Dari Deflasi menuju Resesi: Lampu Kuning Ekonomi Indonesia

Rabu, 19 Maret 2025 - 16:21 WIB
loading...
A A A
Pelemahan daya beli masyarakat juga dapat dilihat dari menurunnya jumlah pemudik pada Lebaran 2025. Hasil Survei Potensi Pergerakan Nasional oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan, jumlah pemudik pada Idul Fitri 1446 H atau Lebaran 2025 sebanyak 146,48 juta orang atau sekitar 52 persen dari total penduduk Indonesia.

Perkiraan ini turun 24 persen dibandingkan dengan proyeksi 193,6 juta pemudik yang melakukan perjalanan pada Lebaran 2024. Dan penurunan jumlah pemudik di Lebaran tahun ini berdampak pada penurunan jumlah perputaran uang di masyarakat.

Menurut proyeksi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dibandingkan dengan 2024, perputaran uang saat Lebaran 2025 diperkirakan turun 12,28 persen. Asumsi perputaran uang Lebaran 2025 ini diprediksi dalam kisaran Rp 137 triliun-Rp 145 triliun yang masih berada di bawah perputaran uang Lebaran 2024 yang mencapai Rp 157,3 triliun.

Prediksi tersebut dihitung dari jumlah pemudik tahun ini sejumlah 146,48 juta atau setara dengan 36,26 juta keluarga dengan asumsi per keluarga empat orang jika rata-rata uang yang dibawa per keluarga adalah Rp 4 juta. Hal ini disebabkan biaya mudik yang membengkak, ancaman pemutusan hubungan kerja atau PHK, dan beban pengeluaran untuk pajak dan iuran membuat masyarakat cenderung mengencangkan ikat pinggang.

Menuju Resesi: Butuh Formula Game Changer Dari Presiden Prabowo
Dengan melihat semua data ini, pemerintah tidak bisa hanya mengeluarkan kebijakan business as usual untuk mendongkrak daya beli masyarakat agar bisa pulih. Melainkan membutuhkan formula kebijakan yang bisa menjadi game changer untuk membalikan situasi ekonomi.

Pasalnya, konsumsi rumah tangga merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, berkontribusi sekitar 54-55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sehingga apabila terjadi pelemahan daya beli masyarakat maka akan berdampak sistemik pada perekonomian nasional secara menyeluruh. Ada sejumlah saran dan masukan yang bisa menjadi pertimbangan pemerintah untuk memulihkan daya beli masyarakat.

Pertama, pemerintah harus berani mengevaluasi segala bentuk proyek-proyek mercusuar layaknya IKN, proyek gasifikasi batubara yang akan dibiayai Danantara, Program 3 Juta Rumah. hingga Program Makan Bergizi Gratis dan program hilirisasi yang menghabiskan banyak anggaran negara namun tidak berdampak pada kenaikan daya beli masyarakat.

Kedua, pemerintah harus mengevalusi kebijakan efisiensi anggaran yang mengarah pada austerity seperti pemotongan belanja publik layaknya memotong anggaran untuk pendidikan, kesehatan, atau layanan publik. Karena kebijakan austerity ini menyebabkan dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, pemerintah harus berfokus pada penciptaan lapangan kerja. Karena berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS, penciptaan lapangan kerja formal mengalami penurunan signifikan, dari 15,6 juta tenaga kerja formal yang tercipta selama periode 2009–2014, menjadi hanya 2 juta pada periode 2019–2024.

Dan penciptaan lapangan kerja tidak bisa dilepaskan dari pentingnya peranan Foreign Direct Investment (FDI). Sedangkan angka FDI Indonesia masih sangat rendah dimana berdasarkan data OECD, FDI hanya berkontribusi 0,2% terhadap pembentukan PDB Indonesia pada 2020. Angka tersebut menjadi yang terendah di ASEAN.

Untuk meningkatkan peranan FDI dalam penciptaan lapangan kerja, pencapaian nilai Incremantal Capital Output Ratio (ICOR) tidak bisa dianggap remeh. Nilai ICOR Indonesia tahun 2023 sebesar 6,33. Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia berbiaya tinggi.

Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya yang berada di angka 4-5%. Prosedur birokrasi perizinan yang panjang, regulasi daerah dan pusat yang tak sinkron serta maraknya korupsi yang masih menjadi momok di Indonesia merupakan beberapa penyebab mahalnya biaya investasi di Indonesia. Ditambah dengan akses transportasi dan logistik yang sulit dan mahal menjadikan biaya tambahan yang menjadi pertimbangan para investor.

Pemerintah perlu menjaga kepercayaan investor terhadap kredibilitas dan integritas tata kelola pemerintahan untuk mengelola ekonomi nasional. Penurunan rating dari institusi-institusi investasi global layaknya Goldman Sachs dan Morgan Stanley tidak boleh dianggap remeh.

Karena menurunnya kepercayaan investor membuat investasi menjadi lesu dan IHSG mengalami penurunan signifikan yang kemudian berdampak pada menurunnya nilai tukar rupiah yang bisa berujung pada krisis moneter dan resesi ekonomi.

Defisit APBN sebesar Rp 31,2 triliun atau 0,13 persen dari produk domestik bruto (PDB) hanya dalam dua bulan dan laporan IMF yang memperkirakan, defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar 2 persen pada 2025 haruslah menjadi warning bagi pemerintah. Ditambah dana asing yang keluar atau net foreign sell menyentuh Rp 24 triliun sepanjang tahun berjalan.

Bahkan bila ditarik lebih jauh, dalam enam bulan terakhir, net sell asing telah mencapai Rp57,8 triliun di lain sisi utang luar negeri Indonesia yang meningkat 5,3% yoy yang tercatat sebanyak USD427,5 miliar pada Januari 2025 membuat pemerintah mau tak mau harus berhati-hati.

Masalahnya, reaksi pasar dan problem ekonomi tidak bisa dikompromikan layaknya masalah perbedaan pandangan politik atau perkara koalisi atau oposisi pemerintahan. Maka tidak ada jalan lain bagi Presiden Prabowo untuk mengambil jalan sebagai game changer yang berani mengevaluasi kebijakan yang keliru dan berdampak negatif dari pemerintahan sebelumnya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Asta Cita dan Reposisi...
Asta Cita dan Reposisi Peran Negara versus Pasar
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
4 Temuan Penting di...
4 Temuan Penting di Tengah Kejatuhan IHSG Hampir 30% dan Rupiah Mendekati Rp18.000/USD
Rekomendasi
Justin Hubner Bisa Absen...
Justin Hubner Bisa Absen Perkuat Timnas Indonesia Lawan Mozambik
Yeho Gathering 2026,...
Yeho Gathering 2026, Merayakan 20 Tahun Perjalanan Sekolah
Potret Alyssa Daguise...
Potret Alyssa Daguise dan Baby Soleil Jadi Sorotan, Perhiasan yang Dipakai Tembus Rp1,2 Miliar
Berita Terkini
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Buku Laku Spiritual...
Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen Diluncurkan, Kupas Cara Soeharto Tunjuk Pembantunya
Infografis
5 Presiden Indonesia...
5 Presiden Indonesia yang Paling Sering Reshuffle Kabinet
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved