Ketika Kekuasaan Kehilangan Penopangnya

Minggu, 04 Januari 2026 - 08:09 WIB
loading...
A A A
Proses semacam ini jarang berlangsung tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari ketegangan yang lama dibiarkan. Ketika sebuah rezim semakin mengandalkan paksaan, ruang bagi keyakinan dan harapan perlahan menyempit. Bahasa politik berubah menjadi bahasa peringatan. Stabilitas didefinisikan sebagai ketiadaan gejolak, bukan sebagai keberlanjutan kepercayaan. Pada titik tertentu, mempertahankan kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebagai beban.

Dalam kondisi seperti ini, diam menjadi strategi bertahan hidup. Menunda keputusan dianggap lebih aman daripada mengambil posisi. Loyalitas digantikan oleh kalkulasi. Kekuasaan pun mulai terlepas dari tangan penguasanya sendiri, bukan karena direbut, tetapi karena dibiarkan. Negara tetap ada, tetapi tidak lagi dipimpin dengan keyakinan.

Banyak pemerintahan gagal membaca fase ini karena terlalu fokus pada ancaman dari luar. Tekanan internasional, oposisi politik, atau campur tangan asing sering dijadikan penjelasan utama atas kegagalan. Narasi semacam ini memberikan kenyamanan psikologis. kekuasaan seolah runtuh karena diserang, bukan karena kehilangan penopang. Padahal, faktor-faktor eksternal baru efektif ketika kondisi internal sudah rapuh.

Dalam kasus Venezuela, tekanan eksternal lebih tepat dipahami sebagai sesuatu yang memanfaatkan situasi, bukan menciptakannya sejak awal. Ia mempercepat proses yang sudah berjalan, bukan memulainya. Tidak ada pintu yang didobrak secara paksa; yang ada adalah pintu yang sejak lama dibiarkan terbuka dari dalam. Tanpa keretakan internal, tekanan dari luar tidak akan cukup untuk menjatuhkan kekuasaan yang masih diyakini oleh para penjaganya.

Yang tersisa kemudian adalah negara yang masih berdiri secara simbolik, tetapi kehilangan kemampuan untuk memerintah secara efektif. Tidak ada keputusan tegas, tidak ada arah yang jelas, dan tidak ada kesediaan kolektif untuk mempertaruhkan diri demi kelangsungan rezim. Aparat menjalankan rutinitas, bukan misi. Kekuasaan berakhir bukan melalui konfrontasi terbuka, melainkan melalui pembiaran yang terakumulasi.

Kejatuhan semacam ini sering luput dari perhatian karena tidak menghasilkan momen dramatis. Tidak ada gambar heroik, tidak ada peristiwa tunggal yang bisa ditunjuk sebagai titik akhir. Namun justru di situlah letak bahayanya. Kekuasaan yang runtuh dalam kesunyian memberi sedikit peringatan, tetapi dampaknya jauh lebih dalam. Ia menunjukkan bahwa negara bisa berhenti berfungsi bahkan ketika semua simbolnya masih ada.

Pelajaran dari Venezuela sebenarnya sederhana, namun tidak nyaman. Kekuasaan jarang runtuh karena diserang dari luar namun runtuh karena berhenti ditopang dari dalam. Selama sebuah pemerintahan masih dipercaya oleh mereka yang menjalankannya, tekanan eksternal dapat dinegosiasikan, dihadapi, atau diserap. Namun ketika kepercayaan itu hilang, kekuasaan akan goyah bahkan tanpa adanya serangan langsung.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Rupiah Tertekan Sore...
Rupiah Tertekan Sore Ini, Dolar AS Menguat Tembus Rp17.930
Saling Gempur, Iran...
Saling Gempur, Iran Serang Target AS di Suriah, Yordania, dan Kuwait
Perkenalkan Sally, Robot...
Perkenalkan Sally, Robot Cantik yang Jadi Guru SMA
Rekomendasi
Purbaya: Stabilitas...
Purbaya: Stabilitas Sistem Keuangan Tetap Terjaga di Semester I 2026
JJ All Star 2026 Jadi...
JJ All Star 2026 Jadi Awal Kebangkitan Equestrian Nasional
Pengetatan Standar Migrasi...
Pengetatan Standar Migrasi BPA Galon Polikarbonat Dipertanyakan, Pakar: Perlu Ada Studi
Berita Terkini
Beredar Isu Menteri...
Beredar Isu Menteri PU Dody Hanggodo Kena Reshuffle Agustus Mendatang, Istana Buka Suara
Tim 9 Dinilai Jadi Harapan...
Tim 9 Dinilai Jadi Harapan Penuntasan Kasus Febrie Adriansyah
Mantan Wakapolri Oegroseno...
Mantan Wakapolri Oegroseno Dipanggil soal Dugaan Korupsi Lahan, Kortastipikor: Masih Penyelidikan
Menteri PU Dody Hanggodo...
Menteri PU Dody Hanggodo Respons Isu Kena Reshuffle: Ampun Bos Ampun
TNI Habema Bergerak...
TNI Habema Bergerak Lebih Cepat, Ancaman Kelompok Bersenjata di Intan Jaya Dicegah
Prabowo: Gaji Hakim...
Prabowo: Gaji Hakim Naik Hampir 300%, Lebih Tinggi dari Singapura
Infografis
Trump Frustrasi pada...
Trump Frustrasi pada Zelensky: Dia Bisa Kehilangan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved