Pancasila di Persimpangan Algoritma

Kamis, 18 Desember 2025 - 17:30 WIB
loading...
A A A
Pemikiran Hannah Arendt tentang banality of evil—yaitu kejahatan dapat dilakukan oleh orang biasa yang tidak jahat secara inheren melainkan karena ketidakmampuan berfikir kritis tanpa refleksi moral—related dengan kondisi di era algoritma yang menghadirkan banalitas kebenaran di mana informasi tidak lagi dinilai dari kebenaran faktual atau nilai etiknya, melainkan dari seberapa sering ia dibagikan dan seberapa kuat resonansi emosionalnya. Orang menjadi banal ketika mereka berhenti berpikir, berhenti bertanya, dan hanya menjadi "roda penggerak" dari sistem algoritma,akhirnya mengabaikan konsekuensi moral dari tindakan mereka.

Dalam iklim seperti ini, disinformasi politik, teori konspirasi, dan manipulasi visual berbasis AI menemukan lahan subur. Demokrasi berjalan di atas fondasi pengetahuan yang rapuh. Dalam lanskap semacam ini, Pancasila kerap direduksi menjadi slogan seremonial. Ia hadir dalam pidato, baliho, dan peringatan resmi, tetapi absen dalam praktik komunikasi publik sehari-hari, terutama di ruang digital. Padahal, persoalan utama disrupsi informasi bukan semata-mata soal teknologi, melainkan krisis etika bersama.

Tanpa kerangka nilai yang kokoh, algoritma akan terus mengarahkan nalar publik ke jurang sensasionalisme dan konflik. Pancasila berisiko menjadi simbol kosong jika tidak dihidupkan sebagai pedoman etis yang operasional. Padahal sejatinya, jika dipahami secara substantif, Pancasila justru menyediakan perangkat etis untuk menghadapi disrupsi ini.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan bahwa sebagai bangsa yang bertuhan dalam melaksanakan kebebasan berekspresi tidak boleh terlepas dari tanggung jawab moral. Dalam konteks demokrasi digital, kebebasan berbicara tidak dapat dijadikan pembenaran untuk manipulasi informasi, fitnah politik, atau eksploitasi sentimen identitas demi kemenangan elektoral. Tujuan politik tidak menghalalkan segala cara.

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan bahwa setiap interaksi digital tetap melibatkan martabat manusia. Di balik setiap akun media sosial ada individu yang memiliki hak untuk dihormati. Praktik perundungan, ujaran kebencian, dan dehumanisasi—yang sering diperkuat oleh anonimitas dan algoritma—bertentangan dengan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Kampanye berbasis AI yang memperlakukan pemilih semata sebagai objek data, bukan subjek rasional, juga menyimpan persoalan etik yang serius.

Sila Persatuan Indonesia menjadi antitesis langsung terhadap fragmentasi algoritmik. Persatuan tidak berarti meniadakan perbedaan pandangan politik, tetapi menolak eksploitasi perbedaan untuk memecah belah bangsa. Dalam demokrasi, perbedaan pilihan dan pandangan adalah keniscayaan. Namun ketika perbedaan itu direkayasa dan diperkeras demi trafik dan dukungan digital, kohesi sosial berada dalam ancaman. Pancasila menuntut etika kompetisi politik yang menjaga persatuan, bahkan setelah pemilu usai.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Mengapa Pendonor Darah...
Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?
Dari SPBU ke Meja Makan:...
Dari SPBU ke Meja Makan: Rantai Dampak Kenaikan BBM terhadap Kesejahteraan
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Peringatan Hari Lahir...
Peringatan Hari Lahir Pancasila, Yuke Yurike Ajak Generasi Muda Perkuat Rasa Cinta Tanah Air
UP Bentuk LPIP untuk...
UP Bentuk LPIP untuk Kawal Implementasi Nilai Pancasila di Kampus
Polemik Film Pesta Babi,...
Polemik Film Pesta Babi, Aktivis Jakarta: Pancasila Mengajarkan Kritik Beradab
Rekomendasi
Menag: Insentif Guru...
Menag: Insentif Guru Madrasah Non-ASN Akan Cair Akhir Juni 2026
Momen Menarik Presiden...
Momen Menarik Presiden FIFA Masuk Kamar Ganti Timnas Iran di Piala Dunia 2026
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi dan ESG, TelkomGroup Rilis Laporan Keberlanjutan 2025 untuk Masa Depan Digital
Berita Terkini
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Dharma Pongrekun Rombak...
Dharma Pongrekun Rombak 85% Gugatan UU Kesehatan di MK
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Kebebasan Berpendapat,...
Kebebasan Berpendapat, Rembuk Pemuda Ajak Generasi Muda Rawat Nilai Intelektual
KPK Periksa Mantan Stafsus...
KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Yaqut terkait Kasus Kuota Haji
Kapolda Riau Gaungkan...
Kapolda Riau Gaungkan Polisi Penjaga Peradaban di Dies Natalis Ke-80 STIK Polri
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved