Kebijakan Moneter, Rupiah, dan Daya Beli: Stabilitas yang Tak Lagi Cukup
Senin, 08 Desember 2025 - 14:10 WIB
loading...
A
A
A
Tekanan paling dirasakan oleh kelas menengah, yaitu kelompok ini tidak menerima subsidi langsung, tetapi paling sensitif terhadap inflasi pangan dan energi, sekaligus terikat cicilan yang dipengaruhi suku bunga. Mereka adalah penyumbang konsumsi terbesar dalam PDB Indonesia, namun justru yang paling terpukul ketika rupiah melemah atau bunga naik. Ketika konsumsi kelas menengah melemah, dampaknya bukan hanya pada rumah tangga, tetapi pada puluhan juta unit usaha yang bergantung pada permintaan domestik.
Pertanyaan pentingnya bukan lagi “apa yang dilakukan BI?”, tetapi “mengapa ekonomi kita masih rentan?”. Sistem ekonomi yang rapuh membuat instrumen moneter menjadi semacam peredam jangka pendek, bukan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah.
Dibutuhkan reformasi struktural yang berjalan beriringan, perbaikan logistik pangan, penguatan industri substitusi impor, efisiensi energi, serta kebijakan fiskal yang lebih tepat sasaran untuk menopang daya beli kelompok rentan dan kelas menengah.
BI perlu tetap menjaga stabilitas, tetapi tidak bisa berdiri sendiri. Pemerintah harus menyadari bahwa stabilitas makro bukanlah tujuan akhir, melainkan prasyarat bagi kesejahteraan yang nyata. Selama fondasi ekonomi tidak diperkuat, kebijakan moneter hanya akan menjadi kerja keras yang menahan gejolak sesaat sementara masyarakat tetap merasakan beban ekonomi yang berat.
Untuk Indonesia hari ini, stabilitas saja sudah tidak cukup. Indonesia membutuhkan keberanian untuk memperkuat struktur ekonomi agar setiap kebijakan moneter dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
Pertanyaan pentingnya bukan lagi “apa yang dilakukan BI?”, tetapi “mengapa ekonomi kita masih rentan?”. Sistem ekonomi yang rapuh membuat instrumen moneter menjadi semacam peredam jangka pendek, bukan solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah.
Dibutuhkan reformasi struktural yang berjalan beriringan, perbaikan logistik pangan, penguatan industri substitusi impor, efisiensi energi, serta kebijakan fiskal yang lebih tepat sasaran untuk menopang daya beli kelompok rentan dan kelas menengah.
BI perlu tetap menjaga stabilitas, tetapi tidak bisa berdiri sendiri. Pemerintah harus menyadari bahwa stabilitas makro bukanlah tujuan akhir, melainkan prasyarat bagi kesejahteraan yang nyata. Selama fondasi ekonomi tidak diperkuat, kebijakan moneter hanya akan menjadi kerja keras yang menahan gejolak sesaat sementara masyarakat tetap merasakan beban ekonomi yang berat.
Untuk Indonesia hari ini, stabilitas saja sudah tidak cukup. Indonesia membutuhkan keberanian untuk memperkuat struktur ekonomi agar setiap kebijakan moneter dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.
(poe)
Lihat Juga :