BPUPKI: Menggali Suara yang Disenyapkan
Minggu, 17 Agustus 2025 - 13:04 WIB
loading...
A
A
A
“Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, dan menjadi dasar yang adil bagi semua rakyat Indonesia. Memisahkan agama dari negara hanya akan mengaburkan pedoman moral bangsa.”
Pidato Abikusno ini tidak tercatat sama sekali dalam risalah Yamin.
Ketika satu kubu ideologis dihapus dari catatan sejarah, generasi berikutnya kehilangan konteks mengapa kompromi-kompromi politik lahir. Kita diajarkan bahwa Pancasila lahir murni dari semangat persatuan yang tenang dan tanpa pertentangan ideologis besar, padahal sejarah aslinya penuh dialektika keras.
Mengabaikan bagian ini bukan hanya ketidakjujuran intelektual, tapi juga merampas hak masyarakat untuk memahami akar sejarah bangsanya secara utuh.
80 tahun setelah BPUPKI, kita masih bergulat dengan pertanyaan yang sama: sejauh mana agama dan negara harus berpadu? Mungkin jawabannya ada pada keberanian untuk mendengar kembali suara yang dulu disenyapkan. Bukan untuk mengulang perpecahan, tetapi untuk memahami bahwa persatuan sejati hanya lahir dari keterbukaan pada perbedaan - dan keberanian untuk mencatatnya, apa adanya.
Pidato Abikusno ini tidak tercatat sama sekali dalam risalah Yamin.
Mengapa Ini Penting?
Ketika satu kubu ideologis dihapus dari catatan sejarah, generasi berikutnya kehilangan konteks mengapa kompromi-kompromi politik lahir. Kita diajarkan bahwa Pancasila lahir murni dari semangat persatuan yang tenang dan tanpa pertentangan ideologis besar, padahal sejarah aslinya penuh dialektika keras.
Mengabaikan bagian ini bukan hanya ketidakjujuran intelektual, tapi juga merampas hak masyarakat untuk memahami akar sejarah bangsanya secara utuh.
80 tahun setelah BPUPKI, kita masih bergulat dengan pertanyaan yang sama: sejauh mana agama dan negara harus berpadu? Mungkin jawabannya ada pada keberanian untuk mendengar kembali suara yang dulu disenyapkan. Bukan untuk mengulang perpecahan, tetapi untuk memahami bahwa persatuan sejati hanya lahir dari keterbukaan pada perbedaan - dan keberanian untuk mencatatnya, apa adanya.
(shf)
Lihat Juga :