Iran, Nuklir, dan Cermin Ketimpangan Global

Minggu, 13 Juli 2025 - 07:17 WIB
loading...
A A A
Kedua, mendorong realisasi Zona Bebas Senjata Nuklir di Timur Tengah. Gagasan ini telah diusulkan sejak 1974 oleh Iran dan Mesir, namun selalu tertahan karena pengecualian terhadap Israel. Bila prinsip nonproliferasi ingin dipertahankan, maka tidak boleh ada pengecualian. Transparansi harus bersifat universal.

Ketiga, mereformasi struktur NPT itu sendiri. Selama lima negara pemilik senjata nuklir tetap memegang hak eksklusif, rezim nonproliferasi akan selalu dianggap bias. Struktur yang lebih demokratis, akuntabel, dan setara perlu dibangun agar prinsip keadilan tidak sekadar retorika. Zia Mian, peneliti pada Program Keamanan Global di Princeton, menekankan bahwa "masa depan nonproliferasi bergantung bukan pada pengawasan ketat, tetapi pada kredibilitas moral dan kesetaraan norma."

Penting juga untuk mencermati bahwa dalam konteks kontemporer, teknologi nuklir menjadi medan simbolik perebutan kedaulatan antara negara berkembang dan kekuatan besar. Iran tidak sendiri. Brasil, Afrika Selatan, bahkan Arab Saudi mulai menunjukkan kecenderungan serupa: menuntut akses terhadap teknologi tinggi namun tanpa stigma politik. Ketika teknologi menjadi eksklusif, dan akses dikendalikan oleh elite global, maka resistensi adalah keniscayaan.

Pada akhirnya, isu nuklir Iran bukan sekadar soal teknologi atau niat satu negara, melainkan cermin dari sistem global yang timpang. Ketika norma-norma internasional gagal diterapkan secara adil dan kepercayaan publik internasional memudar, maka yang terancam bukan hanya stabilitas regional—melainkan legitimasi tatanan global itu sendiri.

Ada sebuah adagium Romawi yang kiranya relevan untuk memahami posisi Iran dalam konteks ini: "Jika engkau mendambakan damai, bersiaplah untuk perang." (Si vis pacem, para bellum.) Dalam dunia yang gagal menjamin keadilan, kesiagaan menjadi bahasa terakhir negara-negara yang merasa tak punya pilihan.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
Iran Berniat Kembangan...
Iran Berniat Kembangan Rudal Balistik Antarbenua biar Tambah Menakutkan
Iran Sebut Pangkalan...
Iran Sebut Pangkalan AS Target Sah dan Sumber Kekacauan Timur Tengah
Iran Berupaya Pungut...
Iran Berupaya Pungut Biaya Layanan, Bukan Tol untuk Lintasi Selat Hormuz
Rekomendasi
Timnas Indonesia Hancurkan...
Timnas Indonesia Hancurkan Oman 3-0
Hasil Indonesia Open...
Hasil Indonesia Open 2026: Tiwi/Fadia Gugur di Perempat Final
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
Berita Terkini
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Imigrasi Nonaktifkan...
Imigrasi Nonaktifkan Pejabat yang Diperiksa KPK, Pastikan Pelayanan Publik Tetap Berjalan
Dua Truk Towing Masuk...
Dua Truk Towing Masuk Rumah Silmy Karim saat KPK Lakukan Penggeledahan
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved