China-Taiwan: Ilusi Dialog Lintas Selat

Selasa, 31 Maret 2026 - 19:19 WIB
loading...
A A A
Dari sudut pandang teoretis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep “dialog tidak simetris”. Dalam perspektif realisme, pihak yang lebih kuat secara struktural akan menentukan aturan dan agenda. Sementara itu, dalam pendekatan konstruktivisme, kedua belah pihak sebenarnya sedang bersaing dalam membentuk narasi tentang realitas politik yang sah. Namun, ketika kekuasaan dan narasi sama-sama didominasi oleh satu pihak, maka ruang dialog menjadi terbatas secara inheren.

Oleh karena itu, melihat kunjungan semacam ini sebagai “terobosan perdamaian” mungkin terlalu optimistis. Interaksi tersebut lebih tepat dipahami sebagai simbol politik—alat untuk menyampaikan posisi dan memperkuat basis dukungan domestik—daripada mekanisme nyata untuk menyelesaikan perbedaan mendasar antara kedua pihak.

Pada akhirnya, persoalan lintas Selat bukan semata-mata tentang pilihan antara unifikasi atau kemerdekaan, melainkan tentang bagaimana membangun mekanisme interaksi yang mampu mengakomodasi perbedaan dalam kondisi ketimpangan struktural. Jika dialog hanya dapat berlangsung dengan prasyarat politik tertentu, maka dialog itu sendiri menjadi sulit terwujud.

Dan jika tidak ada kesetaraan, maka komunikasi yang terjadi berisiko hanya menjadi narasi paralel yang tidak pernah benar-benar bertemu. Dalam realitas seperti ini, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah dialog perlu dilakukan, melainkan bagaimana menciptakan ruang komunikasi yang minimal tetap dapat membangun kepercayaan, meskipun berada dalam struktur yang tidak seimbang.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
Melembagakan ‘Otot’...
Melembagakan ‘Otot’ Diplomasi Prabowo
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
Sinifikasi Agama di...
Sinifikasi Agama di China Menguat, Gereja Katolik Patriotik Jadi Sorotan
China Diam-diam Simpan...
China Diam-diam Simpan Ribuan Server di Dasar Laut, Apa Tujuannya?
Rekomendasi
Lindungi Konsumen, Pakar...
Lindungi Konsumen, Pakar UI Ingatkan Dampak Paparan BPA Galon Guna Ulang
Tragedi Bitcoin: Rp72...
Tragedi Bitcoin: Rp72 Triliun Hangus Terseret Tren Terburuk Sejak Agustus!
Israel Bombardir Lebanon...
Israel Bombardir Lebanon Lagi, Padahal Telah Setuju Gencatan Senjata yang Dimediasi AS
Berita Terkini
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved