Protes Massa Agustus 2025: Menyahuti Akar Masalah dan Tawaran Solusi

Selasa, 02 September 2025 - 15:09 WIB
loading...
Protes Massa Agustus...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Ridwan al-Makassary
Dosen di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII

DEMONSTRASI Agustus 2025 telah menempatkan Indonesia dalam satu labirin krisis dan rentan terbakar. Protes massa yang awalnya berlangsung damai (dan brutal karena penyusup) dengan membakar fasilitas umum dan menjarah rumah anggota dewan, di sebagian wilayah Indonesia telah menandai salah satu momen paling signifikan dari protes massa di era paska-Reformasi.

Bermula dari kemarahan publik atas tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang berlebihan dengan cepat bersalin rupa menjadi protes sosial dalam skala luas yang menggugat keadilan ekonomi, integritas politik, dan peran polisi dan militer di tanah air. Singkatnya, protes massa ini bukan hanya tentang uang; melainkan juga tentang kepercayaan, martabat, dan janji demokrasi yang dilanggar oleh pemerintah dan parlemen.

Di jantung kerusuhan terdapat kontradiksi yang mencolok: anggota parlemen asyik menghadiahi diri mereka sendiri dengan tunjangan perumahan senilai hampir sepuluh kali upah minimum. Sementara rakyat biasa mesti berjuang mengais rejeki untuk bertahan hidup dengan langkah-langkah penghematan, kenaikan biaya hidup, dan menyusutnya layanan publik.

Ketidakseimbangan ini mencerminkan masalah kekerasan struktural yang lebih dalam—budaya politik elit yang semakin terlepas dari realitas sehari-hari warga negara. Keputusan semacam itu menyakitkan dan memicu persepsi bahwa pemerintahan hanya melayani segelintir orang yang memiliki hak Istimewa, dan kroni-kroninya daripada menyejahterakan masyarakat yang lebih luas.

Kemarahan semakin menyala dengan kematian tragis Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, yang meregang nyawa karena dilindas oleh kendaraan barakuda polisi selama protes berlangsung. Kisahnya, yang digemakan oleh media sosial, telah menjadi simbol perlawanan bagaimana kekuasaan negara dapat menghancurkan warga Masyarakat biasa yang rentan.

Alih-alih meredakan ketegangan, tanggapan polisi yang keras memperkuat keyakinan bahwa hak-hak demokratis bersyarat, hanya ditoleransi ketika mereka tidak menantang otoritas kekuasaan. Di negara yang masih mengingat trauma otoritarianisme selama Orde Baru, ini adalah pengingat yang menyakitkan akan cita-cita reformasi yang belum selesai dalam penegakan hukum dan hubungan sipil-militer.

Namun, protes juga merefleksikan vitalitas dan daya tahan masyarakat sipil Indonesia. Barisan buruh, mahasiswa, dan warga dari berbagai latar belakang bersatu padu untuk menuntut akuntabilitas, keadilan ekonomi, dan transparansi dari pemerintah dan DPR. Energi perlawanan ini menggarisbawahi kebenaran penting: demokrasi Indonesia, meskipun tidak sempurna, tetap tangguh ketika orang memperjuangkan hak-hak mereka yang terampas atas nama demokrasi.

Ke depan, pemerintah harus menahan godaan untuk menghardik perbedaan pendapat. Sebaliknya, ia harus memperlakukan krisis ini sebagai kesempatan untuk membangun kembali legitimasi yang patah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
APDSI dan PPPK Aksi...
APDSI dan PPPK Aksi Damai, Tuntut Pemenuhan Hak serta Gaji ke-13
Mahasiswa Kembali Turun...
Mahasiswa Kembali Turun ke Jalan, Bawa 3 Tuntutan
4.132 Personel Gabungan...
4.132 Personel Gabungan Dikerahkan Kawal Aksi Demo Mahasiswa di Monas
Rekomendasi
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Risiko Investasi Reksa Dana sebelum Mulai Berinvestasi
Sinopsis Terlanjur Mencintaimu...
Sinopsis 'Terlanjur Mencintaimu' Eps 20: Kedekatan Elio dan Arumi Semakin Menjadi Sorotan
Nathalie Holscher Resmi...
Nathalie Holscher Resmi Menikah, Sule Ucapkan Selamat dan Titip Adzam
Berita Terkini
Nihayatul Wafiroh: Pakta...
Nihayatul Wafiroh: Pakta Integritas Bukti Keseriusan Perempuan Bangsa Besarkan PKB
Rekam Jejak Komjen Karyoto,...
Rekam Jejak Komjen Karyoto, dari Pemberantasan Korupsi hingga Jaga Stabilitas Keamanan Nasional
Mutasi Kejagung, Dirdik...
Mutasi Kejagung, Dirdik Jampidsus hingga Dirdik III Jamintel Diganti
Mendagri Harapkan Lulusan...
Mendagri Harapkan Lulusan IPDN Jadi Agen Perubahan ASN
Mendagri Tito: Pelibatan...
Mendagri Tito: Pelibatan Sektor Swasta Akan Optimalkan Realisasi Program Perumahan Rakyat
KPK Tahan 3 Tersangka...
KPK Tahan 3 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Pokmas Jawa Timur
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved