Indonesia Butuh Nakhoda, Bukan Penguasa

Selasa, 07 April 2026 - 16:57 WIB
loading...
Indonesia Butuh Nakhoda,...
Salim Ketua Dewan Pakar KPPMPI sekaligus Kandidat Doktor Universitas Airlangga. Foto/istimewa
A A A
Salim
Ketua Dewan Pakar KPPMPI sekaligus Kandidat Doktor Universitas Airlangga

DI tengah gelombang perubahan global dan dinamika domestik yang semakin kompleks, Indonesia menghadapi krisis kepemimpinan yang tak lagi bisa diabaikan. Kepemimpinan yang semestinya memberi arah, keteladanan, dan rasa aman kini kerap terseret pada praktik-praktik otoriter, ambisius, atau oportunistik lebih mengutamakan kekuasaan daripada tanggung jawab.

Akibatnya, nilai-nilai moral yang selama ini menjadi pondasi kebangsaan mulai tergerus: integritas ditukar dengan korupsi halus, empati bergeser menjadi sikap apatis, dan semangat gotong-royong terkikis oleh budaya individualisme dan materialisme. Fenomena ini menyerupai jebakan "norma kejajahan" di mana perilaku penguasa dan sebagian rakyat mengadopsi pola yang merendahkan martabat kolektif demi keuntungan sesaat.

Perubahan memerlukan landasan teori yang kuat. Teori kenegaraan modern seperti kontrak sosial (Thomas Hobbes, John Locke, Jean-Jacques Rousseau) menegaskan bahwa legitimasi kekuasaan berasal dari persetujuan rakyat dan harus melayani kesejahteraan umum, bukan kepentingan penguasa.

Demokrasi deliberatif (Jürgen Habermas) menekankan pentingnya ruang publik yang rasional dan partisipatif agar kebijakan merefleksikan akal kolektif. Filsafat politik modern seperti teori keadilan John Rawls mengingatkan pentingnya prinsip-prinsip keadilan distributif dan perlindungan terhadap yang paling lemah, sementara pemikiran Martha Nussbaum tentang kemampuan (capabilities approach) menempatkan martabat manusia dan pembangunan holistik sebagai tujuan negara.

Dalam dimensi moral-religius, wacana tentang "tanda-tanda akhir zaman" sering dipakai sebagai peringatan simbolik terhadap kemerosotan etika: hilangnya kejujuran, maraknya penindasan, keretakan keluarga, serta fenomena sosial yang memperlihatkan kekacauan moral dan ketidakadilan. Referensi semacam ini bukan untuk menimbulkan panik, melainkan sebagai panggilan kesadarann bahwa ketika norma-norma dasar runtuh, bangsa perlu refleksi mendalam dan pembaharuan karakter.

Krisis ini bukan sekadar catatan suram; ia adalah panggilan bangkit. Bangsa besar dibangun bukan oleh penguasa yang menegakkan dominasi, melainkan oleh nakhoda pemimpin yang memimpin dengan teladan, visi jauh ke depan, dan komitmen terhadap kemaslahatan bersama. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip kontrak sosial, demokrasi deliberatif, dan keadilan distributif serta menanggapi peringatan moral-keagamaan secara konstruktif, Indonesia bisa menata ulang kepemimpinan dan memulai perjalanan menuju masa depan yang gemilang dan bermartabat.

Sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan penetapan konstitusi yang melahirkan cita-cita besar bangsa, harapan bahwa pemimpin-pemimpin republik ini akan menjadi pelaksana setia tujuan nasional seringkali tak terpenuhi; dari Presiden pertama hingga yang terakhir, banyak kebijakan dan praktik kekuasaan yang cenderung lebih melayani kepentingan politik dan kelompok tertentu daripada membela kesejahteraan dan keadilan rakyat secara menyeluruh.

Realitas sosial-ekonomi menyakitkan menunjukkan ketimpangan yang tajam: jutaan keluarga masih hidup di ambang kemiskinan dan klaim bahwa 175 juta rakyat menderita kondisi yang mengindikasikan rentan terhadap kemiskinan menegaskan bahwa pencapaian kesejahteraan umum masih jauh dari ideal. Selain itu, persoalan bangsa—dari ketimpangan ekonomi, lemahnya tata kelola dan korupsi, keretakan sosial kultural, hingga kerentanan lingkungan dan ketidakpastian geopolitik menjadi semakin kompleks seiring dinamika lingkungan strategis global, regional, dan nasional.

Metafora kapal berlayar sejak lepas tali kemerdekaan pada 18 Agustus 1945 menjadi relevan: meskipun kapal tetap mengapung dan berlayar, arah, navigasi, dan penanganan awak kapal oleh penguasa-penguasa yang lebih mementingkan dominasi daripada tata kelola berkelanjutan belum mengantarkan bangsa ke pelabuhan tujuan yang tercantum jelas dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gita Wirjawan: Integritas...
Gita Wirjawan: Integritas Harus Jadi Prioritas Memilih Pemimpin
Bukan Sekadar Insinyur,...
Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Hadapi Masa Depan yang...
Hadapi Masa Depan yang Tak Pasti, Mahasiswa Diajarkan Kepemimpinan, Inovasi, dan Talenta Digital
Halaqoh Kiai Muda NU...
Halaqoh Kiai Muda NU Soroti Kepemimpinan di PBNU
BNPP Gelar Upacara Hari...
BNPP Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Teguhkan Peran Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa
Hari Lahir Pancasila...
Hari Lahir Pancasila 2026, Irfan Aghasar Tekankan Pentingnya Persatuan dan Keadilan Sosial
Festival Anak Pancasila...
Festival Anak Pancasila 2026 Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Sudirman Said: Kepemimpinan...
Sudirman Said: Kepemimpinan Berkelanjutan Lahir dari Sistem yang Kuat
SDH Depok Komitmen Bangun...
SDH Depok Komitmen Bangun Pendidikan Karakter hingga Pengembangan Kepemimpinan
Rekomendasi
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Kunjungi Maliosewu,...
Kunjungi Maliosewu, Jokowi Jajan Es Teh Manis
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Iran Akan Selalu Cepat dan Tegas Setiap Serangan AS
Berita Terkini
Jokowi Pakai Baju Berlogo...
Jokowi Pakai Baju Berlogo PSI: Artinya Tahu Sendiri
Bangun Integrasi Hukum...
Bangun Integrasi Hukum dan Seni Lewat Pustaka Nada
Kemhan Beberkan Materi...
Kemhan Beberkan Materi Latihan Fisik Calon Manajer Kopdes: Baris-berbaris hingga Hormat Militer
Boni Hargens: Peningkatan...
Boni Hargens: Peningkatan Kepercayaan Publik kepada Polri Perkuat Stabilitas Demokrasi
DPR Desak Latsarmil...
DPR Desak Latsarmil Peserta SPPI Disetop: Nyawa Jangan Dianggap Enteng!
Saatnya Muktamar NU...
Saatnya Muktamar NU Hadirkan Kepemimpinan yang Tak Lagi Wariskan Pertengkaran Berkepanjangan
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved