Siapkan Penerbang Tempur, Optimalkan Dassault Rafale
Selasa, 20 Agustus 2024 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Pesawat generasi 4.0 juga memiliki sistem terintegrasi untuk mendukung multi-target secara otomatis, sudah membenamkan electronic countermeasure, dan mulai mengaplikasikan unsur stealth. Sedangkan pesawat tempur generasi 4.5 secara garis besar memiliki karakteristik sama dengan generasi 4.0. Tetapi, pesawat tempur generasi ini sudah meningkatkan kapasitas sistem avionik, performa mesin, kelincahan manuver, dan sudah mengadopsi radar AESA.
Slogan AMPUH
Kesiapan para penerbang tempur andal mengoperasikan Dassault Rafale sangat penting bukan sebatas karena harga pesawat yang dibayar dengan uang rakyat tersebut sangat mahal. Satu variabel lagi yang perlu menjadi pertimbangan adalah terjadinya sejumlah kecelakaan pesawat tempur yang mengorbankan para penerbang terbaik bangsa. Walaupun pilot TNI AU terbilang jago, satu keteledoran seringkali berubah menjadi bencana.
Fakta ini bisa ditelusuri dari sejumlah catatan kecelakaan pesawat tempur TNI. Mayoritas kondisi tersebut terjadi saat latihan. Teranyar, menimpa dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano yang jatuh di kawasan Gunung Bormo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (16/11/2023) pukul 12.00 WIB, saat sesi latihan. Dalam musibah itu, empat penerbang gugur. Dua di antaranya perwira tinggi, yakni Marsma TNI (Anumerta) Subhan dan Marma TNI (Anumerta) Widiono Hadiwijaya.
baca juga: Pangkoopsudnas Jajal Kecanggihan Pesawat Tempur Rafale Buatan Prancis
Pesawat T-50i Golden Eagle made in Korsel yang diorientasikan sebagai pesawat latih pernah jatuh di pinggiran Bandara Adisucipto, Yogyakarta (20/22/2015) dan menewaskan dua pilot senior, yakni Letkol Pnb Marda Sarjono dan Kapten Pnb Dwi Cahyadi. Jauh sebelumnya pada 28 Maret 2002, dua pesawat Hawk MK-53 TNI AU dari Skadron 15 Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun bertabrakan saat melakukan manuver ke delapan, victory roll. Yang menyedihkan, empat penerbang tempur terbaik TNI AU gugur.
Dassault Rafale dengan teknologi yang jauh lebih canggih ternyata juga memiliki catatan hitam. Bahkan, musibah baru terjadi pada 14 Agustus 2024. Ceritanya, dua pesawat kebanggaan negeri ayam jantan tersebut bertabrakan saat latihan di bagian timur Prancis. Dua pilot pun menjadi korban. Sebelumnya, pada September 2009, dua pesawat sama juga celakaan kala kembali ke kapal induk Charles de Gaulle.
Berbagai insinden menegaskan bahwa menerbangkan pesawat tempur tidak bisa sembarangan karena risikonya saat tinggi. Dan penting lagi, secanggih-canggih pesawat tempur, maka fungsi strategis tidak bisa berjalan optimal bila sang penerbang tidak bisa menguasai sepenuhnya sesuai kaidah man behind the gun.
Kedatangan 24 pesawat Dassault Rafale yang diborong Indonesia memang masih pada 2026. Meski begitu, para penerbang yang bakal mengawakinya harus jauh hari dipersiapkan. Pihak TNI ternyata sudah bergerak cepat menyambut momen itu. Setelah dilantik menjadi KSAU, Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menegaskan slogan AMPUH (adaptif, modern, profesional, unggul, dan humanis) untuk mewujudkan TNI AU memiliki alutsista modern dan sumber daya manusia (SDM) kuat. Menurutnya, TNI AU harus bisa mencapai standar kinerja yang tertinggi dalam setiap aspek operasional.
baca juga: Prabowo Borong 42 Jet Tempur Rafale, Indonesia Semakin Disegani
Demi mengejar tujuan itu, dia intens mengecek perkembangan pengadaan berbagai alutsista beserta infrastrukturnya. KSAU juga mendatangi sejumlah Lanud untuk bertemu langsung dengan prajurit TNI AU, dan memotivasi agar mereka selalu siap menerima dan mengoperasikan alutsista baru. Menurut dia, kedatangan berbagai alutsista canggih dengan profesionalitas prajurit yang mengawakinya akan meningkatkan kekuatan TNI AU mewujudkan Indonesia Air Power yang disegani.
Sejak 2022, enam penerbang TNI AU sudah menjalani pelatihan menerbangkan Dassault Rafale di Prancis. Selain penerbang, turut menjalani pelatihan delapan orang calon teknisi. Calon penerbang tersebut terpilih berdasar beberapa kriteria yang ditetapkan TNI AU.
Kapten Rayak, penerbang Angkatan Udara Prancis yang menerbangkan Dassault Rafale dari Guam ke Jakarta beberapa waktu lalu menuturkan bahwa untuk bisa mengoperasikan pesawat ini, pilot berpengalaman membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Dia pun meyakini para penerbang TNI AU, termasuk yang mengawaki pesawat Hawk-200 juga tidak akan kesulitan.
