Populisme dan Krisis Musyawarah dalam Demokrasi Kita

Minggu, 04 Januari 2026 - 07:27 WIB
loading...
A A A
Jan-Werner Müller ilmuan politik Jerman dalam bukunya What Is Populism? mengingatkan bahwa populisme pada dasarnya bersifat anti-pluralis: hanya ada satu suara yang dianggap sah, sementara suara lain tidak karena dipandang tidak mewakili klaim mayoritas.

Kaum populis mengklaim hanya merekalah representasi sah dari “rakyat” dan menolak legitimasi pandangan politik lain. Pada konteks ini, demokrasi memang tetap berlangsung secara prosedural, tetapi kehilangan kedalaman deliberatifnya.

Demokrasi Mayoritas vs Musyawarah Mufakat


Jika populisme menawarkan jalan pintas demokrasi melalui klaim mayoritas, demokrasi deliberatif justru mengajak kita meninjau ulang pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana seharusnya keputusan publik dibentuk? Dalam perspektif Jürgen Habermas, legitimasi politik tidak hanya ditentukan oleh hasil pemungutan suara, melainkan oleh kualitas proses komunikatif yang mendahuluinya. Kebijakan publik memperoleh keabsahan sejauh ia lahir dari diskursus rasional yang terbuka, inklusif, dan bebas dari dominasi, di mana argumen diuji secara publik dan dapat dipertanggungjawabkan kepada warga.

Demokrasi, dalam pengertian deliberatif ini, bukan sekadar soal menang atau kalah, melainkan soal membangun pemahaman bersama. Partisipasi warga tidak berhenti di bilik suara, tetapi berlanjut dalam dialog kritis di ruang publik. Dengan demikian, demokrasi tidak direduksi menjadi agregasi preferensi, melainkan menjadi proses pembentukan kehendak kolektif yang berorientasi pada kepentingan umum.

Menariknya, gagasan demokrasi deliberatif ini tidaklah asing dalam konteks Indonesia. Jauh sebelum teori Habermas berkembang, tradisi Nusantara telah mengenal prinsip musyawarah mufakat sebagai dasar pengambilan keputusan bersama. Musyawarah menempatkan dialog, pertimbangan kolektif, dan pencarian kebijaksanaan sebagai inti demokrasi, bukan sekadar perhitungan suara terbanyak.

Perspektif Habermas, Mouffe, dan Bung Karno


Jika Habermas menekankan model demokrasi yang menempatkan musyawarah dan diskursus publik yang rasional sebagai sumber utama legitimasi kebijakan, bukan semata-mata hasil voting atau agregasi kepentingan individual. Semnetara Chantal Mouffe menekankan bahwa konflik tidak bisa dihapuskan oleh proses deliberatif, konflik itu sendiri harus diakui serta diatur melalui institusi demokratis agar tetap produktif. Disinilah sintesa pemikiran Bung Karno menemukan artikulasi politiknya yang paling jelas dalam gagasan Bung Karno tentang demokrasi Indonesia.

Dalam pidato Lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945, Sukarno secara tegas mengkritik demokrasi Barat yang semata-mata bertumpu pada voting mayoritas. Ia menolak demokrasi yang “hanya menghitung kepala”, karena menurutnya demokrasi semacam itu mudah terjebak pada tirani mayoritas dan miskin kebijaksanaan. Bung Karno menegaskan bahwa demokrasi Indonesia adalah demokrasi permusyawaratan, demokrasi yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Transformasi Strategis...
Transformasi Strategis Memasuki Era Quantum Globalisasi 2.0
Boni Hargens Sebut Polri...
Boni Hargens Sebut Polri Presisi Tulang Punggung Demokrasi
Prabowo: Kita Butuh...
Prabowo: Kita Butuh Kritik untuk Perbaiki Diri
Analisa Hukum Putusan...
Analisa Hukum Putusan Perkara Nadiem Makarim
HUT Bhayangkara: Mampukah...
HUT Bhayangkara: Mampukah Polri Melindungi Kritik Tanpa Mengkriminalisasi Warga?
Bumi Eropa Membara,...
Bumi Eropa Membara, Dunia Memilih Bisu: Pelajaran dari Gelombang Panas yang Tak Lagi Anomali
Konsolidasi Kekuatan...
Konsolidasi Kekuatan di Jawa Barat, Perindo Targetkan Basis Kemenangan dan Model Nasional
Aktivis Muda Nasional:...
Aktivis Muda Nasional: Persatuan Bangsa Penting di Tengah Tantangan Global
Forum Kebijakan Kita...
Forum Kebijakan Kita di UGM Dorong Mahasiswa Aktif Kawal Demokrasi dan Pendidikan
Rekomendasi
Lanjutkan Tren Swasembada...
Lanjutkan Tren Swasembada Pangan RI, Mentan: Sudah 8 Komoditas, Tinggal Tiga Belum
Polresta Bandara Soetta...
Polresta Bandara Soetta Gerebek Pabrik Narkoba Internasional Beromzet Rp360 Miliar, Transaksi Pakai Kripto
Meski Ada Ancaman, Kedubes...
Meski Ada Ancaman, Kedubes Iran Ucapkan Terima Kasih kepada Delegasi yang Hadiri Pemakaman Khamenei
Berita Terkini
Hari Ini Prabowo dan...
Hari Ini Prabowo dan PM Singapura Bertemu Bahas Kerja Sama Bilateral hingga Isu Global
Membangun dari Daerah,...
Membangun dari Daerah, Menguatkan Indonesia
6 Brigjen Pol Dimutasi...
6 Brigjen Pol Dimutasi Kapolri ke Lemdiklat Polri pada Juni 2026, Ini Daftar Namanya
Menag Sebut Pesantren...
Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Said Aqil Siradj: Kebangkitan...
Said Aqil Siradj: Kebangkitan Umat Harus Dimulai dari Penguatan Iman yang Hakiki
Dharma Pongrekun Tanggapi...
Dharma Pongrekun Tanggapi Kemenkes: Kalau Semua Sudah Konstitusional, Mengapa Masih Perlu Meyakinkan Publik?
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved