Kapal Bekas dan Masa Depan Kerja Sama Alutsista Indonesia-Korsel

Senin, 10 Juni 2024 - 05:17 WIB
loading...
A A A
Namun belakangan muncul persoalan terkait performa kapal selam yang diproduksi Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Co Ltd tersebut, hingga TNI AL disebut tidak mengoperasikannya karena pertimbangan risiko. Atas alasan itulah, akuisisi batch II yang direncanakan membangun tiga kapal Chang Bogo tidak lagi menjadi prioritas. Padahal konon, DSME sudah memesan sejumlah spare part untuk persiapan produksi Batch II.

Begitupun proyek kerja sama KFX-IFX juga menemui banyak ganjalan. Kondisi yang terjadi belakangan diperumit dengan munculnya drama penahanan seorang insinyur Indonesia dengan tuduhan mencuri teknologi jet di Korea Aerospace Industries (KAI), produsen KF-21 Boromae.Yang bersangkutan tertangkap pada bulan Januari saat mencoba meninggalkan fasilitas KAI dengan perangkat penyimpanan USB yang berisi data tentang jet tempur tersebut.

Selain program kerja sama alutsista di atas, Indonesia-Korsel sebenarnya masih ada jual beli pengadaan enam jet tempur latih T-50i senilai total USD240 juta atau berkisar Rp3,4 triliun rupiah pada 2021. Langkah ini merupakan kelanjutan akuisisi 16 unit pesawat T-50 Golden Eagle senilai USD400 juta yang dilakukan tepat satu dekade sebelumnya.

Dilihat dari tiga transaksi tersebut, tampak sekali indikasi tingginya rasa saling percaya antar-kedua pihak, termasuk dari sisi Indonesia berani menjadi pembeli pertama alutsista sekelas kapal selam dan pesawat tempur yang notabene belum battle proven.

Di sisi lain, Korsel bermurah hati memberikan ToT demi mendukung visi Indonesia membangun kemandirian alutsista. Apalagi kemudian ToT kapal LPD sukses besar, di mana PT PAL tidak hanya bisa membangun kapal perang berukuran besar tersebut, tapi juga mampu mengembangkan dan mengekspornya.

Baru kemudian muncul persoalan serius dalam transaksi kapal selam Chang Bogo dan proyek KFX/IFX. Pada kasus kapal selam Chan Bogo, Indonesia bisa dikatakan terlalu nekad membeli alutsista strategis dari negara non-pemain utama kapal selam, seperti Jerman dan Prancis. Sedangkan kendala proyek KFX-IFX terjadi karena ternyata Korsel memiliki ketergantungan pada AS pada teknologi kunci, sedangkan di sisi lain Indonesia harus diakui bukan negeri sekutu yang bisa mendapat privellege AS untuk mendapatkan teknologi canggih produk mereka maupun mengembangkan alutsista.

Di luar persoalan teknis, di era kepemimpinan Jokowi dengan menteri pertahanan dipegang Prabowo Subianto, Indonesia sesungguhnya menunjukkan intensifitas belanja alutsista. Hanya saja, orientasi yang ditunjukkan mantan Danjen Kopassus adalah membeli alutsista grade A dan dari negara pemain utama alutsista dan bisa menjadi sahabat Indonesia. Fakta ini terlihat dari akuisi pesawat tempur Rafale, kapal selam Scorpene Evolved, dan fregat kelas Thaon di Revel dari Italia.

Di sisi lain, Indonesia juga mereorientasi pembelian alutsista dari negara yang memiliki independensi dalam membangun alutsista dan bersedia memberikan ToT, dengan tujuan mengurangi resiko embargo dan menggapi kemandirian alutsista. Pilihan ini jatuh pada Turki. Belakangan, akuisisi maupun kerjasama dengan negeri Ottoman itu berlangsung sangat progresif, dengan beragam poin transaksi mulai dari kapal perang, drone tempur, sistem manajemen tempur hingga rudal.

Jika berkaca pada fakta-fakta di atas, kerja sama alutsista Indonesia-Korsel yang mengalami puncak kejayaan di era Presiden SBY, justru mengalami penurunan meski kerja sama kedua negara sudah pada level special strategic partnership. Dengan tampilnya Prabowo sebagai presiden terpilih dengan personality politic-nya yang ditunjukkan selama menjabat menteri pertahanan, masa depan kerja sama alutsista Indonesia-Korsel terancam kian suram.

baca juga: Kontroversi Lonjakan Utang untuk Belanja Alutsista

Kondisi demikian diperberat dengan agresivitas produsen utama alutsista dunia seperti Prancis dan Turki dalam mendekati Indonesia, dan kesediaan mereka memenuhi tuntutan dan kebutuhan Kemhan-TNI untuk mendapatkan state of the art alutsista dan memberikan kemudahan ToT untuk mendukung program kemandirian alutsista. Persaingan pun membuat Korsel semakin tersisih.

Kendati demikin, Indonesia-Korsel adalah dua negara bersahabat yang sudah teruji saling mendukung satu-satu sama lain selama 50 tahun hubungan berlangsung, hingga kerja sama diplomasi menapak level begitu tinggi. Terlebih kerja sama saling-menguntungkan yang dilakukan bukan hanya dalam bidang alutsista saja, tapi juga pada banyak bidang lain seperti menjadi komitmen special strategic partnership.

Karena itulah, Indonesia perlu menjaga agar hubungan kerja sama alutsista dengan Korsel tetap baik-baik saja, walaupun tidak seintensif sebelumnya. Pembelian Korvet Kelas Pohang bisa menjadi salah satu upaya yang dilakukan tujuan tersebut. Tentu saja ke depan situasi bisa berubah bila Korsel bisa menyaingi Prancis atau Turki dalam konteks kualitas alutsista ataupun memenuhi komitmen ToT tanpa terbelenggu kebijakan negara lain, terutama AS. (*)
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
5 Calon Manajer Kopdes...
5 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal, Kemhan Ganti Nama Latsarmil
Lima Korban SPPI dan...
Lima Korban SPPI dan Momentum Membenahi Program Bela Negara bagi Sipil
5 Peserta Meninggal...
5 Peserta Meninggal Dunia, Kemhan Evaluasi Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih
Peserta SPPI Meninggal...
Peserta SPPI Meninggal Akibat TBC, Tim Seleksi Ungkap Pemeriksaan Awal hanya Terdeteksi Infeksi Paru
5 Peserta SPPI Meninggal...
5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Ini Kronologi Tiap Kasus
Kembali Bertambah, 5...
Kembali Bertambah, 5 Orang Meninggal Dunia saat Latsarmil Calon Manajer KDKMP/KNMP
Kostrad Run 2026 di...
Kostrad Run 2026 di Monas, Warga Senang Lihat Alutsista
Surat Netanyahu Ungkap...
Surat Netanyahu Ungkap Upaya Israel Ganti Bantuan AS dengan Integrasi Militer: Rencana Saya
Ini 4 Keunggulan Senjata...
Ini 4 Keunggulan Senjata Laser Cheongwang Buatan Korea Selatan
Rekomendasi
Gunung Merapi Luncurkan...
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Sejauh 2 Kilometer Mengarah ke Hulu Kali Boyong
Mengapa Waktu Seolah...
Mengapa Waktu Seolah Melambat ketika Bahaya Datang?
Belajar Agama Lewat...
Belajar Agama Lewat Media Sosial, Ini Etika yang Harus Diperhatikan Muslim
Berita Terkini
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan Roy Suryo Jilid 2 Digelar di PN Jaksel 10 Juli 2026
Kejagung Sita 104 Ton...
Kejagung Sita 104 Ton Timah Milik Terpidana Tamron di Bangka Belitung
Program MBG Perkuat...
Program MBG Perkuat Keadilan Sosial Melalui Pemenuhan Gizi
Pancasila yang Kita...
Pancasila yang Kita Peringati, Pancasila yang Kita Khianati
Praperadilan Roy Suryo...
Praperadilan Roy Suryo Dikabulkan Sebagian, Pakar Hukum Pidana: Tak Batalkan Status Tersangka dan Pokok Perkara
Prabowo Puji India:...
Prabowo Puji India: Penduduk 1,4 Miliar, Transisi Pemerintahan Damai
Infografis
Perbandingan Jumlah...
Perbandingan Jumlah Muslim antara India, Pakistan, dan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved