Pemerintah Antisipasi Krisis Air Akibat Perubahan Iklim
loading...
A
A
A
Ia juga menyoroti ketimpangan distribusi air di berbagai wilayah, terutama di Jawa dan Bali. Salah satu solusi yang didorong adalah pemerataan distribusi penduduk ke luar Jawa.
"Kami juga mendukung pengembangan peternakan di luar Jawa dan Bali untuk mengurangi beban kebutuhan air," tambahnya.
Dalam hal penyediaan air minum, Diana menyebut cakupan akses air minum yang aman baru mencapai 43% sedangkan yang memenuhi standar hanya 40,2%. "Kami berupaya meningkatkan sistem penyediaan air minum yang terintegrasi dengan sanitasi," katanya.
Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air Retno Marsudi mengungkapkan gletser sebagai sumber utama air tawar telah kehilangan 900 gigaton air dalam 50 tahun terakhir.
"Ini berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut hingga 20 cm sejak 1900," katanya.
Ia juga mencatat sekitar 32 juta orang terdampak banjir, sementara 680 juta orang di pesisir terancam oleh naiknya air laut. Selain itu, 29 juta orang mengalami dampak kekeringan, dan pada 2050 diperkirakan tiga perempat wilayah dunia akan menghadapi krisis air.
"Pencemaran juga menjadi ancaman serius. Sebanyak tiga miliar orang hidup dengan risiko air terkontaminasi," ujarnya.
Menurut Retno, krisis air ini membutuhkan kerja sama global antara pemerintah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya.
"Air adalah sumber kehidupan dan elemen utama dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan," tutup mantan Menteri Luar Negeri RI ini.
"Kami juga mendukung pengembangan peternakan di luar Jawa dan Bali untuk mengurangi beban kebutuhan air," tambahnya.
Dalam hal penyediaan air minum, Diana menyebut cakupan akses air minum yang aman baru mencapai 43% sedangkan yang memenuhi standar hanya 40,2%. "Kami berupaya meningkatkan sistem penyediaan air minum yang terintegrasi dengan sanitasi," katanya.
Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air Retno Marsudi mengungkapkan gletser sebagai sumber utama air tawar telah kehilangan 900 gigaton air dalam 50 tahun terakhir.
"Ini berkontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut hingga 20 cm sejak 1900," katanya.
Ia juga mencatat sekitar 32 juta orang terdampak banjir, sementara 680 juta orang di pesisir terancam oleh naiknya air laut. Selain itu, 29 juta orang mengalami dampak kekeringan, dan pada 2050 diperkirakan tiga perempat wilayah dunia akan menghadapi krisis air.
"Pencemaran juga menjadi ancaman serius. Sebanyak tiga miliar orang hidup dengan risiko air terkontaminasi," ujarnya.
Menurut Retno, krisis air ini membutuhkan kerja sama global antara pemerintah, sektor swasta, dan pemangku kepentingan lainnya.
"Air adalah sumber kehidupan dan elemen utama dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan," tutup mantan Menteri Luar Negeri RI ini.
(tar)
Lihat Juga :