Akuisisi PPA-FREMM Italia, Sekadar Transaksional?
Jum'at, 21 Juni 2024 - 11:14 WIB
loading...
A
A
A
baca juga: Memadu Budaya Italia dan Indonesia, Vespa Batik Nongol di Museum Batik Indonesia
Pada akhir 2022 lalu, Menhan Prabowo Subianto dan Menhan Italia Guido Crosetto telah meneguhkan hubungan Indonesia-Italia sebagai negara bersahabat satu sama lain, dan telah lama saling membangun kerja sama di bidang pertahanan dalam kerangka bilateral, seperti dilakukan lewat JDCC. Dan peningkatkan kerja sama pertahanan, khususnya ToT industri pertahanan Italia dengan industri pertahanan Indonesia dan modernisasi alutsista, menjadi salah satu utama pembicaraan mereka.
Akses Alutsista Canggih
Forum JDCC Indonesia-Italia telah membangun kepercayaan antarkedua negara untuk terus meningkatkan kerja sama pertahanan, termasuk mendukung modernisasi alutsista dan industri pertahanan Indonesia. Dalam konteks itulah, Indonesia bisa disebut sebagai prioritas Italia untuk menawarkan kapal perang maupun alutsista tercanggihnya.
Dalam perspektif Indonesia, kecanggihan FREMM kelas Bergamini dan PPA kelas Thaon Di Revel -plus kemampuan Italia melayani rapid acquisition- menjadi alasan rasional Indonesia mengambil kapal perang dari negeri tersebut. Bandingkan dengan pembangunan kapal Fregat Merah Putih di PT PAL yang membutuhkan waktu sekitar 5 tahunan.
Dengan membeli kapal perang Italia, Indonesia bisa mendapat akses memperoleh alutsista canggih seperti sistem rudal arhanud SAAM Aster 15. Rudal inilah yang menjadi jagoan Italia -juga Prancis- untuk disematkan kapal Charles De Gaulle Prancis dan kapal induk Conte Di Cavour Italia. Rudal sama juga menjadi tulang punggung FREMM, Formidable, Type 45 Destroyer, Horizon class.
Untuk negara lain, rudal jenis tersebut hanya digunakan oleh negara yang membeli kapal perang dari dua negeri tersebut, termasuk Singapura dengan Formidabel-nya. Dengan mengakuisisi PPA kelas Thaon Di Revel, Indonesia akan menjadi negara kedua di ASEAN yang memiliki jenis rudal tersebut.
Selain produk kapal perang, Italia dan Indonesia tercatat telah melakukan transaksi sejumlah alutsista, di antaranya disertai ToT. Transaksi dimaksud antara lain Leonardo RAT 31 DL/M. Radar baru pelacak rudal nuklir buatan perusahaan asal Italia Leonardo SpA tersebut telah dikirim pada awal 2023 lalu. Kontrak tersebut mencakup kerja sama dengan perusahaan BUMN domestik, yakni PT LEN.
Kerja sama industri pertahanan Indonesia-Italia juga melibatkan perusahaan swasta. Di antaranya dilakukan Drass Galeazzi Srl. Perusahaan tersebut telah menandatangani MoU dengan PTRepublik Palindo, anak usaha Republikorp asal Batam, untuk joint production produksi kapal selam DG 550 kelas Midget dan autonomous attack submarine.
Kehadiran kapal PPA, radar Leonardo RAT 31 DL/M, kapal selam DG 550 kelas Midget dan Autonomous Attack Submarine, dan ke depan ditambah FREMM atau jenis alutsista modern lain dari Italia tentu akan sangat membantu Indonesia untuk meningkatkan kualitas pertahanan. Ke depan, dengan kerja sama yang diikuti ToT, akan bisa membantu Indonesia mewujudkan kemandirian alutsista.
Bila melihat jalinan kerja sama yang terbangun berpuluh tahun berikut implementasi komitmen kerja sama, maka hubungan Indonesia-Italia terbilang kuat dan sudah teruji waktu. Kondisi demikian dibutuhkan untuk melihat apakah akuisisi alutsista mahal tidak bakal menimbulkan kerugian bagi Indonesia ke depan, termasuk kemungkinan adanya embargo yang menjadi trauma negeri ini.
baca juga: Produsen Sepeda Handmade Asal Italia Basso Ramaikan Persaingan di Indonesia
Optimisme ini juga didukung kemandirian industri alutsista Italia yang cukup matang. Apalagi kebanyakan kerja sama riset dan pengembangan alutsista Italia dilakukan dengan Prancis - seperti pengembangan FREMM dan Rudal Aster, yang juga memiliki hubungan diplomatik kuat dengan Indonesia dan memiliki pandangan politik luar negeri independen.
Piranti penting yang dibenamkan pada PPA maupun FREMM pun hampir semuanya produksi nasionalnya, seperti bagian electronic warfare-decoys dan persenjataan. Dengan begitu, Italia tidak memiliki ketergantungan dengan industri pertahanan luar negeri yang berpontensi mengganggu kerja sama pertahanan Italia.
Sikap politik Italia yang mengedepankan kepentingan nasional ketimbang terkungkung dengan kepentingan negara sekutu -baik AS maupun UE- seperti ditunjukkan saat meneken kerja sama BRI dengan China, juga bisa menggaransi kuatnya kerja sama pertahanan dan industri alutsista dengan Indonesia.
