Prospek Kerja Sama Pertahanan Indonesia-UEA
Senin, 08 Juli 2024 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
Seperti dipaparkan Humas Kemhan, selain memperkuat diplomasi pertahanan untuk merespons situasi global yang semakin dinamis, kunjungan itu juga untuk menjajaki pengadaan alutsista yang diperlukan Indonesia, terutama untuk mencapai target pemenuhan alutsista sesuai dengan Minimum Essential Force (MEF). Di kesempatan itu, Menhan Mohammed bin Ahmed Al Bawardi menunjukkan penerimaan Prabowo sebagai sahabat, dengan mengajak Prabowo berbincang di padang pasir dan meminta mantan Danjen Kopassus itu melepas burung elang milik Menhan UEA untuk berburu.
Selanjutnya pada 2022, di sela-sela menghadiri pameran World Defense Show 2022 di Riyadh, Arab Saudi, Prabowo kembali bertemu dengan Menhan Mohammed Ahmed Al Bowardi untuk membahas kelanjutan kerja sama bidang pertahanan. Fokus pembahasan antara lain pada bidang industri pertahanan dan pendidikan. Langkah ini sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) kerja sama pertahanan antara Kemhan RI dan Kemhan UEA yang ditandatangani Februari 2020 lalu di Abu Dhabi, dan pertemuan Joint Defence Cooperation Plan (JDCP) yang merupakan implementasi dari MoU tersebut.
Beberapa lingkup kerja sama pertahanan antara kedua negara yang telah disepakati dalam MoU tersebut, di antaranya adalah kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi industri pertahanan, peningkatan kapasitas termasuk SDM, dan pertukaran informasi dan pandangan terkait kepentingan kedua negara dalam hal pertahanan dan keamanan.
Melihat kerja sama yang telah dilakukan Indonesia-UEA sejak periode kedua kepemimpinan Jokowi, dapat disimpulkan adanya perkembangan dan intensitas luar biasa dibanding periode sebelumnya, termasuk di periode pertama Jokowi (2014-2019). Kondisi tersebut mencerminkan orientasi politik luar negeri dan bertemunya national interest kedua negara yang saling melengkapi dan menguntungkan.
baca juga: Top! Prabowo Bawa Industri Pertahanan Kerja Sama dengan UEA, Pengamat: Ini Cerdas
Pada sisi personality politics, harus diakui salah satu variabel yang mendukung terwujudnya kedua negeri tersebut adalah kedekatan yang terbangun antara Jokowi-MBZ, sehingga kerja sama yang terwujud tampak tidak sekadar formalitas dengan puncak adanya kesepakatan IUAE-CEPA, tapi persahabatan. Adanya tribute yang diberikan masing-masing kepala negara kepada koleganya itu merupakan bukti kuatnya jalinan persahabatan itu.
Dari berbagai kerja sama yang dicanangkan dalam kesepakatan IUAE-CEPA, tak dapat dimungkiri kerja sama di sektor pertahanan paling menonjol. Selama hampir lima tahun menduduki posisi menteri pertahanan, Prabowo sangat intens memperkuat kerja sama sama pertahanan hingga mendapat medali ‘Zayed’ dari negeri kaya minyak itu.
Tak kalah pentingnya, kerja sama tersebut berjalan kongkret, dengan bukti rajutan kerja sama perusahaan alutsista kedua negara seperti ditunjukkan PT PAL, PT Pindad dan PT DI dari Indonesia dengan counterpart-nya seperti Marakeb Technologies LLC, Calidus LLC, Caracal, Edge Group, Tawazun, dan Lahab. Kerja sama yang terbangun pun semakin luas, bukan sekadar transaksi alutsista, tapi juga kerja sama pemasaran, transfer of technology (ToT), kerjasama riset hingga produksi bersama.
Ambisi Prabowo sebagai presiden terpilih yang bertemu dengan ambisi MBZ yang dikukuhkan saat momen pertemuan di Istana Al Shati, Abu Dhabi, Senin (13/5/2024), menegaskan kemesraan kedua negara akan berlanjut dan diperkuat. Bahkan, arah kerja sama pertahanan sangat mungkin diperluas dan akan mengeksploitasi berbagai peluang strategis lain.
Penguatan dan perluasan sektor kerja sama pertahanan, terutama untuk kebutuhan alutsista karena masing-masing negara memiliki keunggulan komparasi dan kompetifi dalam kapasitas teknologi alutsista. Penguasaan teknologi yang dimiliki UEA tidak bisa dianggap remeh, karena negeri tersebut telah menjalin kerja sama dengan banyak negara maju, termasuk dengan Israel.
baca juga: Genjot Kerja Sama, RI-UEA Targetkan Nilai perdagangan Naik 3 Kali Lipat
Pada 2021 misalnya, Edge Group berkolaborasi Israel Aerospace Industries (IAI). Mereka sepakat membangun kapal tak berawak modular canggih, 170M, yang bisa digunakan untuk tujuan militer sekaligus komersial. Untuk militer, alutsista ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan intelijen, pengawasan, pengintaian, deteksi ranjau, penyisiran dan sebagai platform untuk jenis pesawat tertentu. Kapal itu bahkan dirancang sanggup melakukan misi termasuk mendeteksi kapal selam dan perang anti kapal selam. Sedangkan untuk kepentingan komersial, kendaraan itu dapat digunakan untuk eksplorasi minyak dan gas.
Knowledge yang diperoleh UEA ini sangat mungkin dikolaborasikan dengan PT PAL yang juga tengah merancang kapal selam otonom (KSOT) yang didesain memiliki panjang 25m. PT PAL menyiapkan KSOT untuk operasi tempur ringan dengan pengambilan keputusan dibantu AI. Untuk kapabilitas, kendaraan tempur bawah air ini dilengkapi dengan efektor mematikan, sensor, dan peralatan pemantauan.
Penyatuan kapasitas ini bisa mengakselerasi ambisi kedua negara membangun kemandirian alutsista. Di sisi lain, dengan kemampuan finansial unmilited yang dimiliki negara sultan seperti UEA ini dan kapasitas SDM Indonesia yang sebenarnya tidak kalah dengan negara maju di bidang industri pertahanan, berbagai kerja sama riset dan produksi bersama alutsista akan semakin mudah. (*)
Selanjutnya pada 2022, di sela-sela menghadiri pameran World Defense Show 2022 di Riyadh, Arab Saudi, Prabowo kembali bertemu dengan Menhan Mohammed Ahmed Al Bowardi untuk membahas kelanjutan kerja sama bidang pertahanan. Fokus pembahasan antara lain pada bidang industri pertahanan dan pendidikan. Langkah ini sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) kerja sama pertahanan antara Kemhan RI dan Kemhan UEA yang ditandatangani Februari 2020 lalu di Abu Dhabi, dan pertemuan Joint Defence Cooperation Plan (JDCP) yang merupakan implementasi dari MoU tersebut.
Beberapa lingkup kerja sama pertahanan antara kedua negara yang telah disepakati dalam MoU tersebut, di antaranya adalah kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi industri pertahanan, peningkatan kapasitas termasuk SDM, dan pertukaran informasi dan pandangan terkait kepentingan kedua negara dalam hal pertahanan dan keamanan.
Melihat kerja sama yang telah dilakukan Indonesia-UEA sejak periode kedua kepemimpinan Jokowi, dapat disimpulkan adanya perkembangan dan intensitas luar biasa dibanding periode sebelumnya, termasuk di periode pertama Jokowi (2014-2019). Kondisi tersebut mencerminkan orientasi politik luar negeri dan bertemunya national interest kedua negara yang saling melengkapi dan menguntungkan.
baca juga: Top! Prabowo Bawa Industri Pertahanan Kerja Sama dengan UEA, Pengamat: Ini Cerdas
Pada sisi personality politics, harus diakui salah satu variabel yang mendukung terwujudnya kedua negeri tersebut adalah kedekatan yang terbangun antara Jokowi-MBZ, sehingga kerja sama yang terwujud tampak tidak sekadar formalitas dengan puncak adanya kesepakatan IUAE-CEPA, tapi persahabatan. Adanya tribute yang diberikan masing-masing kepala negara kepada koleganya itu merupakan bukti kuatnya jalinan persahabatan itu.
Dari berbagai kerja sama yang dicanangkan dalam kesepakatan IUAE-CEPA, tak dapat dimungkiri kerja sama di sektor pertahanan paling menonjol. Selama hampir lima tahun menduduki posisi menteri pertahanan, Prabowo sangat intens memperkuat kerja sama sama pertahanan hingga mendapat medali ‘Zayed’ dari negeri kaya minyak itu.
Tak kalah pentingnya, kerja sama tersebut berjalan kongkret, dengan bukti rajutan kerja sama perusahaan alutsista kedua negara seperti ditunjukkan PT PAL, PT Pindad dan PT DI dari Indonesia dengan counterpart-nya seperti Marakeb Technologies LLC, Calidus LLC, Caracal, Edge Group, Tawazun, dan Lahab. Kerja sama yang terbangun pun semakin luas, bukan sekadar transaksi alutsista, tapi juga kerja sama pemasaran, transfer of technology (ToT), kerjasama riset hingga produksi bersama.
Ambisi Prabowo sebagai presiden terpilih yang bertemu dengan ambisi MBZ yang dikukuhkan saat momen pertemuan di Istana Al Shati, Abu Dhabi, Senin (13/5/2024), menegaskan kemesraan kedua negara akan berlanjut dan diperkuat. Bahkan, arah kerja sama pertahanan sangat mungkin diperluas dan akan mengeksploitasi berbagai peluang strategis lain.
Penguatan dan perluasan sektor kerja sama pertahanan, terutama untuk kebutuhan alutsista karena masing-masing negara memiliki keunggulan komparasi dan kompetifi dalam kapasitas teknologi alutsista. Penguasaan teknologi yang dimiliki UEA tidak bisa dianggap remeh, karena negeri tersebut telah menjalin kerja sama dengan banyak negara maju, termasuk dengan Israel.
baca juga: Genjot Kerja Sama, RI-UEA Targetkan Nilai perdagangan Naik 3 Kali Lipat
Pada 2021 misalnya, Edge Group berkolaborasi Israel Aerospace Industries (IAI). Mereka sepakat membangun kapal tak berawak modular canggih, 170M, yang bisa digunakan untuk tujuan militer sekaligus komersial. Untuk militer, alutsista ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan intelijen, pengawasan, pengintaian, deteksi ranjau, penyisiran dan sebagai platform untuk jenis pesawat tertentu. Kapal itu bahkan dirancang sanggup melakukan misi termasuk mendeteksi kapal selam dan perang anti kapal selam. Sedangkan untuk kepentingan komersial, kendaraan itu dapat digunakan untuk eksplorasi minyak dan gas.
Knowledge yang diperoleh UEA ini sangat mungkin dikolaborasikan dengan PT PAL yang juga tengah merancang kapal selam otonom (KSOT) yang didesain memiliki panjang 25m. PT PAL menyiapkan KSOT untuk operasi tempur ringan dengan pengambilan keputusan dibantu AI. Untuk kapabilitas, kendaraan tempur bawah air ini dilengkapi dengan efektor mematikan, sensor, dan peralatan pemantauan.
Penyatuan kapasitas ini bisa mengakselerasi ambisi kedua negara membangun kemandirian alutsista. Di sisi lain, dengan kemampuan finansial unmilited yang dimiliki negara sultan seperti UEA ini dan kapasitas SDM Indonesia yang sebenarnya tidak kalah dengan negara maju di bidang industri pertahanan, berbagai kerja sama riset dan produksi bersama alutsista akan semakin mudah. (*)
(hdr)
Lihat Juga :