Pancasila di Persimpangan Algoritma

Kamis, 18 Desember 2025 - 17:30 WIB
loading...
A A A
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan menjadi semakin relevan di era algoritma. Jürgen Habermas menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan ruang publik deliberatif, tempat argumen diuji secara rasional dan inklusif. Demokrasi tidak dapat direduksi menjadi trending topic, likes, atau views. Ketika kampanye politik hanya mengejar viralitas, kualitas musyawarah publik tergerus, dan kebijaksanaan digantikan oleh viralitas.

Menurut Habermas, demokrasi hanya dapat bekerja secara sehat apabila warga negara memiliki ruang untuk bertukar argumen secara rasional, setara, dan bebas dari dominasi kekuasaan—baik kekuasaan negara maupun pasar. Ketika ruang publik dikolonisasi oleh logika algoritma, deliberasi publik kehilangan kedalaman dan orientasi normatifnya. Dalam konteks media sosial yang digerakkan algoritma, peringatan Habermas menjadi sangat relevan: demokrasi berisiko direduksi menjadi sekadar arus opini yang dikendalikan popularitas dan kecepatan, bukan proses musyawarah yang berlandaskan kebijaksanaan.

Adapun sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menyingkap dimensi struktural disrupsi informasi. Data OECD menunjukkan bahwa rendahnya literasi digital berkorelasi dengan tingginya kerentanan terhadap disinformasi. Tidak semua warga memiliki kemampuan yang sama untuk memilah informasi atau memahami cara kerja algoritma. Dalam situasi ini, negara tidak boleh absen. Pendidikan literasi digital, regulasi kampanye berbasis teknologi, serta perlindungan terhadap hak-hak warga merupakan bagian dari tanggung jawab negara.

Menempatkan Pancasila sebagai kerangka etis berarti menggeser fokus dari sekadar “melawan hoaks” ke membangun ekosistem informasi yang beradab. Ini mencakup transparansi algoritma, akuntabilitas platform digital, serta keberanian negara dan masyarakat sipil untuk menuntut etika teknologi, sebagaimana diingatkan oleh para pengkaji tata kelola platform digital seperti Tarleton Gillespie. AI dan media sosial bukan ruang netral, melainkan ruang kekuasaan yang harus diatur secara demokratis.

Tanpa langkah-langkah tersebut, ketahanan ideologi akan semakin rapuh, kalah cepat dari algoritma yang menguasai ruang digital dan mengendalikan logika publik. Demokrasi pun berisiko kehilangan ruhnya—berubah menjadi sekadar prosedur elektoral yang dikendalikan oleh arus informasi yang tidak sehat.

Persimpangan algoritma adalah momen pilihan. Apakah Pancasila akan tetap menjadi rujukan etik yang hidup, atau sekadar penanda identitas formal di tengah banjir informasi digital? Jawabannya tidak terletak pada nostalgia ideologis, melainkan pada keberanian kolektif—negara, platform, dan warga—untuk menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam praktik komunikasi politik dan digital sehari-hari. Di situlah ketahanan ideologi benar-benar diuji: bukan di ruang upacara, tetapi di linimasa kita, tempat demokrasi Indonesia hari ini dijalankan.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Tantangan Tata Kelola...
Tantangan Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Ketahanan Nasional
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
Festival Anak Pancasila...
Festival Anak Pancasila 2026 Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Peringatan Hari Lahir...
Peringatan Hari Lahir Pancasila, Yuke Yurike Ajak Generasi Muda Perkuat Rasa Cinta Tanah Air
UP Bentuk LPIP untuk...
UP Bentuk LPIP untuk Kawal Implementasi Nilai Pancasila di Kampus
Rekomendasi
Indonesia Lampaui Target...
Indonesia Lampaui Target di Kejuaraan Tinju Asia U-19 & U-23 2026, Raih 7 Medali
Iran Tak Punya Rencana...
Iran Tak Punya Rencana Negosiasi dan akan Terus Balas Serangan AS
Mbah Dimas Bongkar Kisah...
Mbah Dimas Bongkar Kisah Keluarga Kehilangan Anak, Diduga Berkaitan dengan Perjanjian Gaib
Berita Terkini
Kasus Eks Jampidsus...
Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Diyakini Terus Berkembang, Eks Penyidik KPK: Ikuti Aliran Uangnya
BNPB: Karhutla Landa...
BNPB: Karhutla Landa Tiga Daerah, Terparah di Banjarbaru Kalsel
Verifikasi Laporan Gratifikasi...
Verifikasi Laporan Gratifikasi Raja Juli Rampung, KPK: Kini Didalami di Tahap Penindakan
KDKMP Bakal Jadi Pusat...
KDKMP Bakal Jadi Pusat Ekonomi Desa, Mendes: 80% Penghasilan Dikembalikan ke Masyarakat
Tuntas Verifikasi Laporan...
Tuntas Verifikasi Laporan Gratifikasi Raja Juli, KPK: Hasil Hanya Disampaikan ke Pelapor
Kejagung Tunjuk 9 Eks...
Kejagung Tunjuk 9 Eks Jaksa KPK Tangani Kasus Febrie, Pakar: Harus Jawab Harapan Masyarakat
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved