Perilaku Flexing Pejabat Publik dan Publik Figur Hubungannya Trauma Kemiskinan
Selasa, 16 September 2025 - 11:11 WIB
loading...
A
A
A
Fenomena "flexing" ini tidak hanya dilakukan oleh individu dengan status ekonomi tinggi, melainkan juga oleh mereka dari latar belakang ekonomi rendah dan status sosial yang berusaha menaikkan citra status sosialnya melalui media digital. namun menariknya ada banyak orang sukses dan kaya justru tampil sederhana, tentu saja ini menarik untuk dikaji lebih dalam.
1. Tekanan sosial dan pengaruh rekan sebaya. Perilaku "flexing" dapat terjadi pada seseorang yang memiliki tekanan sosial di dalam lingkungannya baik lingkungan sosial maupun pekerjaan. Demikian juga dengan pengaruh rekan sebaya, ketika kita berada di lingkungan yang "flexing" atau mengikuti influencer di media sosial, maka akan mendorong kita untuk berperilaku yang sama mengikuti mereka.
2. Rendahnya rasa percaya diri (Self Confidence) seseorang terhadap orang lain. Orang yang tidak percaya diri membutuhkan pengakuan dan validasi dari orang lain . Dengan memamerkan harta dan kelebihannya , mereka merasa dirinya mendapatkan perhatian lebih bahkan menjadi pusat perhatian sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka.
3. Harga diri yang rendah (Self Esteem & Self Worth) menyebabkan seseorang senantiasa memerlukan citra diri yang positif apalagi sebagai pejabat atau publik figur yang tidak mau diketahui kelemahannya oleh orang lain Sementara itu, dia memerlukan kebutuhan untuk dicintai dan disukai oleh orang lain.
Dalam jurnal yang berjudul "The Psychological Dynamics of Flexing Behavior Among College Students (2022), flexing ternyata juga dilakukan seseorang untuk mendapatkan rasa hormat, pengakuan dari kelas sosial atas, untuk menunjukkan bahwa seseorang lebih sukses daripada orang lain
Dari perspektif psikologi sosial, "flexing" dapat dipahami sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap trauma kemiskinan. Individu dengan pengalaman kekurangan ekonomi mungkin merasa perlu menampilkan kesuksesan demi memperoleh pengakuan. Hal ini sejalan dengan teori modal sosial dan simbolik Bourdieu (1986), yang menjelaskan bagaimana individu menggunakan simbol tertentu (misalnya barang mewah) untuk memperoleh legitimasi dan status di masyarakat.
“Trauma kemiskinan” merujuk pada pengalaman emosional dan psikologis akibat kondisi ekonomi penuh keterbatasan, seperti kekurangan kebutuhan dasar, ketidakpastian finansial, serta stigma sosial di masa lalu (Yoshikawa, Aber, & Beardslee, 2012).
Dampak trauma kemiskinan dapat mencakup:
- Rendahnya harga diri dan perasaan tidak berharga (Twenge & Campbell, 2002).
- Kecemasan dan stres mengenai masa depan dan keamanan finansial (Santiago, Wadsworth, & Stump, 2011).
- Perasaan terisolasi serta kesulitan membangun relasi sosial yang sehat.
- Perilaku maladaptif, seperti konsumsi berlebihan atau pamer sebagai kompensasi emosional (Piff et al., 2010).
Penelitian Arik & Pradana (2024) menemukan bahwa individu yang tidak merasa aman secara emosional maupun sosial lebih cenderung mengekspresikan diri secara berlebihan di media sosial, termasuk melalui flexing.
Selain aspek defensif, flexing juga kerap dipahami sebagai strategi personal branding, terutama di kalangan generasi Z di media sosial digunakan untuk membentuk citra diri yang diinginkan, menarik perhatian, dan membangun identitas digital (Fahmi et al., 2023; Khamis, Ang, & Welling, 2017).
Demikian juga dengan pejabat yang ingin orang lain tahu kinerjanya dan influencer yang memerlukan popularitas dari masyarakat sehingga terkadang mereka terjebak pada citra diri yang semu, karena kepuasan yang dihasilkan dari flexing bersifat sementara dan dapat menimbulkan risiko psikologis jangka panjang antara lain:
Penyebab Flexing
Kalau kita lihat teori dan penelitian tentang perilaku "Flexing" ada banyak penyebab di antaranya :1. Tekanan sosial dan pengaruh rekan sebaya. Perilaku "flexing" dapat terjadi pada seseorang yang memiliki tekanan sosial di dalam lingkungannya baik lingkungan sosial maupun pekerjaan. Demikian juga dengan pengaruh rekan sebaya, ketika kita berada di lingkungan yang "flexing" atau mengikuti influencer di media sosial, maka akan mendorong kita untuk berperilaku yang sama mengikuti mereka.
2. Rendahnya rasa percaya diri (Self Confidence) seseorang terhadap orang lain. Orang yang tidak percaya diri membutuhkan pengakuan dan validasi dari orang lain . Dengan memamerkan harta dan kelebihannya , mereka merasa dirinya mendapatkan perhatian lebih bahkan menjadi pusat perhatian sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka.
3. Harga diri yang rendah (Self Esteem & Self Worth) menyebabkan seseorang senantiasa memerlukan citra diri yang positif apalagi sebagai pejabat atau publik figur yang tidak mau diketahui kelemahannya oleh orang lain Sementara itu, dia memerlukan kebutuhan untuk dicintai dan disukai oleh orang lain.
Dalam jurnal yang berjudul "The Psychological Dynamics of Flexing Behavior Among College Students (2022), flexing ternyata juga dilakukan seseorang untuk mendapatkan rasa hormat, pengakuan dari kelas sosial atas, untuk menunjukkan bahwa seseorang lebih sukses daripada orang lain
Dari perspektif psikologi sosial, "flexing" dapat dipahami sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap trauma kemiskinan. Individu dengan pengalaman kekurangan ekonomi mungkin merasa perlu menampilkan kesuksesan demi memperoleh pengakuan. Hal ini sejalan dengan teori modal sosial dan simbolik Bourdieu (1986), yang menjelaskan bagaimana individu menggunakan simbol tertentu (misalnya barang mewah) untuk memperoleh legitimasi dan status di masyarakat.
“Trauma kemiskinan” merujuk pada pengalaman emosional dan psikologis akibat kondisi ekonomi penuh keterbatasan, seperti kekurangan kebutuhan dasar, ketidakpastian finansial, serta stigma sosial di masa lalu (Yoshikawa, Aber, & Beardslee, 2012).
Dampak trauma kemiskinan dapat mencakup:
- Rendahnya harga diri dan perasaan tidak berharga (Twenge & Campbell, 2002).
- Kecemasan dan stres mengenai masa depan dan keamanan finansial (Santiago, Wadsworth, & Stump, 2011).
- Perasaan terisolasi serta kesulitan membangun relasi sosial yang sehat.
- Perilaku maladaptif, seperti konsumsi berlebihan atau pamer sebagai kompensasi emosional (Piff et al., 2010).
Penelitian Arik & Pradana (2024) menemukan bahwa individu yang tidak merasa aman secara emosional maupun sosial lebih cenderung mengekspresikan diri secara berlebihan di media sosial, termasuk melalui flexing.
Selain aspek defensif, flexing juga kerap dipahami sebagai strategi personal branding, terutama di kalangan generasi Z di media sosial digunakan untuk membentuk citra diri yang diinginkan, menarik perhatian, dan membangun identitas digital (Fahmi et al., 2023; Khamis, Ang, & Welling, 2017).
Demikian juga dengan pejabat yang ingin orang lain tahu kinerjanya dan influencer yang memerlukan popularitas dari masyarakat sehingga terkadang mereka terjebak pada citra diri yang semu, karena kepuasan yang dihasilkan dari flexing bersifat sementara dan dapat menimbulkan risiko psikologis jangka panjang antara lain:
Lihat Juga :