Catur Politik di Markas Besar TNI AL: Menanti Sang Nakhoda Baru
Minggu, 08 Februari 2026 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
Begitu pula dengan Laksdya Denih Hendrata (Pangkoarmada RI, AAL 1989), teman satu letting dengan Laksamana Muhammad Ali. Sebagai yang paling senior, Denih memiliki portofolio yang sangat lengkap: Gubernur AAL, Asops KSAL, Pangkoarmada II, hingga kini memegang posisi puncak operasional sebagai Pangkoarmada RI—jabatan yang secara strategis setara dengan Pangkostrad di TNI AD.
Namun pertanyaan besarnya; apakah posisi KSAL dari AAL 1989 kembali lagi ke AAL 1989? Semua kemungkinan bisa saja terjadi, karena peristiwa itu pernah terjadi di Angkatan Darat. Ketika Jenderal Subagyo HS digantikan Jenderal Tyasno Sudarto yang sama-sama lulusan Akmil 1970.
Laksdya Irvansyah (Kepala Bakamla, AAL 1990) juga menjadi ancaman serius bagi kandidat lain. Meski saat ini berada di luar struktur murni TNI AL, sejarah mencatat ia adalah komandan lapangan yang tangguh—pernah menjabat Panglima Kolinlamil, Pangkoarmada III, dan Pangkogabwilhan I.
Sejarah mencatat para Kepala Bakamla seperti kandidat KSAL yang “belum beruntung” menjadi nakhoda AL-1. Ada yang unik mantan Kepala Bakamla Achmad Taufiqoerochman pada 10 Agustus 2025 lalu dinaikkan pangkatnya menjadi Laksamana (kehormatan) bintang empat.
Pada masanya, Taufiq sebagai Wakil KSAL justru lebih diunggulkan daripada Siwi Sukma Adji, teman satu lettingnya. Tetapi takdir mengatakan lain, justru Siwi yang menjadi KSAL pengganti Laksamana Ade Supandi.
Sebagai representasi AAL 1990, Irvansyah bisa menjadi simbol integrasi keamanan laut jika Presiden berani mendobrak tradisi "Kepala Bakamla tidak menjadi KSAL". Kita tunggu saja, apakah ada perubahan tradisi?
Di sisi lain, peluang Laksdya Hersan (Irjen TNI, AAL 1994) diprediksi masih tipis. Meski ia memiliki profil mentereng sebagai mantan Ajudan Presiden Jokowi ("Geng Solo"), faktor usia dan angkatan menjadi penghambat utama. Hersan terlalu muda di tengah antrean senior AAL 1989-1992 yang memiliki rekam jejak komando lebih panjang.
Namun pertanyaan besarnya; apakah posisi KSAL dari AAL 1989 kembali lagi ke AAL 1989? Semua kemungkinan bisa saja terjadi, karena peristiwa itu pernah terjadi di Angkatan Darat. Ketika Jenderal Subagyo HS digantikan Jenderal Tyasno Sudarto yang sama-sama lulusan Akmil 1970.
Irvansyah: Sang Pendobrak Tradisi?
Laksdya Irvansyah (Kepala Bakamla, AAL 1990) juga menjadi ancaman serius bagi kandidat lain. Meski saat ini berada di luar struktur murni TNI AL, sejarah mencatat ia adalah komandan lapangan yang tangguh—pernah menjabat Panglima Kolinlamil, Pangkoarmada III, dan Pangkogabwilhan I.
Sejarah mencatat para Kepala Bakamla seperti kandidat KSAL yang “belum beruntung” menjadi nakhoda AL-1. Ada yang unik mantan Kepala Bakamla Achmad Taufiqoerochman pada 10 Agustus 2025 lalu dinaikkan pangkatnya menjadi Laksamana (kehormatan) bintang empat.
Pada masanya, Taufiq sebagai Wakil KSAL justru lebih diunggulkan daripada Siwi Sukma Adji, teman satu lettingnya. Tetapi takdir mengatakan lain, justru Siwi yang menjadi KSAL pengganti Laksamana Ade Supandi.
Sebagai representasi AAL 1990, Irvansyah bisa menjadi simbol integrasi keamanan laut jika Presiden berani mendobrak tradisi "Kepala Bakamla tidak menjadi KSAL". Kita tunggu saja, apakah ada perubahan tradisi?
Hersan dan Eksklusivitas Korps Pelaut
Di sisi lain, peluang Laksdya Hersan (Irjen TNI, AAL 1994) diprediksi masih tipis. Meski ia memiliki profil mentereng sebagai mantan Ajudan Presiden Jokowi ("Geng Solo"), faktor usia dan angkatan menjadi penghambat utama. Hersan terlalu muda di tengah antrean senior AAL 1989-1992 yang memiliki rekam jejak komando lebih panjang.
Lihat Juga :