Menelisik Arah Ekonomi Indonesia Pasca Trump 2.0

Senin, 21 Juli 2025 - 15:04 WIB
loading...
A A A
Menelisik Tantangan bagi Indonesia
Negara-negara maju, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa, masih mendominasi struktur ekonomi global melalui kebijakan proteksionisme dan kendali atas institusi-institusi perdagangan internasional. Penerapan tarif impor oleh Amerika Serikat mencapai rata-rata efektif 20,6% pada tahun 2024 – tingkat tertinggi sejak awal abad ke-20 – dengan defisit perdagangan yang membengkak menjadi USD 918,4 miliar, naik 17% dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, Uni Eropa merespons kebijakan tersebut dengan mengancam penerapan tarif balasan senilai €72 miliar. Ketimpangan semacam ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi negara-negara maju mempengaruhi arah perdagangan dunia dan mempersempit ruang kebijakan negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam mempertahankan kepentingan ekonominya di forum global.

Pada konteks hubungan bilateral Indonesia – Amerika Serikat, pemberlakuan kebijakan tarif 0% terhadap sejumlah komoditas asal AS memberikan keuntungan jangka pendek bagi konsumen domestik, tetapi menciptakan ancaman serius terhadap daya saing industri dalam negeri. Sebaliknya, produk ekspor Indonesia dikenai tarif sebesar 19% setelah sebelumnya dihadapkan pada potensi tarif hingga 32% .

Meskipun kebijakan ini memungkinkan kelangsungan akses ekspor Indonesia ke pasar AS, ketidakseimbangan tarif tersebut mengindikasikan hilangnya proteksi terhadap sektor produksi lokal dan meningkatnya ketergantungan terhadap impor barang dan teknologi dari negara maju.

Keterbatasan posisi tawar Indonesia dalam forum global tercermin dari dinamika negosiasi perdagangan yang tidak sepenuhnya menguntungkan. Pemerintah Indonesia memang berhasil menghindari tarif tinggi dengan melakukan diplomasi intensif, termasuk kesepakatan perdagangan yang melibatkan komitmen pembelian produk-produk Amerika Serikat senilai USD 34 miliar. Akan tetapi, pencapaian ini diperoleh melalui berbagai konsesi strategis, termasuk pembebasan tarif impor terhadap produk energi, pertanian, dan teknologi tinggi dari AS.

Hal ini mengindikasikan bahwa dalam skema perdagangan internasional yang masih timpang, Indonesia belum memiliki kekuatan tawar yang setara dalam menyusun kebijakan perdagangan yang berpihak pada kepentingan nasional jangka panjang. Oleh sebab itu, diperlukan strategi diversifikasi mitra dagang dan reposisi arah kebijakan ekonomi luar negeri Indonesia.

Kini, salah satu pendekatan yang dapat ditempuh oleh Indonesia saat ini adalah penguatan kerja sama dengan blok-blok ekonomi non-Barat seperti ASEAN, OKI, D-8, BRICS, dan Afrika melalui pembentukan skema koridor tarif nol yang bersifat timbal balik.

Di samping memperluas pasar ekspor dan memperkuat daya saing industri nasional, langkah ini juga mendukung upaya menuju kedaulatan ekonomi yang lebih inklusif, berimbang, dan berkelanjutan. Pada jangka panjang, strategi ini menjadi fondasi penting bagi pembentukan tatanan ekonomi global yang lebih adil serta memperkuat peran Indonesia sebagai kekuatan ekonomi strategis di kawasan dan dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Rekomendasi
Prabowo Panggil Chatib...
Prabowo Panggil Chatib Basri ke Istana, Ada Apa?
Grab Ambil Alih Kendali...
Grab Ambil Alih Kendali Superbank, Fokus Perluas Akses Pembiayaan Digital
IHSG Ditutup Melejit...
IHSG Ditutup Melejit 7,57% Sore Ini, 708 Saham Menghijau
Berita Terkini
Jaga Kredibilitas Negara,...
Jaga Kredibilitas Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Korupsi MBG
PDIP: UU Polri Harus...
PDIP: UU Polri Harus Mampu Cegah Intervensi Politik dan Kepentingan Oligarki
Penampakan Bupati Muara...
Penampakan Bupati Muara Enim Edison Pakai Rompi Oranye usai Ditetapkan Tersangka
Tiyo Ardianto Tolak...
Tiyo Ardianto Tolak Tawaran Bertemu Petinggi Lembaga Berbintang yang akan Berikan Apa pun yang Dia Mau
Semangat Otsus Harus...
Semangat Otsus Harus Tercermin dalam Desain Politik Papua
Meritokrasi di TNI,...
Meritokrasi di TNI, Kapuspen: Jabatan Tak Ditentukan seperti Urut Kacang Tapi Kompetensi
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved