Pemerintah Pastikan Tak Ada Pergantian Sistem Upah dalam RUU Cipta Kerja

loading...
Pemerintah Pastikan Tak Ada Pergantian Sistem Upah dalam RUU Cipta Kerja
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono memastikan, tidak akan ada pergantian sistem upah dalam pembahasan RUU Cipta Kerja. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono memastikan, tidak ada pergantian sistem upah yang selama ini telah berlaku dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja atau Omnibus Law.

(Baca juga: Gas Pool! Pembahasan Omnibus Law Capai 80%, Bonus Pekerja Belum Deal)

Pernyataan itu disampaikan Susiwijono menjawab protes serikat buruh mengenai ketentuan upah per jam. Susiwijono menegaskan, aturan tersebut hanya untuk jenis pekerjaan tertentu, bukan dalam artian mengganti sistem upah selama ini menjadi sistem upah per jam.

"Ketentuan upah tetap sama," kata Susiwijono, Kamis (10/9/2020). (Baca juga: Omnibus Law Disahkan, Bos BI: Investasi Meroket)



Susiwijono menjelaskan, upah merupakan salah satu komponen yang menjadi pertimbangan utama bagi investor. Menurutnya, banyak investor mengeluhkan sistem upah yang ada.

Karenanya, berdasarkan diskusi pemerintah dengan pengusaha dan pekerja, Susiwijono mengatakan besaran upah akan naik dengan memperhatikan faktor pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

"Sehingga di RUU ini besarannya tetap naik, tetapi kenaikannya kita tambahkan hanya dengan melihat faktor pertumbuhan ekonomi lokal di daerah masing-masing. Sementara di PP 78 dan UU Ketenagakerjaan, kan, melihatnya faktor pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Ini kita coba. Itu pun kita kompensasi dengan tambahan-tambahan lain yang terkait upah," ucap Susiwijono.



Sementara itu, terkait pesangon untuk pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Susiwijono mengatakan tidak ada penghapusan pesangon. Pemerintah hanya melakukan penyesuaian formulasi perhitungan pesangon agar lebih realistis.

"Berdasarkan perhitungan LPEM UI, Indonesia adalah negara paling tinggi di dunia yang harus menanggung pesangon. Apa kita mau seperti ini terus? Apa tidak lebih baik kita konversi dengan jaminan bantuan sosial dan sebagainya," jelas Susiwijono.
(maf)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top