Kapal Bekas dan Masa Depan Kerja Sama Alutsista Indonesia-Korsel
Senin, 10 Juni 2024 - 05:17 WIB
loading...
A
A
A
baca juga: Memborong Alutsista, Indonesia dalam Ancaman Perang?
Seperti tercantum dalam websitewww.kemlu.go.id, dalam kunjungan bertema “Republic of Korea-Republic of Indonesia Joint Vision Statement for Co-Prosperity and Peace",Presiden Moon Jae-in dan koleganya Presiden Joko Widodo bersepakat meningkatkan status kemitraan strategic partnership menjadispecial strategic partnership.
Kemitraan baru berfokus kerja sama pada empat area, yakni pertahanan dan hubungan luar negeri, perdagangan bilateral dan pembangunan infrastruktur,people-to-people exchanges, serta kerja sama regional dan global. Penguatan hubungan dan kerja sama bilateral tepat dilakukan karena komplementaritas sumber daya dan keunggulan masing-masing negara. Di sisi lain, kemajuan ekonomi dan kerja sama politik kedua negara yang terjadi, mendorong peluang kerja sama di berbagai sektor semakin terbuka lebar.
Dalam bidang ekonomi misalnya, Korsel merupakan salah satu negara sumber investasi yang strategis. Indonesia menempati urutan ke-2 setelah Vietnam di antara 8 negara ASEAN (19.10%) dan ke-3 dari 91 negara tujuan investasi Korea di dunia (7.47%). Korsel juga merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.
Pun hubungan militer dan pertahanan kedua negara juga mengalami akselerasi. Momentum ditandai dengan kerja sama pengadaan alutsista dari industri pertahanan Korsel untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI. Akuisisi yang dilakukan Indonesia antara lain Panser Tarantula untuk TNI AD,SubmarineChangbogo Classuntuk TNI AL, dan pesawat latih temput T-50iGolden Eagleserta pesawat latih ringan KT-1B untuk TNI AU.
Istimewanya, belanja senjata tersebut di antaranya juga diikuti dengan transfer of technology (ToT), seperti kapal selam Chang Bogo dan Panser Tarantula. Sebelumnya, TNI AL juga membeli kapal landing platform doc (LPD) Kelas Banjarmasin, dengan skema sebagian kapal dibangun di galangan kapal nasional PT PAL Surabaya. Sebaliknya, Korsel membeli alutsita made in berupa pesawat CN-235 untuk digunakan olehRepublic of Korea Air Force(ROKAF) danKorean Coast Guard(KCG) sebagai bentuk imbal dagang.
Selain pembelanjaan alutsista, hubungan militer Indonesia-Korsel juga diwarnai pelaksanaan latihan personel militer pada fasilitas latihanPresidential Security Service(PSS) Korsel. Pertukaran kunjungandelegasi militer juga berlangsung dengan frekuensi tinggi. Kedua negara pun saling mengirim personel militernya untuk melaksanakan tugas belajar di berbagai tingkatan.
Buku Putih Pertahanan juga menegaskan Korsel sebagai mitra penting Indonesia dalam pembangunan kapabilitas pertahanan dan peningkatan profesionalisme prajurit TNI. Disebutkan Indonesia dan Korsel telah memiliki kesepakatan kerja sama di bidang pertahanan.
baca juga: Galangan Kapal Swasta Terdepan Dorong Kemandirian Alutsista
Kerja sama pertahanan dimaksud antara lain dialog bilateral rutin dan konsultasi tentang isu-isu strategis dan keamanan; pertukaran pengalaman dan informasi pertahanan; pertukaran personel untuk pendidikan; pelatihan profesional; kunjungan dan penelitian bersama; pertukaran data ilmiah dan teknologi, para ahli, teknisi, pelatih dan kerja sama teknis lain sesuai kepentingan pertahanan; peningkatan kerja sama kedua angkatan bersenjata; bantuan dan dukungan logistik pertahanan; dan pengadaan alutsista.
Tersisih dari Persaingan
Momentum kemesraan kerja sama Indonesia-Korsel sudah terjadi pada 2004 kala pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memborong 4 unit kapal LPD kelas Makassar buatan Daesun Shipbuilding & Engineering Co. dengan skema ToT, yakni 2 kapal dibangun Korsel dan 2 lainnya dibangun di PT PAL. Transfer knowledge yang diperoleh pun membuat PT PAL bisa membangun dan mendesain ulang kapal jenis tersebut, dan bahkan mengekspornya ke Filiphina dan Uni Emirate Arab (UEA).
Setelah kerja sama LPD yang sukses besar, kerja sama alutsista Indonesia-Korsel menunjukkan tren semakin intensif yang ditandai dengan akuisisi kapal selam Chang Bogo pada akhir 2011 dan proyek prestisius kerja sama pembangunan KFX-IFX yang sama-sama terjadi di era Presiden SBY. Untuk kapal selam, Indonesia-Korsel telah menyelesaikan batch I yang menghasilkan KRI Nagapasa-403, KRI Ardadeli-404, dan KRI Alugoro-405.
