Populisme dan Krisis Musyawarah dalam Demokrasi Kita

Minggu, 04 Januari 2026 - 07:27 WIB
loading...
A A A
Bagi Bung Karno, musyawarah bukanlah upaya menghapus perbedaan, melainkan cara beradab untuk mengelola perbedaan demi kepentingan bersama. Demokrasi tidak boleh berhenti pada kemenangan politik, tetapi harus berujung pada keputusan yang mencerminkan keadilan sosial dan kepentingan seluruh rakyat. Dalam kerangka ini, demokrasi mengandaikan kedewasaan politik: kesediaan mendengar, berargumentasi, dan mencari titik temu, bukan sekadar memaksakan kehendak.

Jika ditarik ke dalam konteks hari ini, gagasan Bung Karno tersebut justru menemukan relevansinya kembali. Di tengah menguatnya populisme dan polarisasi politik, musyawarah mufakat menawarkan koreksi normatif yang penting. Ia mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya soal kecepatan mengambil keputusan, melainkan juga soal kualitas keputusan itu sendiri. Musyawarah menuntut proses yang mungkin lebih lambat, tetapi lebih dalam dan lebih bertanggung jawab.

Dalam hal ini, terdapat irisan yang kuat antara demokrasi deliberatif dan demokrasi permusyawaratan ala Bung Karno. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya ruang publik yang hidup, dialog yang rasional, serta partisipasi warga yang bermakna. Perbedaannya terletak pada konteks dan bahasa teorinya: Habermas merumuskannya dalam kerangka teori komunikasi modern, sementara Bung Karno menanamkannya dalam nilai budaya dan pengalaman historis bangsa Indonesia.

Tantangan demokrasi Indonesia hari ini adalah bagaimana menghidupkan kembali semangat deliberasi tersebut dalam praktik politik yang semakin pragmatis dan populistik. Ketika kebijakan publik lebih ditentukan oleh tekanan mayoritas, survei elektabilitas, atau viralitas media sosial, musyawarah kehilangan tempatnya. Padahal, tanpa deliberasi yang sehat, demokrasi mudah tergelincir menjadi populisme prosedural: sah secara formal, tetapi rapuh secara substansial.

Karena itu, memperkuat demokrasi tidak cukup dengan memperbaiki mekanisme pemilu semata. Yang lebih mendesak adalah membangun kembali ekosistem diskursus publik yang rasional dan inklusif—mulai dari partai politik, parlemen, hingga ruang-ruang diskusi warga. Demokrasi membutuhkan warga yang tidak hanya memilih, tetapi juga berpikir, berdialog, dan terlibat secara kritis.

Pada akhirnya, persoalan demokrasi kita bukanlah memilih antara suara rakyat atau rasionalitas, antara voting atau musyawarah. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan keduanya secara seimbang. Pemilu tetap penting sebagai mekanisme legitimasi formal, tetapi ia harus ditopang oleh proses deliberatif yang kuat agar tidak jatuh ke dalam simplifikasi populistik.

Dalam konteks itu, menghidupkan kembali semangat musyawarah mufakat sebagaimana digagas Bung Karno bukanlah langkah mundur, melainkan justru upaya memperdalam demokrasi. Demokrasi yang matang bukan diukur dari seberapa keras suara mayoritas, melainkan dari seberapa bijak keputusan yang dihasilkan demi kepentingan bersama.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Poltracking Temukan...
Poltracking Temukan PDIP Puas Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Konsolidasi Kekuatan...
Konsolidasi Kekuatan di Jawa Barat, Perindo Targetkan Basis Kemenangan dan Model Nasional
Aktivis Muda Nasional:...
Aktivis Muda Nasional: Persatuan Bangsa Penting di Tengah Tantangan Global
Forum Kebijakan Kita...
Forum Kebijakan Kita di UGM Dorong Mahasiswa Aktif Kawal Demokrasi dan Pendidikan
Rekomendasi
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Belanda vs Jepang 2-2, Kamada Buyarkan Kemenangan De Oranje
Selamat Tahun Baru Islam...
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
Turnamen Futsal Bertajuk...
Turnamen Futsal Bertajuk Okezone National Championship 2026 Seri Jabodetabek Selesai Digelar
Berita Terkini
Mengapa Ekonomi Solid,...
Mengapa Ekonomi Solid, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Jumhur Dorong Penanaman...
Jumhur Dorong Penanaman Bambu untuk Serap Emisi dan Tingkatkan Penghasilan Warga
Presiden Jerman Kunjungi...
Presiden Jerman Kunjungi Indonesia, Dijadwalkan ke Istiqlal dan Katedral
Walhi Minta Pembahasan...
Walhi Minta Pembahasan Revisi UU HAM Ditunda
WNI Dianiaya di Malaysia,...
WNI Dianiaya di Malaysia, Kemlu Sebut 4 Pelaku Sudah Diamankan
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved