Siapkan Penerbang Tempur, Optimalkan Dassault Rafale
Selasa, 20 Agustus 2024 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Dalam suatu simulasi pertempuran udara, Dassault Rafale dilaporkan berhasil mempecundangi F-22A Raptor milik AS. Brandon J Weichert, analis keamanan National Interest -sebuah jurnal pertahanan internasional, mendefinisikan Dassault Rafale sebagai pesawat tempur sangat canggih dan tangguh yang dianggap sebagai salah satu pesawat tempur terbaik di dunia.
Selain itu, dikatakan pula Dassault Rafale memiliki fleksibilitas, jangkauan, kecepatan, dan teknologi canggih yang menjadikannya aset tangguh bagi angkatan udara manapun yang mengoperasikannya. Dengan keunggulan yang dimiliki, Dassault Rafale telah memberikan keunggulan kompetitif bagi Prancis dalam memenangkan kompetisi pasar global.
Namun begitu, target keberadaan Dassault Rafale untuk mendongrak kapabilitas kekuatan udara Indonesia (Indonesia Air Power) yang disegani baru tercapai dengan prasyarat TNI AU bisa menyediakan para penerbang tempur tangguh yang mampu mengoperasionalkan pesawat-pesawat termutakhir tersebut dengan baik. Pertanyaannya, siapkah mereka menyambut tugas tersebut?
Man Behind the Gun
Man behind the gun. Kalimat yang sangat mahsyur di dunia militer ini menggambarkan pentingnya kemampuan prajurit di balik sebuah senjata. Walapun senjatanya jadul atau kalah canggih dibanding milik lawan, namun jika personel yang memegang mahir, maka penggunaan senjata lebih presisi menyasar target ketimbang mereka yang kurang terampil.
Ilustrasi mudah dipahami ditunjukkan prajurit TNI AD dalam ajang tahunan Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM). Sejak berpartisipasi pada 2008, perwakilan TNI AD selalu menjadi kampiun. Fakta ini bukan hanya mengindikasikan kecanggihan senapan serbu SS2-V5 made in PT Pindad hingga bisa mengalahkan senjata terbaik dunia dan memilki nama besar buatan produsen alutsista utama dunia. Tak kalah penting, kapasitas menembak prajurit TNI AD terbukti berada di atas rata-rata prajurit infanteri negara maju seperti AS Inggris, Prancis dan Australia.
baca juga: Indonesia Sepakat Borong 42 Jet Tempur Rafale Prancis
Tentu saja membandingkan pengoperasian senjata serbu dengan pesawat tempur tidak apple to apple. Dari sisi harga, misalnya, penggunaan senjata serbu seperti SS2-V5 relatif tidak memiliki risiko karena harganya hanya berkisaran puluhan juta. edangkan satu unit pesawat Dassault Rafale, seperti disebut per unitnya berhaga sekitar Rp2,7 triliun. Bayangkan bila jatuh, berapa kerugian yang harus ditanggung. Belum lagi nilai intrinsik seorang pilot yang tentu tidak terukur.
Karena itulah, tidak sembarang orang bisa mendapat kualifikasi penerbang pesawat tempur. Mereka yang terpilih sudah pasti memiliki jasmani sehat, otak cerdas, dan mental tangguh. Satu lagi, seperti pernah disampaikan Marsekal TNI (Purn) Yuyu Sutisna saat masih menjabat Kepala Staf TNI AU, penerbang yang sudah mendapat kualifikasi penerbang tempur dituntut terus-menerus mengasah kemampuan dan knowledge karena tantangan tugas kian kompleks dan berat.
Profil seorang pesawat tempur yang tangguh dan terus meng-upgrade kapasitasnya hingga bisa siap kapanpun menerima tugas negara dicontohkan seorang prajurit penerbang Angkatan Laut AS, Letnan Pete ‘Maverick’ Mitchell. Lakon yang diperankan Tom Cruise -baik dalam Top Gun: Maverick yang dirilis 1986 maupun 2022- menggambarkan sosok pilot tempur andal yang menerbangkan pesawat tempur penuh keberanian demi menjalankan misi yang diberikan kepadanya.
Pada Top Gun: Maverick 1986, dia mampu menggeber pesawat F-14 Tomcat untuk melakukan dogfight dan beradu manuver dengan pesawat MIG-28 yang menjadi kebanggaan Uni Sovyet kala itu. Sedangkan pada Top Gun: Maverick 2022, Pete yang digambarkan usianya sudah bertambah 30 tahun mampu menerbangkan F/A-18F Superhornet dan melakukan manuver break the limit. Pada film teranyar, Pete juga kembali menggeber F-14 Tomcat, dan bahkan pesawat generasi 4 itu berhasil mempecundangi pesawat tempur generasi terbaru Rusia, Su-57.
Narasi yang disampaikan dalam sekuel Top Gun adalah keberadaan sosok di balik cockpit pesawat tempur atau man behind the gun sebagai orang terpilih, cerdas, kuat, pemberani, bermental baja, tak pernah berhenti belajar, bisa menerbangkan pesawat apapun, selalu siap menjalankan tugas, dan rela berkoban demi negara. Profil penerbang tempur sempurna seperti dalam film Top Gun inilah idealnya melekat pada setiap penerbang tempur TNI AU.
baca juga: Pembelian Rafale dan Pengembangan SDM Iptek
Personifikasi penerbang tempur yang sempurna tentu hanya sekadar khayalan film Hollywood. Tetapi bukan berarti penerbang tempur TNI tidak bisa meniru sosok Pete ‘Maverick’ Mitchell. Level tersebut bisa dicapai tentu dengan latihan terus-menerus, termasuk untuk menerbangkan pesawat Dassault Rafale. Selama ini penerbang tempur TNI AU baru berpengalaman menerbangkan pesawat generasi 4.0 seperti F-16, Su-27, Su-30, TA-50. Sedangkan Dassault Rafale sudah masuk kategori generasi 4.5.
Walaupun sudah mahir menerbangkan pesawat tempur generasi 4.0, penerbang tempur tidak serta-merta langsung bisa duduk di kemudi cockpit pesawat tempur generasi 4.5. Sebab, dari sisi teknologi banyak pembaharuan telah dilakukan, hingga definisi kecanggihan sudah pasti di atas generasi sebelumnya. Apalagi untuk pesawat Dassault Rafale buatan Prancis, ini merupakan kali pertama TNI AU akan mengoperasikan pesawat tempur made ini negeri Napoleon Bonaparte itu.
Lantas, seperti apa perbedaan pesawat tempur generasi 4.0 dan 4.5? Dari berbagai referensi tersedia, pesawat generasi 4.0 secara umum diidentifikasi telah menggunakan mesin turbofan, sistem kendali fly-by-wire, menerapkan thrust-vectoring-nozzle untuk memacu kemampuan manuver, sistem avionik semakin canggih seperti joint-helmet mounted cueing system, multirole dan BVR pesawat tempur ditingkatkan.
Selain itu, dikatakan pula Dassault Rafale memiliki fleksibilitas, jangkauan, kecepatan, dan teknologi canggih yang menjadikannya aset tangguh bagi angkatan udara manapun yang mengoperasikannya. Dengan keunggulan yang dimiliki, Dassault Rafale telah memberikan keunggulan kompetitif bagi Prancis dalam memenangkan kompetisi pasar global.
Namun begitu, target keberadaan Dassault Rafale untuk mendongrak kapabilitas kekuatan udara Indonesia (Indonesia Air Power) yang disegani baru tercapai dengan prasyarat TNI AU bisa menyediakan para penerbang tempur tangguh yang mampu mengoperasionalkan pesawat-pesawat termutakhir tersebut dengan baik. Pertanyaannya, siapkah mereka menyambut tugas tersebut?
Man Behind the Gun
Man behind the gun. Kalimat yang sangat mahsyur di dunia militer ini menggambarkan pentingnya kemampuan prajurit di balik sebuah senjata. Walapun senjatanya jadul atau kalah canggih dibanding milik lawan, namun jika personel yang memegang mahir, maka penggunaan senjata lebih presisi menyasar target ketimbang mereka yang kurang terampil.
Ilustrasi mudah dipahami ditunjukkan prajurit TNI AD dalam ajang tahunan Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM). Sejak berpartisipasi pada 2008, perwakilan TNI AD selalu menjadi kampiun. Fakta ini bukan hanya mengindikasikan kecanggihan senapan serbu SS2-V5 made in PT Pindad hingga bisa mengalahkan senjata terbaik dunia dan memilki nama besar buatan produsen alutsista utama dunia. Tak kalah penting, kapasitas menembak prajurit TNI AD terbukti berada di atas rata-rata prajurit infanteri negara maju seperti AS Inggris, Prancis dan Australia.
baca juga: Indonesia Sepakat Borong 42 Jet Tempur Rafale Prancis
Tentu saja membandingkan pengoperasian senjata serbu dengan pesawat tempur tidak apple to apple. Dari sisi harga, misalnya, penggunaan senjata serbu seperti SS2-V5 relatif tidak memiliki risiko karena harganya hanya berkisaran puluhan juta. edangkan satu unit pesawat Dassault Rafale, seperti disebut per unitnya berhaga sekitar Rp2,7 triliun. Bayangkan bila jatuh, berapa kerugian yang harus ditanggung. Belum lagi nilai intrinsik seorang pilot yang tentu tidak terukur.
