Potong Gaji Pejabat Publik: Belajar dari Muhammadiyah
Sabtu, 30 Agustus 2025 - 08:04 WIB
loading...
A
A
A
4. Jepang (2011) Anggota parlemen potong gaji 6 bulan (bencana tsunami dan gempa). 5. Irlandia (2009) PM dan menteri potong gaji 15–20% (krisis finansial global). 6. Portugal (2010) Pejabat senior potong 5% (defisit fiskal/Eurozone crisis).
7. Spanyol (2010-2012) pegawai dan pejabat publik potong 5% + hapus bonus (krisis Eurozone). 8. Meksiko (2018) presiden dan pejabat tinggi potong besar (60% untuk presiden) sebagai simbol austerity dan anti-korupsi. 9. Kenya (2013) presiden dan anggota parlemen dipotong gaji (respon kemarahan publik atas beban negara).
Belajar dari Muhammadiyah yang bukan saja dipotong, begitu mengemban tugas mengemudi organisasi tidak lagi diberi tunjangan jabatan sebagaimana saat memimpin amal usaha (kampus, atau RS). Apa yang dipelajari yaitu bagaimana menanamkan heroisme melayani dan memajukan bangsa.
Hanya orang orang yang sudah selesai sebaiknya berada pada posisi itu. Jika masih muda memang mereka mereka yang terpanggil untuk mengabdi kepada ba gsa dan negara. Heroisme ini harus terwujud dalam sistem yang nyata dan terbaca oleh rakyat.
Jadi belalajar dari Muhammadiyah adalah bagaimana memandang jabatan publik. Jika belajar dari Muhammadiyah terlalu heroik maka belajarlah dari berbagai negara sebagaimana data di atas. Semoga kemarahan rakyat mereda.
7. Spanyol (2010-2012) pegawai dan pejabat publik potong 5% + hapus bonus (krisis Eurozone). 8. Meksiko (2018) presiden dan pejabat tinggi potong besar (60% untuk presiden) sebagai simbol austerity dan anti-korupsi. 9. Kenya (2013) presiden dan anggota parlemen dipotong gaji (respon kemarahan publik atas beban negara).
Belajar dari Muhammadiyah yang bukan saja dipotong, begitu mengemban tugas mengemudi organisasi tidak lagi diberi tunjangan jabatan sebagaimana saat memimpin amal usaha (kampus, atau RS). Apa yang dipelajari yaitu bagaimana menanamkan heroisme melayani dan memajukan bangsa.
Hanya orang orang yang sudah selesai sebaiknya berada pada posisi itu. Jika masih muda memang mereka mereka yang terpanggil untuk mengabdi kepada ba gsa dan negara. Heroisme ini harus terwujud dalam sistem yang nyata dan terbaca oleh rakyat.
Jadi belalajar dari Muhammadiyah adalah bagaimana memandang jabatan publik. Jika belajar dari Muhammadiyah terlalu heroik maka belajarlah dari berbagai negara sebagaimana data di atas. Semoga kemarahan rakyat mereda.
(poe)
Lihat Juga :