Menjaga Rupiah: Refleksi 28 Tahun Reformasi dan Tantangan Geopolitik Baru
Selasa, 05 Mei 2026 - 15:58 WIB
loading...
A
A
A
Berbeda dengan era 1998 yang penuh kepanikan, saat ini kita melihat sinergi yang sangat erat antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal Kementerian Keuangan. Pemerintah tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Fokus kebijakan fiskal 2026 tetap pada penguatan fundamental melalui investasi publik yang memiliki multiplier effect besar, seperti pengembangan kawasan ekonomi baru di Kalimantan yang dirancang untuk mendukung transformasi ekonomi nasional. Di sisi lain, Bank Indonesia memperkuat strategi operasi moneter yang pro-market.
Penggunaan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara efektif menarik aliran masuk investasi portofolio asing dengan menawarkan imbal hasil yang kompetitif di tengah tingginya ketidakpastian. Ini adalah langkah elegan untuk memastikan likuiditas tetap terjaga tanpa harus menguras cadangan devisa secara ugal-ugalan.
Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap pandangan skeptis yang menilai bahwa ketergantungan pada investasi portofolio (hot money) membuat rupiah rentan terhadap pembalikan modal mendadak. Pandangan ini ada benarnya, namun gagal melihat gambaran besarnya.
Otoritas moneter kita kini lebih cerdik dengan mengoptimalkan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pembiayaan ke sektor-sektor produktif dan hilirisasi. Artinya, stabilitas rupiah tidak hanya dijaga di pasar uang, tetapi juga di "sektor riil" agar ekonomi tetap tumbuh di atas 5,1% pada tahun 2026 meski dunia melambat.
Prediksi untuk enam bulan ke depan menunjukkan bahwa tekanan belum akan mereda sepenuhnya. Inflasi global diproyeksikan meningkat dari 3,8% menjadi 4,1%. Bagi rumah tangga di Indonesia, ini berarti harga barang impor atau barang yang berbasis energi mungkin akan mengalami penyesuaian.
Fokus kebijakan fiskal 2026 tetap pada penguatan fundamental melalui investasi publik yang memiliki multiplier effect besar, seperti pengembangan kawasan ekonomi baru di Kalimantan yang dirancang untuk mendukung transformasi ekonomi nasional. Di sisi lain, Bank Indonesia memperkuat strategi operasi moneter yang pro-market.
Penggunaan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara efektif menarik aliran masuk investasi portofolio asing dengan menawarkan imbal hasil yang kompetitif di tengah tingginya ketidakpastian. Ini adalah langkah elegan untuk memastikan likuiditas tetap terjaga tanpa harus menguras cadangan devisa secara ugal-ugalan.
Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap pandangan skeptis yang menilai bahwa ketergantungan pada investasi portofolio (hot money) membuat rupiah rentan terhadap pembalikan modal mendadak. Pandangan ini ada benarnya, namun gagal melihat gambaran besarnya.
Otoritas moneter kita kini lebih cerdik dengan mengoptimalkan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pembiayaan ke sektor-sektor produktif dan hilirisasi. Artinya, stabilitas rupiah tidak hanya dijaga di pasar uang, tetapi juga di "sektor riil" agar ekonomi tetap tumbuh di atas 5,1% pada tahun 2026 meski dunia melambat.
Menatap Enam Bulan ke Depan
Prediksi untuk enam bulan ke depan menunjukkan bahwa tekanan belum akan mereda sepenuhnya. Inflasi global diproyeksikan meningkat dari 3,8% menjadi 4,1%. Bagi rumah tangga di Indonesia, ini berarti harga barang impor atau barang yang berbasis energi mungkin akan mengalami penyesuaian.
Lihat Juga :