Dengan memahami realitas tersebut, maka transaksi alutsista dengan Italia bisa dianggap sebagai pragmatisme karena murni kepentingan bisnis. Tapi di sisi lain, kondisi tersebut juga mencerminkan sisi idealis karena kerja sama pertahanan dan industri pertahanan Indonesia-Italia telah memiliki fondasi kuat, dan memiliki potensi besar untuk berkembang dan saling menguntungkan di masa mendatang. (*)
Pada akhir 2022 lalu, Menhan Prabowo Subianto dan Menhan Italia Guido Crosetto telah meneguhkan hubungan Indonesia-Italia sebagai negara bersahabat satu sama lain, dan telah lama saling membangun kerja sama di bidang pertahanan dalam kerangka bilateral, seperti dilakukan lewat JDCC. Dan peningkatkan kerja sama pertahanan, khususnya ToT industri pertahanan Italia dengan industri pertahanan Indonesia dan modernisasi alutsista, menjadi salah satu utama pembicaraan mereka.
Akses Alutsista Canggih
Forum JDCC Indonesia-Italia telah membangun kepercayaan antarkedua negara untuk terus meningkatkan kerja sama pertahanan, termasuk mendukung modernisasi alutsista dan industri pertahanan Indonesia. Dalam konteks itulah, Indonesia bisa disebut sebagai prioritas Italia untuk menawarkan kapal perang maupun alutsista tercanggihnya.
Dalam perspektif Indonesia, kecanggihan FREMM kelas Bergamini dan PPA kelas Thaon Di Revel -plus kemampuan Italia melayani rapid acquisition- menjadi alasan rasional Indonesia mengambil kapal perang dari negeri tersebut. Bandingkan dengan pembangunan kapal Fregat Merah Putih di PT PAL yang membutuhkan waktu sekitar 5 tahunan.
Dengan membeli kapal perang Italia, Indonesia bisa mendapat akses memperoleh alutsista canggih seperti sistem rudal arhanud SAAM Aster 15. Rudal inilah yang menjadi jagoan Italia -juga Prancis- untuk disematkan kapal Charles De Gaulle Prancis dan kapal induk Conte Di Cavour Italia. Rudal sama juga menjadi tulang punggung FREMM, Formidable, Type 45 Destroyer, Horizon class.
Untuk negara lain, rudal jenis tersebut hanya digunakan oleh negara yang membeli kapal perang dari dua negeri tersebut, termasuk Singapura dengan Formidabel-nya. Dengan mengakuisisi PPA kelas Thaon Di Revel, Indonesia akan menjadi negara kedua di ASEAN yang memiliki jenis rudal tersebut.
Selain produk kapal perang, Italia dan Indonesia tercatat telah melakukan transaksi sejumlah alutsista, di antaranya disertai ToT. Transaksi dimaksud antara lain Leonardo RAT 31 DL/M. Radar baru pelacak rudal nuklir buatan perusahaan asal Italia Leonardo SpA tersebut telah dikirim pada awal 2023 lalu. Kontrak tersebut mencakup kerja sama dengan perusahaan BUMN domestik, yakni PT LEN.
Kerja sama industri pertahanan Indonesia-Italia juga melibatkan perusahaan swasta. Di antaranya dilakukan Drass Galeazzi Srl. Perusahaan tersebut telah menandatangani MoU dengan PTRepublik Palindo, anak usaha Republikorp asal Batam, untuk joint production produksi kapal selam DG 550 kelas Midget dan autonomous attack submarine.
Kehadiran kapal PPA, radar Leonardo RAT 31 DL/M, kapal selam DG 550 kelas Midget dan Autonomous Attack Submarine, dan ke depan ditambah FREMM atau jenis alutsista modern lain dari Italia tentu akan sangat membantu Indonesia untuk meningkatkan kualitas pertahanan. Ke depan, dengan kerja sama yang diikuti ToT, akan bisa membantu Indonesia mewujudkan kemandirian alutsista.
Bila melihat jalinan kerja sama yang terbangun berpuluh tahun berikut implementasi komitmen kerja sama, maka hubungan Indonesia-Italia terbilang kuat dan sudah teruji waktu. Kondisi demikian dibutuhkan untuk melihat apakah akuisisi alutsista mahal tidak bakal menimbulkan kerugian bagi Indonesia ke depan, termasuk kemungkinan adanya embargo yang menjadi trauma negeri ini.
baca juga: Produsen Sepeda Handmade Asal Italia Basso Ramaikan Persaingan di Indonesia
Optimisme ini juga didukung kemandirian industri alutsista Italia yang cukup matang. Apalagi kebanyakan kerja sama riset dan pengembangan alutsista Italia dilakukan dengan Prancis - seperti pengembangan FREMM dan Rudal Aster, yang juga memiliki hubungan diplomatik kuat dengan Indonesia dan memiliki pandangan politik luar negeri independen.
Piranti penting yang dibenamkan pada PPA maupun FREMM pun hampir semuanya produksi nasionalnya, seperti bagian electronic warfare-decoys dan persenjataan. Dengan begitu, Italia tidak memiliki ketergantungan dengan industri pertahanan luar negeri yang berpontensi mengganggu kerja sama pertahanan Italia.
Sikap politik Italia yang mengedepankan kepentingan nasional ketimbang terkungkung dengan kepentingan negara sekutu -baik AS maupun UE- seperti ditunjukkan saat meneken kerja sama BRI dengan China, juga bisa menggaransi kuatnya kerja sama pertahanan dan industri alutsista dengan Indonesia.
Dengan memahami realitas tersebut, maka transaksi alutsista dengan Italia bisa dianggap sebagai pragmatisme karena murni kepentingan bisnis. Tapi di sisi lain, kondisi tersebut juga mencerminkan sisi idealis karena kerja sama pertahanan dan industri pertahanan Indonesia-Italia telah memiliki fondasi kuat, dan memiliki potensi besar untuk berkembang dan saling menguntungkan di masa mendatang. (*)
(hdr)
Lihat Juga :