Karena itulah, tidak sembarang orang bisa mendapat kualifikasi penerbang pesawat tempur. Mereka yang terpilih sudah pasti memiliki jasmani sehat, otak cerdas, dan mental tangguh. Satu lagi, seperti pernah disampaikan Marsekal TNI (Purn) Yuyu Sutisna saat masih menjabat Kepala Staf TNI AU, penerbang yang sudah mendapat kualifikasi penerbang tempur dituntut terus-menerus mengasah kemampuan dan knowledge karena tantangan tugas kian kompleks dan berat.
Profil seorang pesawat tempur yang tangguh dan terus meng-upgrade kapasitasnya hingga bisa siap kapanpun menerima tugas negara dicontohkan seorang prajurit penerbang Angkatan Laut AS, Letnan Pete ‘Maverick’ Mitchell. Lakon yang diperankan Tom Cruise -baik dalam Top Gun: Maverick yang dirilis 1986 maupun 2022- menggambarkan sosok pilot tempur andal yang menerbangkan pesawat tempur penuh keberanian demi menjalankan misi yang diberikan kepadanya.
Pada Top Gun: Maverick 1986, dia mampu menggeber pesawat F-14 Tomcat untuk melakukan dogfight dan beradu manuver dengan pesawat MIG-28 yang menjadi kebanggaan Uni Sovyet kala itu. Sedangkan pada Top Gun: Maverick 2022, Pete yang digambarkan usianya sudah bertambah 30 tahun mampu menerbangkan F/A-18F Superhornet dan melakukan manuver break the limit. Pada film teranyar, Pete juga kembali menggeber F-14 Tomcat, dan bahkan pesawat generasi 4 itu berhasil mempecundangi pesawat tempur generasi terbaru Rusia, Su-57.
Narasi yang disampaikan dalam sekuel Top Gun adalah keberadaan sosok di balik cockpit pesawat tempur atau man behind the gun sebagai orang terpilih, cerdas, kuat, pemberani, bermental baja, tak pernah berhenti belajar, bisa menerbangkan pesawat apapun, selalu siap menjalankan tugas, dan rela berkoban demi negara. Profil penerbang tempur sempurna seperti dalam film Top Gun inilah idealnya melekat pada setiap penerbang tempur TNI AU.
baca juga: Pembelian Rafale dan Pengembangan SDM Iptek
Personifikasi penerbang tempur yang sempurna tentu hanya sekadar khayalan film Hollywood. Tetapi bukan berarti penerbang tempur TNI tidak bisa meniru sosok Pete ‘Maverick’ Mitchell. Level tersebut bisa dicapai tentu dengan latihan terus-menerus, termasuk untuk menerbangkan pesawat Dassault Rafale. Selama ini penerbang tempur TNI AU baru berpengalaman menerbangkan pesawat generasi 4.0 seperti F-16, Su-27, Su-30, TA-50. Sedangkan Dassault Rafale sudah masuk kategori generasi 4.5.
Walaupun sudah mahir menerbangkan pesawat tempur generasi 4.0, penerbang tempur tidak serta-merta langsung bisa duduk di kemudi cockpit pesawat tempur generasi 4.5. Sebab, dari sisi teknologi banyak pembaharuan telah dilakukan, hingga definisi kecanggihan sudah pasti di atas generasi sebelumnya. Apalagi untuk pesawat Dassault Rafale buatan Prancis, ini merupakan kali pertama TNI AU akan mengoperasikan pesawat tempur made ini negeri Napoleon Bonaparte itu.
Lantas, seperti apa perbedaan pesawat tempur generasi 4.0 dan 4.5? Dari berbagai referensi tersedia, pesawat generasi 4.0 secara umum diidentifikasi telah menggunakan mesin turbofan, sistem kendali fly-by-wire, menerapkan thrust-vectoring-nozzle untuk memacu kemampuan manuver, sistem avionik semakin canggih seperti joint-helmet mounted cueing system, multirole dan BVR pesawat tempur ditingkatkan.
Lihat Juga :