Pancasila di Persimpangan Algoritma

Kamis, 18 Desember 2025 - 17:30 WIB
loading...
Pancasila di Persimpangan...
Karyono Wibowo, Sekretaris Dewan Pakar DPP PA GMNI. Foto/Istimewa
A A A
Karyono Wibowo
Sekretaris Dewan Pakar DPP PA GMNI

ARUS informasi saat ini tidak lagi mengalir secara netral. Ia disaring, dipilah, dan diarahkan oleh algoritma—mekanisme matematis yang bekerja di balik layar platform digital untuk menentukan apa yang kita lihat, baca, dan percayai. Dalam kehidupan sehari-hari, algoritma ikut menentukan berita apa yang muncul di beranda, isu apa yang dianggap penting, bahkan emosi apa yang dibangkitkan. Dalam situasi semacam ini, Pancasila tidak sedang berhadapan dengan ideologi lain secara frontal, tatap muka (vis a vis), melainkan diuji dalam senyap di ruang digital: apakah ia mampu bertahan sebagai kerangka etis di tengah logika algoritmik yang mengutamakan atensi, emosi, dan keterbelahan?

Ujian tersebut semakin nyata dalam konteks demokrasi elektoral. Pemilu kini tidak hanya ditentukan oleh adu gagasan dan rekam jejak kandidat, tetapi juga oleh bagaimana perhatian publik dikelola di ruang digital. Kampanye politik memanfaatkan media sosial, analisis data, dan kecerdasan artifisial (AI) untuk memproduksi pesan secara masif dan terpersonalisasi. Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa praktik micro-targeting politik berbasis data personal telah menjadi fenomena global, dengan risiko manipulasi persepsi pemilih yang sulit terdeteksi secara kasat mata.

Algoritma media sosial pada dasarnya dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science menunjukkan bahwa konten bermuatan emosi—terutama kemarahan dan ketakutan—menyebar jauh lebih cepat dibandingkan informasi faktual yang netral (Vosoughi, Roy, & Aral). Logika ini mendorong komunikasi politik yang sensasional dan simplistis. Akibatnya, ruang publik digital semakin terfragmentasi. Individu terkurung dalam echo chamber, hanya berinteraksi dengan pandangan yang mengafirmasi keyakinannya sendiri.

Cass Sunstein mengingatkan bahwa kondisi ini berbahaya bagi demokrasi karena warga tidak lagi berbagi kerangka fakta yang sama sebagai dasar diskusi publik. Fragmentasi tersebut berkelindan dengan polarisasi politik dan sosial. Algoritma tidak menciptakan perbedaan, tetapi memperdalam dan memperkerasnya. Riset Iyengar dan koleganya menunjukkan bahwa polarisasi kontemporer tidak lagi semata perbedaan ideologi, melainkan polarisasi afektif—perasaan tidak suka, curiga, bahkan benci terhadap kelompok lain.

Dalam konteks pemilu, lawan politik dengan mudah dipersepsikan sebagai ancaman eksistensial, bukan sebagai sesama warga negara yang sah. Demokrasi pun bergeser dari ruang deliberasi menuju arena konflik emosional yang terus direproduksi oleh mesin algoritmik. Di sinilah banalitas kebenaran menemukan momentumnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Birokrasi dan Paradoks...
Birokrasi dan Paradoks Belanja Negara
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Peringatan Hari Lahir...
Peringatan Hari Lahir Pancasila, Yuke Yurike Ajak Generasi Muda Perkuat Rasa Cinta Tanah Air
UP Bentuk LPIP untuk...
UP Bentuk LPIP untuk Kawal Implementasi Nilai Pancasila di Kampus
Polemik Film Pesta Babi,...
Polemik Film Pesta Babi, Aktivis Jakarta: Pancasila Mengajarkan Kritik Beradab
Rekomendasi
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Iran dan Oman Tegaskan...
Iran dan Oman Tegaskan Komitmen Navigasi Maritim Aman melalui Selat Hormuz setelah Kesepakatan dengan AS
Budiman Sudjatmiko Ungkap...
Budiman Sudjatmiko Ungkap Dialog dengan Mahasiswa di UGM Gagal Terjadi: Ada Penghakiman
Berita Terkini
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Pesan Said Didu untuk...
Pesan Said Didu untuk Prabowo: Waktu Melakukan Akomodasi Politik Sudah Lewat
Ditegur Delegasi Belanda...
Ditegur Delegasi Belanda karena Merokok saat KMB, Jawaban Agus Salim Ini Membuat Mereka Terdiam
ART asal Indonesia Dianiaya...
ART asal Indonesia Dianiaya di Malaysia, DPR Minta Kemlu Lobi agar Pelaku Dihukum Berat
Said Didu: Jangan Juga...
Said Didu: Jangan Juga Semua Orang Kritis Ditakut-takuti
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved