Idealisme Eks Tapol PKI Asal Jawa di Pulau Buru Maluku
Kamis, 02 Oktober 2025 - 17:59 WIB
loading...
A
A
A
Gerak gerik para Tapol PKI selalu diawasi oleh selain pasukan Satgas Angkatan Darat, para Tapol PKI juga diawasi intelijen yang disusupkan bersama-sama dengan para Tapol PKI di barak. Intel berbaur bersama para Tapol PKI, mereka melakukan aktivitas yang sama dengan Tapol PKI. Di saat Tapol PKI mendapatkan hukuman, maka para intel juga dihukum dan dipukuli bersama dengan para Tapol PKI, sehingga Tapol PKI tidak mencurigai para intel yang disusupkan bersama mereka.
Program Inrehab di Pulau Buru berlangsung sampai tahun 1976 sebelum mereka dibebaskan dari Program Inrehab Para Tapol PKI menjalani prosesi ikrar dan sumpah setia kepada NKRI. Setelah itu mereka dipulangkan ke tempat asalnya di Pulau Jawa. Tidak semua eks Tapol PKI ingin kembali ke Pulau Jawa, ada 300 eks Tapol PKI yang memilih menetap di Pulau Buru melanjutkan pekerjaan menggarap lahan pertanian.
Alasan kenapa eks Tapol PKI tidak mau kembali ke Jawa karena dengan status sebagai eks Tapol PKI mereka dikucilkan oleh keluarga dan masyakat di kampungnya. Banyak mantan Tapol PKI yang kembali ke Jawa mendapati istrinya telah menikah dengan pria lain, mereka mengalami tekanan psikologis dan sosial.
Para Tapol melihat Pulau Buru memberi harapan masa depan mereka untuk menjalani kehidupan baru, mereka bisa menggarap sawah, lahan pertanian. Kalau kembali ke Pulau Jawa mereka mengalami himpinan ekonomi dan sulit mencari pekerjaan dengan status sebagai eks Tapol PKI.
Dengan bekerja keras, tekun, membuka hutan menjadi lahan pertanian produktif, banyak dari anak-anak eks Tapol PKI yang berhasil dalam kehidupannya. Anak eks Tapol PKI berhasil kuliah di perguruan ternama di Pulau Jawa seperti UGM Yogyakarta. Anak dan cucu eks Tapol PKI banyak yang menjadi wirausaha, PNS, TNI-Polri.
Di tahun 2013, penulis bersama tim stasiun televisi swasta berkesempatan mewancarai 3 mantan Tapol PKI di Pulau Buru yang masih hidup, mereka sudah berusia senja. Dalam tulisan ini nama para informan penulis samarkan.
Informan kami bernama Pak Sumarno, beliau salah satu Tapol PKI termuda di usia 16 tahun mengikuti program Inrehab. Pak Sumarno seorang pelajar SMP berprestasi yang mendapat beasiswa dari organisasi sayap PKI. Dia tidak menjangka beasiswa yang didapatkan dari organisasi sayap PKI menjadi musibah saat peristiwa G 30 S/ PKI dan mengantarkannya ke Pulau Buru.
Pak Sumarno menceritakan pengalamannya bersama Pramoedya Ananta Toer. Sumarno mengatakan Pramoedya Ananta Toer, memiliki kemampuan menulis yang luar biasa dalam keterbatasan dan pengawasan ketat tentara. Pramoedya masih sempat menulis dengan menggunakan sisa kertas semen yang didapati.
Tulisan Pramoedya menggambarkan penderitaan yang dialami oleh para eks Tapol PKI saat menjalani program Inrehab. Tulisan Pramoedya dibukukan dengan judul antara lain Tetralogi Pulau Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.
Kami juga mewawancarai salah seorang eks Tapol PKI yang bernama Pak Cipto. Pak Cipto salah satu Tapol yang berhasil dan menjadi tokoh masyarakat. Pak Cipto berhasil menyekolahkan anak di kampus ternama Pulau Jawa, kedua anak perempuannya kuliah di Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta dan kampus FKIP Muhammadiyah Purwokerto Jawa Tengah.
Program Inrehab di Pulau Buru berlangsung sampai tahun 1976 sebelum mereka dibebaskan dari Program Inrehab Para Tapol PKI menjalani prosesi ikrar dan sumpah setia kepada NKRI. Setelah itu mereka dipulangkan ke tempat asalnya di Pulau Jawa. Tidak semua eks Tapol PKI ingin kembali ke Pulau Jawa, ada 300 eks Tapol PKI yang memilih menetap di Pulau Buru melanjutkan pekerjaan menggarap lahan pertanian.
Alasan kenapa eks Tapol PKI tidak mau kembali ke Jawa karena dengan status sebagai eks Tapol PKI mereka dikucilkan oleh keluarga dan masyakat di kampungnya. Banyak mantan Tapol PKI yang kembali ke Jawa mendapati istrinya telah menikah dengan pria lain, mereka mengalami tekanan psikologis dan sosial.
Para Tapol melihat Pulau Buru memberi harapan masa depan mereka untuk menjalani kehidupan baru, mereka bisa menggarap sawah, lahan pertanian. Kalau kembali ke Pulau Jawa mereka mengalami himpinan ekonomi dan sulit mencari pekerjaan dengan status sebagai eks Tapol PKI.
Dengan bekerja keras, tekun, membuka hutan menjadi lahan pertanian produktif, banyak dari anak-anak eks Tapol PKI yang berhasil dalam kehidupannya. Anak eks Tapol PKI berhasil kuliah di perguruan ternama di Pulau Jawa seperti UGM Yogyakarta. Anak dan cucu eks Tapol PKI banyak yang menjadi wirausaha, PNS, TNI-Polri.
Di tahun 2013, penulis bersama tim stasiun televisi swasta berkesempatan mewancarai 3 mantan Tapol PKI di Pulau Buru yang masih hidup, mereka sudah berusia senja. Dalam tulisan ini nama para informan penulis samarkan.
Informan kami bernama Pak Sumarno, beliau salah satu Tapol PKI termuda di usia 16 tahun mengikuti program Inrehab. Pak Sumarno seorang pelajar SMP berprestasi yang mendapat beasiswa dari organisasi sayap PKI. Dia tidak menjangka beasiswa yang didapatkan dari organisasi sayap PKI menjadi musibah saat peristiwa G 30 S/ PKI dan mengantarkannya ke Pulau Buru.
Pak Sumarno menceritakan pengalamannya bersama Pramoedya Ananta Toer. Sumarno mengatakan Pramoedya Ananta Toer, memiliki kemampuan menulis yang luar biasa dalam keterbatasan dan pengawasan ketat tentara. Pramoedya masih sempat menulis dengan menggunakan sisa kertas semen yang didapati.
Tulisan Pramoedya menggambarkan penderitaan yang dialami oleh para eks Tapol PKI saat menjalani program Inrehab. Tulisan Pramoedya dibukukan dengan judul antara lain Tetralogi Pulau Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.
Kami juga mewawancarai salah seorang eks Tapol PKI yang bernama Pak Cipto. Pak Cipto salah satu Tapol yang berhasil dan menjadi tokoh masyarakat. Pak Cipto berhasil menyekolahkan anak di kampus ternama Pulau Jawa, kedua anak perempuannya kuliah di Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta dan kampus FKIP Muhammadiyah Purwokerto Jawa Tengah.
Lihat Juga :