Taiwan Bersatu dalam Tindakan Iklim untuk Mewujudkan Dunia Net-Zero
Senin, 25 November 2024 - 09:00 WIB
loading...
Representative Taipei Economic and Trade Office (TETO) John Chen. Foto/Istimewa
A
A
A
DAMPAK perubahan iklim dan cuaca ekstrem adalah tantangan terbesar yang dihadapi manusia di seluruh dunia saat ini. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, seluruh dunia telah menyaksikan kekeringan terparah dalam satu abad terakhir, curah hujan yang sangat tinggi, dan angin topan yang dahsyat. Tindakan global untuk mengatasi perubahan iklim sangatlah mendesak.
Konferensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) OP29 diadakan di Baku, Azerbaijan, dan Taiwan sebagai bagian dari dunia terus merevisi secara berkelanjutan undang-undang yang berkaitan dengan iklim, melakukan tindakan spesifik seperti penetapan "Harga Karbon", serta aktif menggemakan tren Emisi Net-Zero, untuk bersama-sama menghadapi tantangan berat ini.
Namun, karena faktor politik internasional, terutama karena tekanan dari China, Taiwan belum dapat berpartisipasi dalam UNFCCC dan Persetujuan Paris serta platform internasional lainnya. Pada saat Presiden Majelis Umum PBB Philemon Yang menyerukan dengan lantang pada sidang Majelis Umum PBB tahun ini bahwa negara-negara anggota PBB harus memperkuat kerja sama internasional untuk menghadapi serangkaian tantangan global seperti perubahan iklim, di sisi lain China dengan sengaja mendistorsi Resolusi 2758 Majelis Umum PBB yang disahkan di tahun 1971 untuk menyangkal status yang layak bagi Taiwan, dan dengan sengaja menghubungkan resolusi tersebut dengan "Prinsip Satu Tiongkok" untuk menekan hak sah Taiwan berpartisipasi di PBB dan badan-badan khususnya.
Baca Juga: Komitmen Taiwan Terhadap Aksi Iklim
Saat ini, semakin banyak negara yang menyampaikan kritik mereka terhadap interpretasi menyimpang China terhadap Resolusi 2758 Majelis Umum PBB. Pada bulan Oktober tahun ini, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi yang dengan jelas menyatakan bahwa "Parlemen Uni Eropa dengan tegas menentang dan membantah upaya Tiongkok untuk memutarbalikkan sejarah dan aturan internasional, menekankan bahwa Resolusi 2758 Majelis Umum PBB tidak berhubungan dengan posisi Taiwan, menentang Tiongkok yang mengecualikan partisipasi Taiwan di organisasi multilateral, serta menyerukan Uni Eropa dan negara-negara anggotanya untuk mendukung partisipasi Taiwan dalam UNFCCC dan organisasi internasional lainnya".
Konferensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) OP29 diadakan di Baku, Azerbaijan, dan Taiwan sebagai bagian dari dunia terus merevisi secara berkelanjutan undang-undang yang berkaitan dengan iklim, melakukan tindakan spesifik seperti penetapan "Harga Karbon", serta aktif menggemakan tren Emisi Net-Zero, untuk bersama-sama menghadapi tantangan berat ini.
Namun, karena faktor politik internasional, terutama karena tekanan dari China, Taiwan belum dapat berpartisipasi dalam UNFCCC dan Persetujuan Paris serta platform internasional lainnya. Pada saat Presiden Majelis Umum PBB Philemon Yang menyerukan dengan lantang pada sidang Majelis Umum PBB tahun ini bahwa negara-negara anggota PBB harus memperkuat kerja sama internasional untuk menghadapi serangkaian tantangan global seperti perubahan iklim, di sisi lain China dengan sengaja mendistorsi Resolusi 2758 Majelis Umum PBB yang disahkan di tahun 1971 untuk menyangkal status yang layak bagi Taiwan, dan dengan sengaja menghubungkan resolusi tersebut dengan "Prinsip Satu Tiongkok" untuk menekan hak sah Taiwan berpartisipasi di PBB dan badan-badan khususnya.
Baca Juga: Komitmen Taiwan Terhadap Aksi Iklim
Saat ini, semakin banyak negara yang menyampaikan kritik mereka terhadap interpretasi menyimpang China terhadap Resolusi 2758 Majelis Umum PBB. Pada bulan Oktober tahun ini, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi yang dengan jelas menyatakan bahwa "Parlemen Uni Eropa dengan tegas menentang dan membantah upaya Tiongkok untuk memutarbalikkan sejarah dan aturan internasional, menekankan bahwa Resolusi 2758 Majelis Umum PBB tidak berhubungan dengan posisi Taiwan, menentang Tiongkok yang mengecualikan partisipasi Taiwan di organisasi multilateral, serta menyerukan Uni Eropa dan negara-negara anggotanya untuk mendukung partisipasi Taiwan dalam UNFCCC dan organisasi internasional lainnya".