Melibat talenta para penerbang tempur Indonesia, keseriusan TNI AU menggembleng para calon penerbang, dan pengalaman yang dituturkan Kapten Rayak mengawaki Dassault Rafale, bisa diyakini jajaran airmen TNI AU siap menyambut dan mengoperasikan pesawat kebanggaan ini. Namun harus pula digarisbawahi agar TNI AU memperketat aturan maupun disiplin latihan agar musibah yang menimpa beberapa pesawat tempur tidak lagi terulang. (*)
Slogan AMPUH
Kesiapan para penerbang tempur andal mengoperasikan Dassault Rafale sangat penting bukan sebatas karena harga pesawat yang dibayar dengan uang rakyat tersebut sangat mahal. Satu variabel lagi yang perlu menjadi pertimbangan adalah terjadinya sejumlah kecelakaan pesawat tempur yang mengorbankan para penerbang terbaik bangsa. Walaupun pilot TNI AU terbilang jago, satu keteledoran seringkali berubah menjadi bencana.
Fakta ini bisa ditelusuri dari sejumlah catatan kecelakaan pesawat tempur TNI. Mayoritas kondisi tersebut terjadi saat latihan. Teranyar, menimpa dua pesawat tempur taktis EMB-314 Super Tucano yang jatuh di kawasan Gunung Bormo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (16/11/2023) pukul 12.00 WIB, saat sesi latihan. Dalam musibah itu, empat penerbang gugur. Dua di antaranya perwira tinggi, yakni Marsma TNI (Anumerta) Subhan dan Marma TNI (Anumerta) Widiono Hadiwijaya.
baca juga: Pangkoopsudnas Jajal Kecanggihan Pesawat Tempur Rafale Buatan Prancis
Pesawat T-50i Golden Eagle made in Korsel yang diorientasikan sebagai pesawat latih pernah jatuh di pinggiran Bandara Adisucipto, Yogyakarta (20/22/2015) dan menewaskan dua pilot senior, yakni Letkol Pnb Marda Sarjono dan Kapten Pnb Dwi Cahyadi. Jauh sebelumnya pada 28 Maret 2002, dua pesawat Hawk MK-53 TNI AU dari Skadron 15 Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun bertabrakan saat melakukan manuver ke delapan, victory roll. Yang menyedihkan, empat penerbang tempur terbaik TNI AU gugur.
Dassault Rafale dengan teknologi yang jauh lebih canggih ternyata juga memiliki catatan hitam. Bahkan, musibah baru terjadi pada 14 Agustus 2024. Ceritanya, dua pesawat kebanggaan negeri ayam jantan tersebut bertabrakan saat latihan di bagian timur Prancis. Dua pilot pun menjadi korban. Sebelumnya, pada September 2009, dua pesawat sama juga celakaan kala kembali ke kapal induk Charles de Gaulle.
Berbagai insinden menegaskan bahwa menerbangkan pesawat tempur tidak bisa sembarangan karena risikonya saat tinggi. Dan penting lagi, secanggih-canggih pesawat tempur, maka fungsi strategis tidak bisa berjalan optimal bila sang penerbang tidak bisa menguasai sepenuhnya sesuai kaidah man behind the gun.
Kedatangan 24 pesawat Dassault Rafale yang diborong Indonesia memang masih pada 2026. Meski begitu, para penerbang yang bakal mengawakinya harus jauh hari dipersiapkan. Pihak TNI ternyata sudah bergerak cepat menyambut momen itu. Setelah dilantik menjadi KSAU, Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menegaskan slogan AMPUH (adaptif, modern, profesional, unggul, dan humanis) untuk mewujudkan TNI AU memiliki alutsista modern dan sumber daya manusia (SDM) kuat. Menurutnya, TNI AU harus bisa mencapai standar kinerja yang tertinggi dalam setiap aspek operasional.
baca juga: Prabowo Borong 42 Jet Tempur Rafale, Indonesia Semakin Disegani
Demi mengejar tujuan itu, dia intens mengecek perkembangan pengadaan berbagai alutsista beserta infrastrukturnya. KSAU juga mendatangi sejumlah Lanud untuk bertemu langsung dengan prajurit TNI AU, dan memotivasi agar mereka selalu siap menerima dan mengoperasikan alutsista baru. Menurut dia, kedatangan berbagai alutsista canggih dengan profesionalitas prajurit yang mengawakinya akan meningkatkan kekuatan TNI AU mewujudkan Indonesia Air Power yang disegani.
Sejak 2022, enam penerbang TNI AU sudah menjalani pelatihan menerbangkan Dassault Rafale di Prancis. Selain penerbang, turut menjalani pelatihan delapan orang calon teknisi. Calon penerbang tersebut terpilih berdasar beberapa kriteria yang ditetapkan TNI AU.
Kapten Rayak, penerbang Angkatan Udara Prancis yang menerbangkan Dassault Rafale dari Guam ke Jakarta beberapa waktu lalu menuturkan bahwa untuk bisa mengoperasikan pesawat ini, pilot berpengalaman membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Dia pun meyakini para penerbang TNI AU, termasuk yang mengawaki pesawat Hawk-200 juga tidak akan kesulitan.
Melibat talenta para penerbang tempur Indonesia, keseriusan TNI AU menggembleng para calon penerbang, dan pengalaman yang dituturkan Kapten Rayak mengawaki Dassault Rafale, bisa diyakini jajaran airmen TNI AU siap menyambut dan mengoperasikan pesawat kebanggaan ini. Namun harus pula digarisbawahi agar TNI AU memperketat aturan maupun disiplin latihan agar musibah yang menimpa beberapa pesawat tempur tidak lagi terulang. (*)
(hdr)
Lihat Juga :