Seperti tercantum dalam websitewww.kemlu.go.id, dalam kunjungan bertema “Republic of Korea-Republic of Indonesia Joint Vision Statement for Co-Prosperity and Peace",Presiden Moon Jae-in dan koleganya Presiden Joko Widodo bersepakat meningkatkan status kemitraan strategic partnership menjadispecial strategic partnership.
Kemitraan baru berfokus kerja sama pada empat area, yakni pertahanan dan hubungan luar negeri, perdagangan bilateral dan pembangunan infrastruktur,people-to-people exchanges, serta kerja sama regional dan global. Penguatan hubungan dan kerja sama bilateral tepat dilakukan karena komplementaritas sumber daya dan keunggulan masing-masing negara. Di sisi lain, kemajuan ekonomi dan kerja sama politik kedua negara yang terjadi, mendorong peluang kerja sama di berbagai sektor semakin terbuka lebar.
Dalam bidang ekonomi misalnya, Korsel merupakan salah satu negara sumber investasi yang strategis. Indonesia menempati urutan ke-2 setelah Vietnam di antara 8 negara ASEAN (19.10%) dan ke-3 dari 91 negara tujuan investasi Korea di dunia (7.47%). Korsel juga merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.
Pun hubungan militer dan pertahanan kedua negara juga mengalami akselerasi. Momentum ditandai dengan kerja sama pengadaan alutsista dari industri pertahanan Korsel untuk memenuhi kebutuhan alutsista TNI. Akuisisi yang dilakukan Indonesia antara lain Panser Tarantula untuk TNI AD,SubmarineChangbogo Classuntuk TNI AL, dan pesawat latih temput T-50iGolden Eagleserta pesawat latih ringan KT-1B untuk TNI AU.
Istimewanya, belanja senjata tersebut di antaranya juga diikuti dengan transfer of technology (ToT), seperti kapal selam Chang Bogo dan Panser Tarantula. Sebelumnya, TNI AL juga membeli kapal landing platform doc (LPD) Kelas Banjarmasin, dengan skema sebagian kapal dibangun di galangan kapal nasional PT PAL Surabaya. Sebaliknya, Korsel membeli alutsita made in berupa pesawat CN-235 untuk digunakan olehRepublic of Korea Air Force(ROKAF) danKorean Coast Guard(KCG) sebagai bentuk imbal dagang.
Selain pembelanjaan alutsista, hubungan militer Indonesia-Korsel juga diwarnai pelaksanaan latihan personel militer pada fasilitas latihanPresidential Security Service(PSS) Korsel. Pertukaran kunjungandelegasi militer juga berlangsung dengan frekuensi tinggi. Kedua negara pun saling mengirim personel militernya untuk melaksanakan tugas belajar di berbagai tingkatan.
Buku Putih Pertahanan juga menegaskan Korsel sebagai mitra penting Indonesia dalam pembangunan kapabilitas pertahanan dan peningkatan profesionalisme prajurit TNI. Disebutkan Indonesia dan Korsel telah memiliki kesepakatan kerja sama di bidang pertahanan.
baca juga: Galangan Kapal Swasta Terdepan Dorong Kemandirian Alutsista
Kerja sama pertahanan dimaksud antara lain dialog bilateral rutin dan konsultasi tentang isu-isu strategis dan keamanan; pertukaran pengalaman dan informasi pertahanan; pertukaran personel untuk pendidikan; pelatihan profesional; kunjungan dan penelitian bersama; pertukaran data ilmiah dan teknologi, para ahli, teknisi, pelatih dan kerja sama teknis lain sesuai kepentingan pertahanan; peningkatan kerja sama kedua angkatan bersenjata; bantuan dan dukungan logistik pertahanan; dan pengadaan alutsista.
Tersisih dari Persaingan
Momentum kemesraan kerja sama Indonesia-Korsel sudah terjadi pada 2004 kala pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memborong 4 unit kapal LPD kelas Makassar buatan Daesun Shipbuilding & Engineering Co. dengan skema ToT, yakni 2 kapal dibangun Korsel dan 2 lainnya dibangun di PT PAL. Transfer knowledge yang diperoleh pun membuat PT PAL bisa membangun dan mendesain ulang kapal jenis tersebut, dan bahkan mengekspornya ke Filiphina dan Uni Emirate Arab (UEA).
Setelah kerja sama LPD yang sukses besar, kerja sama alutsista Indonesia-Korsel menunjukkan tren semakin intensif yang ditandai dengan akuisisi kapal selam Chang Bogo pada akhir 2011 dan proyek prestisius kerja sama pembangunan KFX-IFX yang sama-sama terjadi di era Presiden SBY. Untuk kapal selam, Indonesia-Korsel telah menyelesaikan batch I yang menghasilkan KRI Nagapasa-403, KRI Ardadeli-404, dan KRI Alugoro-405.
Lihat Juga :