Mitigasi Risiko Perekonomian Global
Rabu, 17 Desember 2025 - 10:26 WIB
loading...
A
A
A
Namun, pada saat jatuh tempo pembayaran utang membuat pengeluaran menurun dan harga aset juga turun secara signifikan. Akibatnya, pendapatan dari aset produktif juga mengalami penurunan. Investor merasa situasi ekonomi lebih buruk.
Fenomena ini membuat pertumbuhan utang pemerintah sebagai persentase terhadap GDP meningkat sangat signifikan. Sebagai contoh, rasio utang pemerintah AS terhadap GDP telah mencapai 123%, Jepang jauh lebih tinggi sekitar 235%, Singapura sebesar 175%, Inggris 104% dan lainnya (IMF, 2025).
Peningkatan risiko perekonomian global tahun 2026 berdampak pada pelambatan pertumbuhan ekonomi global tahun 2026, yaitu diperkirakan tumbuh sekitar 2,6%. Lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2024 sebesar 2,9 persen (UNCTAD, 2025).
Proyeksi pelambatan pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 dan 2026 sejalan dengan kecenderungan pelambatan pertumbuhan ekonomi global selama dua dekade terakhir. Di mana rata-rata pertumbuhan ekonomi global periode 2004-2007 sekitar 4,4%, turun menjadi 3,0% pada periode 2011-2019 dan 2,7% pada periode 2023-2026.
Tren pertumbuhan ekonomi global sejalan dengan tren pertumbuhan ekonomi China sebagai perekonomian terbesar kedua dunia, yaitu dari rata-rata lebih besar 10% selama periode 2004-2011 menjadi hanya 5,0% selama periode 2023-2026. Bahkan perekonomian China mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 14,2% tahun 2007.
Hal yang sama juga dialami oleh perekonomian AS sebagai perekonomian terbesar dunia, yaitu mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dari 3,8% tahun 2004 menjadi sekitar 2,9% tahun 2023. Sekitar 2,8% tahun 2024, lalu diperkirakan kembali melambat menjadi 1,8% tahun 2025 dan 1,5% tahun 2026.
Perekonomian UE juga mengalami kecenderungan yang sama, yaitu tumbuh sekitar 3,6% tahun 2022, lalu turun menjadi 0,4% tahun 2023 karena perang Ukraina. Selanjutnya diproyeksi menjadi 1,3% tahun 2025 dan 1,4% tahun 2026.
Pola yang sama juga terjadi di negara-negara EMEs (di luar China), yaitu tumbuh sekitar 6,5-7,1% periode 2004 -2007, menurun menjadi 3,8% paska pandemi Covid-19 pada tahun 2023. Lalu menjadi 3,7% tahun 2024, dan diperkirakan stagnan sekitar 3,7% tahun 2025-2026 (UNCTAD, 2025).
Mitigasi Risiko Global
Sementara dalam kasus Indonesia, kecenderungannya juga sama, yaitu mengalami pertumbuhan rata-rata 6,0% selama periode 2004-2007, lalu menurun menjadi 4,5% tahun 2009 karena krisis keuangan global. Selanjutnya, dengan kebijakan kontra-siklus yang tepat, pertumbuhan ekonomi nasional kembali naik menjadi sekitar 6,0% tahun 2010-2013.
Sejak periode 2014-2024, kecenderungan pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali mengalami penurunan, yaitu menjadi hanya sekitar 5,0%. Diperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 4,9-5,1% pada 2025 dan 2026.
Fenomena ini membuat pertumbuhan utang pemerintah sebagai persentase terhadap GDP meningkat sangat signifikan. Sebagai contoh, rasio utang pemerintah AS terhadap GDP telah mencapai 123%, Jepang jauh lebih tinggi sekitar 235%, Singapura sebesar 175%, Inggris 104% dan lainnya (IMF, 2025).
Peningkatan risiko perekonomian global tahun 2026 berdampak pada pelambatan pertumbuhan ekonomi global tahun 2026, yaitu diperkirakan tumbuh sekitar 2,6%. Lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2024 sebesar 2,9 persen (UNCTAD, 2025).
Proyeksi pelambatan pertumbuhan ekonomi global tahun 2025 dan 2026 sejalan dengan kecenderungan pelambatan pertumbuhan ekonomi global selama dua dekade terakhir. Di mana rata-rata pertumbuhan ekonomi global periode 2004-2007 sekitar 4,4%, turun menjadi 3,0% pada periode 2011-2019 dan 2,7% pada periode 2023-2026.
Tren pertumbuhan ekonomi global sejalan dengan tren pertumbuhan ekonomi China sebagai perekonomian terbesar kedua dunia, yaitu dari rata-rata lebih besar 10% selama periode 2004-2011 menjadi hanya 5,0% selama periode 2023-2026. Bahkan perekonomian China mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 14,2% tahun 2007.
Hal yang sama juga dialami oleh perekonomian AS sebagai perekonomian terbesar dunia, yaitu mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dari 3,8% tahun 2004 menjadi sekitar 2,9% tahun 2023. Sekitar 2,8% tahun 2024, lalu diperkirakan kembali melambat menjadi 1,8% tahun 2025 dan 1,5% tahun 2026.
Perekonomian UE juga mengalami kecenderungan yang sama, yaitu tumbuh sekitar 3,6% tahun 2022, lalu turun menjadi 0,4% tahun 2023 karena perang Ukraina. Selanjutnya diproyeksi menjadi 1,3% tahun 2025 dan 1,4% tahun 2026.
Pola yang sama juga terjadi di negara-negara EMEs (di luar China), yaitu tumbuh sekitar 6,5-7,1% periode 2004 -2007, menurun menjadi 3,8% paska pandemi Covid-19 pada tahun 2023. Lalu menjadi 3,7% tahun 2024, dan diperkirakan stagnan sekitar 3,7% tahun 2025-2026 (UNCTAD, 2025).
Mitigasi Risiko Global
Sementara dalam kasus Indonesia, kecenderungannya juga sama, yaitu mengalami pertumbuhan rata-rata 6,0% selama periode 2004-2007, lalu menurun menjadi 4,5% tahun 2009 karena krisis keuangan global. Selanjutnya, dengan kebijakan kontra-siklus yang tepat, pertumbuhan ekonomi nasional kembali naik menjadi sekitar 6,0% tahun 2010-2013.
Sejak periode 2014-2024, kecenderungan pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali mengalami penurunan, yaitu menjadi hanya sekitar 5,0%. Diperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 4,9-5,1% pada 2025 dan 2026.
Lihat Juga :