Demokrasi Popularitas dan Ilusi Inklusi

Senin, 09 Maret 2026 - 10:00 WIB
loading...
Demokrasi Popularitas...
Praktisi Hukum Ramdansyah (kanan) bersama Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun. Foto: Istimewa
A A A
Ramdansyah
Praktisi Hukum yang pernah menjabat Ketua Panwaslu DKI 2008/2009 dan Ketua Panwaslukada 2011/2012

PADA awal Maret ini, kasus dugaan korupsi yang menjerat selebritas berinisial FA—seorang kepala daerah—kembali menyentak publik. Dalam pembelaannya, ia mengaku “tidak memahami hukum” karena latar belakangnya sebagai artis dangdut. Pernyataan itu mungkin dimaksudkan sebagai strategi pembelaan diri. Namun tanpa disadari, ia justru menyingkap persoalan yang lebih mendasar dalam demokrasi kita: ketika popularitas kerap lebih menentukan daripada kapasitas.

Demokrasi pada prinsipnya membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi setiap warga negara. Hak politik tidak boleh dibatasi oleh profesi, status sosial, ataupun tingkat keterkenalan seseorang. Dalam kerangka itu, masuknya selebritas ke dunia politik tidak dapat dipandang sebagai penyimpangan. Demokrasi yang sehat justru ditandai oleh keterbukaan dan inklusivitas.

Namun inklusivitas demokrasi memiliki batas yang sering terlupakan. Partisipasi politik tidak cukup berhenti pada keterlibatan formal di setiap pemilu. Tanpa kompetensi kepemimpinan, pemahaman kebijakan publik, dan orientasi moral terhadap kepentingan umum, partisipasi dapat berubah menjadi sekadar formalitas prosedural. Demokrasinya tetap berjalan, tetapi substansinya menipis.

Sosiolog Robert Putnam dalam Bowling Alone (2000) menggambarkan paradoks masyarakat modern. Partisipasi sosial secara formal meningkat, tetapi solidaritas sosial justru melemah. Orang hadir dalam ruang publik, tetapi tidak selalu membangun kepentingan bersama.

Paradoks serupa dapat muncul dalam demokrasi elektoral. Tingginya partisipasi pemilih tidak otomatis menghasilkan kualitas demokrasi lebih baik. Dalam situasi tertentu, demokrasi bahkan dapat melahirkan populisme, patronase, atau praktik korupsi ketika proses politik tidak disertai etika publik yang kuat. Demokrasi akhirnya berdiri di atas prosedur, tetapi kehilangan kedalaman nilai.

Modal Simbolik dan Kekuasaan Popularitas


Fenomena selebritas dalam politik sebenarnya bukan gejala baru. Sosiolog Pierre Bourdieu (1977) menjelaskan bahwa kehidupan sosial merupakan arena pertarungan berbagai jenis modal: ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik.

Modal simbolik—seperti reputasi, prestise, dan keterkenalan—sering kali memiliki daya pengaruh yang sangat besar. Dalam masyarakat yang sangat dimediasi oleh media, keterkenalan bahkan dapat berubah menjadi sumber kekuasaan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usai Putusan MK, Irman...
Usai Putusan MK, Irman Gusman: Saatnya Akhiri Debat Prosedural, Fokus pada Kualitas Demokrasi Daerah
KPK: Kenaikan Gaji Kepala...
KPK: Kenaikan Gaji Kepala Daerah Tak Menjamin Bakal Bebas Korupsi
OTT di Sumut, KPK Tangkap...
OTT di Sumut, KPK Tangkap Bupati Langkat Syah Afandin
Di Rakernas APEKSI,...
Di Rakernas APEKSI, Menko AHY: Wali Kota Adalah Duta Terbaik untuk Tarik Investasi dan Layani Rakyat Perkotaan
Boni Hargens Sebut Polri...
Boni Hargens Sebut Polri Presisi Tulang Punggung Demokrasi
Prabowo: Kita Butuh...
Prabowo: Kita Butuh Kritik untuk Perbaiki Diri
Peneliti BRIN Siti Zuhro:...
Peneliti BRIN Siti Zuhro: Daerah Maju Kuncinya Inovasi dan Gotong Royong, Stop Mengeluh!
Kemendagri Percepat...
Kemendagri Percepat Penegasan Batas Desa di Tiga Kabupaten di Sultra
Mengukur Kunci Sukses...
Mengukur Kunci Sukses Daerah, RGSS Resmi Hadir
Rekomendasi
Delegasi Hamas Kembali...
Delegasi Hamas Kembali ke Kairo, Pembicaraan Fokus Fase Kedua Gencatan Senjata
Kenapa BAIC Taruh Setengah...
Kenapa BAIC Taruh Setengah Nasib 2026 di Tangan T1?
Bidik Pasar Triliunan...
Bidik Pasar Triliunan Dolar, OKX Luncurkan Marketplace Berbasis Agen AI
Berita Terkini
Prabowo Kembali Ingatkan...
Prabowo Kembali Ingatkan untuk Hentikan Korupsi, Penyelundupan, Narkoba, hingga Judi
Maruf Cahyono Gunakan...
Maruf Cahyono Gunakan Uang Gratifikasi untuk Renovasi Rumah dan Biayai Resepsi Pernikahan Anak
Yusril Minta Perpres...
Yusril Minta Perpres Pertahanan Negara Dipahami Utuh: Tidak Secara Khusus Berbicara mengenai LBGTQ
Menhut Siapkan Generasi...
Menhut Siapkan Generasi Baru Pemimpin Kehutanan melalui Penguatan SDM
Mantan Sekjen MPR Maruf...
Mantan Sekjen MPR Maruf Cahyono Minta Fee Proyek Pakai Istilah Uang Assalammualaikum
Kejagung Hormati Penggeledahan...
Kejagung Hormati Penggeledahan 12 Titik oleh Polri
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved