent (1982) mengingatkan bahwa inflasi besar tidak cukup dijinakkan oleh tindakan teknis. Ia membutuhkan kredibilitas institusi fiskal dan moneter. Membiayai defisit yang bersifat inflasioner perlu dihindari.
Karena itu, agenda fundamental Indonesia harus lebih dalam daripada sekadar menahan kurs harian. Ekspor bernilai tambah perlu diperkuat, ketergantungan impor energi dan pangan harus dikurangi secara realistis, pasar valas perlu diperdalam dan instrumen lindung nilai korporasi diperluas. Neraca perdagangan Januari–Maret 2026 masih surplus USD5,55 miliar dolar, tetapi defisit migas USD5,08 miliar menunjukkan bahwa energi tetap menjadi titik rawan eksternal.
Dalam pusaran greenback, pelemahan rupiah bukan hanya dipengaruhi instrumen moneter. Akan tetapi, struktur ekonomi secara keseluruhan turut berperan. Ruang fiskal, arus modal, belanja produktif, perdagangan luar negeri hingga ekspektasi pasar perlu dipertahankan. Demiresiliensi ekonomi dalam jangka panjang.
(poe)
Lihat Juga :