Refleksi Akhir Tahun Asia Timur: Selat Taiwan dari Misreading ke Strategic Signaling

Rabu, 31 Desember 2025 - 16:32 WIB
loading...
Refleksi Akhir Tahun...
Harryanto Aryodiguno, Ph.D, Associate Professor of International Relations President University, Indonesia. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Harryanto Aryodiguno, Ph.D
Associate Professor of International Relations
President University, Indonesia

TIGA puluh tahun lalu, pada penghujung 1995, Selat Taiwan berada dalam ketegangan yang sunyi. Tidak ada misil yang jatuh ke laut, tidak ada armada kapal induk yang mondar-mandir di perairan sekitar, dan belum ada latihan militer lintas matra berskala raksasa.

Namun justru dalam kesunyian itulah fondasi konflik hari ini mulai mengeras. Tahun 1995 bukan sekadar pendahulu krisis militer 1996, melainkan momen ketika Taiwan dan China mulai berbicara dalam bahasa politik yang berbeda—dan tidak pernah benar-benar kembali ke kamus yang sama.

Pada akhir 1995, Taiwan berada di bawah kepemimpinan Lee Teng-hui, sosok transisional yang mendorong demokratisasi internal sekaligus redefinisi identitas politik Taiwan. Sementara itu, Beijing di bawah Jiang Zemin memandang setiap pergeseran bahasa politik di Taipei sebagai ancaman eksistensial terhadap keutuhan negara. Konflik saat itu belum meledak dalam bentuk militer terbuka, tetapi telah matang secara konseptual: kedua pihak tidak lagi berbeda pendapat, melainkan berbeda cara memahami realitas politik itu sendiri.

1995: Ketika Taiwan Menjadi Subjek Politik
Bagi Taiwan pada 1995, hubungan dengan China tidak lagi sekadar soal “siapa mewakili China secara sah”, melainkan siapa yang berhak menentukan masa depan politik sebuah masyarakat. Demokratisasi—yang berpuncak pada pemilu presiden langsung pertama tahun 1996—memberikan legitimasi baru yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa kedaulatan versi Beijing.

Taiwan melihat dirinya sebagai subjek politik yang matang secara demokratis, bukan provinsi yang memberontak. Konsep “One China” masih dipertahankan secara formal, tetapi ditafsirkan secara semakin ambigu dan defensif. Di mata elite Taiwan, stabilitas tidak lagi dijaga melalui keseragaman nasional, melainkan melalui penghormatan terhadap pilihan rakyat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Mengapa Pendonor Darah...
Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?
Dari SPBU ke Meja Makan:...
Dari SPBU ke Meja Makan: Rantai Dampak Kenaikan BBM terhadap Kesejahteraan
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Rekomendasi
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Saat Messi Bersinar,...
Saat Messi Bersinar, Ronaldo Justru Tenggelam
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Berita Terkini
Resmi Masuk Daftar Belanja...
Resmi Masuk Daftar Belanja TNI AU, Ini Spesifikasi Chengdu J-10C Buatan China yang Akan Perkuat Langit Indonesia
SGU-Endress+Hauser Kembangkan...
SGU-Endress+Hauser Kembangkan Talenta melalui Beasiswa, Magang, dan Program Vokasi
KPK Buka Peluang Periksa...
KPK Buka Peluang Periksa Pihak BPK, Dalami Peran Eks Staf Ahli Bobby Adhityo Rizaldi
Kisah Kasus Nadiem Dalam...
Kisah Kasus Nadiem Dalam Perkara Korupsi
Eks Wakil BGN Sony Sonjaya...
Eks Wakil BGN Sony Sonjaya Diperiksa Kejagung Hari Ini
Slopaganda: Propaganda...
Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved