Target Penerimaan Meleset, Efisiensi Wajib

Senin, 13 Januari 2025 - 06:33 WIB
loading...
A A A
Sebagai upaya memperkuat stabilitas fiskal dan meningkatkan penerimaan negara, diperlukan reformasi yang komprehensif pada sektor perpajakan. Salah satu langkah strategis yang harus dilakukan adalah memperluas basis pajak dengan mengidentifikasi objek pajak baru serta mengintegrasikan sistem perpajakan secara digital. Integrasi sistem ini bertujuan untuk menekan biaya pemungutan pajak atau collection cost, termasuk menggali pajak di semua sektor lebih optimal sehingga pendapatan negara dapat dikoleksi lebih efisien dan transparan. Reformasi sistem perpajakan yang modern dan transparan ini juga diharapkan akan memudahkan pengawasan dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Selain reformasi pada penerimaan, pemerintah juga perlu mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Bertambahnya pelaku usaha akan memperluas potensi penerimaan pajak, terutama dari sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Demi mencapai hal ini, kebijakan yang mendukung digitalisasi usaha, penyederhanaan perizinan, serta akses pembiayaan yang lebih mudah bagi pelaku usaha baru sangat diperlukan. Dengan semakin banyaknya entitas bisnis yang muncul, potensi pajak dari sektor perdagangan, industri kreatif, dan teknologi juga akan meningkat secara signifikan.

Di samping itu, berbagai program yang diusung oleh Presiden Prabowo – yang menekankan keberpihakan pada Masyarakat – juga menjadi faktor kunci dalam mempercepat pencapaian efisiensi ekonomi dan fiskal. Fokus pada pengurangan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, dan pemerataan pembangunan harus dilakukan dengan kebijakan yang tepat sasaran dan transparan.

Penting bahwa berbagai program tersebut juga harus diiringi dengan pemberantasan korupsi secara menyeluruh, mengingat korupsi menjadi salah satu penyebab utama kebocoran anggaran negara. Upaya ini akan menciptakan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sekaligus memperkuat pondasi fiskal negara. Artinya, pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan mampu menutup celah potensi kebocoran anggaran negara.

Pada konteks pengelolaan belanja negara, efisiensi harus menjadi prioritas utama. Belanja negara yang tidak produktif dan tidak memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat perlu dikurangi. Pemerintah harus melakukan evaluasi secara berkala terhadap alokasi anggaran untuk memastikan bahwa belanja yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Optimalisasi belanja negara ini akan membantu pemerintah menjaga defisit anggaran dalam batas yang aman serta meningkatkan ruang fiskal untuk mendanai program prioritas.

Sinergi antara reformasi penerimaan, pertumbuhan ekonomi, dan efisiensi belanja negara menjadi kunci untuk memperkuat perekonomian Indonesia. Pemerintah diharapkan dapat menerapkan kebijakan yang pro-rakyat sekaligus mampu menjaga stabilitas fiskal. Melalui langkah-langkah tersebut, Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Upaya ini sangat memerlukan komitmen yang kuat dari seluruh elemen pemerintah serta partisipasi aktif dari masyarakat untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat dan berdaya saing tinggi di era globalisasi. Semoga.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
MUI: Presiden Kurban...
MUI: Presiden Kurban Pakai APBN Tak Masalah secara Syariat demi Kepentingan Masyarakat
Gerindra Sebut Bantuan...
Gerindra Sebut Bantuan 1.098 Sapi Kurban Presiden Prabowo dari APBN Sah, Pernah Dilakukan pada Era Jokowi
Dilema Bank Indonesia:...
Dilema Bank Indonesia: Menjaga Rupiah demi Menjaga Masa Depan Ekonomi
Komisi VII DPR Usul...
Komisi VII DPR Usul 1.000 Bioskop Desa dari APBN 2027
APBN 2027 Bisa Jadi...
APBN 2027 Bisa Jadi Alat Perjuangan Bangsa
Puspoll Indonesia: Kehadiran...
Puspoll Indonesia: Kehadiran Langsung Presiden Prabowo di DPR Kirim Sinyal Optimisme dan Kepastian Arah Negara
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, Industri dan Sektor Energi Perlu Dijaga Bersama
Rupiah Tembus Rp17.930...
Rupiah Tembus Rp17.930 per Dolar AS, Risiko Impor Minyak Makin Besar
Kondisi Fiskal dan Moneter...
Kondisi Fiskal dan Moneter RI Disentil PDIP: Utang Harus Dibayar dengan Utang
Rekomendasi
Rencanakan Liburan dengan...
Rencanakan Liburan dengan Lebih Fleksibel Melalui Paylater
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
5 Makanan Penurun Kolesterol...
5 Makanan Penurun Kolesterol Usai Lebaran yang Wajib Dicoba
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved