Mahfud MD Ingatkan Pentingnya Islam Wasathiyah
Senin, 17 Agustus 2020 - 20:59 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, perkembangan Islam juga maju pesat. Tak ada larangan kegiatan keagamaan. Di kabinet, kantor kementerian, BUMN, kantor pemerintahan, banyak musala dan acara kajian keagamaan yang tumbuh subur dan gampang ditemui.
"Di kantor polisi ada pengajian, Kapolresnya pintar ngaji, pintar dakwah. Di kantor TNI juga demikian. Di kampus-kampus, Islam sudah terang-terangan. Dulu sampai akhir 70-80 malu-malu. Pakai jilbab jarang. Sekarang semua pakai jilbab. Tidak ada sekali lagi islamplophobi saat ini. Kalau ada yang bilang, itu pihak yang kalah saja. Karena yang diserang mereka juga memperjuangkan Islam," bebernya.
Sementara itu, Mendagri Tito Karnavian, membeberkan perkembangan geopolitik dunia yang berubah sejak tahun 2.000-an. Peristiwa dan aksi terorisme mengatasnamakan agama mulai muncul sejak aksi 11 September 2001.
"Inilah yang mengubah geopolitik dunia. Amerika belum pernah diserang di jantungnya. Amerika membuat global war on terror. Indonesia pun beruntun dikejutkan peristiwa Bom Bali. Disusul berbagai peristiwa teror berikutnya," katana.
Ternyata, lanjut Tito, ada perbedaan dalam akidah Islam. Hampir semua pelaku teror mengatakan sedang berjihad. Padahal, ini pemahaman yang keliru.
"Saya melihat ada satu set narasi yang sama dalam melakukan aksi kekerasan. Mereka banyak sekali menyitir dari satu sumber. Sumber-sumber dari Timur Tengah. Konsep jihad bagi mereka adalah jihad peperangan, qital, bahkan hukumnya wajib ain, bukan fardlu khifayah. Jihad ini bahkan seperti rukun Islam keenam. Bagi mereka, harus dilaksanakan," tuturnya.
Artinya, lanjut Tito, harus ada perang narasi. Mengubah dan meluruskan narasi jihad yang salah selama ini. Moderasi narasi atau counter narasi juga harus disertai ayat-ayat Alquran dan Hadis.
"Buku Fikih Kebangsaan ini sangat penting menjadi counter narasi untuk seluruh pihak. Buku ini, saya baca, saya lega. Ini yang ketiga dari Lirboyo. NU memang benteng NKRI, salah satu pendiri NKRI," ujarnya.
"Di kantor polisi ada pengajian, Kapolresnya pintar ngaji, pintar dakwah. Di kantor TNI juga demikian. Di kampus-kampus, Islam sudah terang-terangan. Dulu sampai akhir 70-80 malu-malu. Pakai jilbab jarang. Sekarang semua pakai jilbab. Tidak ada sekali lagi islamplophobi saat ini. Kalau ada yang bilang, itu pihak yang kalah saja. Karena yang diserang mereka juga memperjuangkan Islam," bebernya.
Sementara itu, Mendagri Tito Karnavian, membeberkan perkembangan geopolitik dunia yang berubah sejak tahun 2.000-an. Peristiwa dan aksi terorisme mengatasnamakan agama mulai muncul sejak aksi 11 September 2001.
"Inilah yang mengubah geopolitik dunia. Amerika belum pernah diserang di jantungnya. Amerika membuat global war on terror. Indonesia pun beruntun dikejutkan peristiwa Bom Bali. Disusul berbagai peristiwa teror berikutnya," katana.
Ternyata, lanjut Tito, ada perbedaan dalam akidah Islam. Hampir semua pelaku teror mengatakan sedang berjihad. Padahal, ini pemahaman yang keliru.
"Saya melihat ada satu set narasi yang sama dalam melakukan aksi kekerasan. Mereka banyak sekali menyitir dari satu sumber. Sumber-sumber dari Timur Tengah. Konsep jihad bagi mereka adalah jihad peperangan, qital, bahkan hukumnya wajib ain, bukan fardlu khifayah. Jihad ini bahkan seperti rukun Islam keenam. Bagi mereka, harus dilaksanakan," tuturnya.
Artinya, lanjut Tito, harus ada perang narasi. Mengubah dan meluruskan narasi jihad yang salah selama ini. Moderasi narasi atau counter narasi juga harus disertai ayat-ayat Alquran dan Hadis.
"Buku Fikih Kebangsaan ini sangat penting menjadi counter narasi untuk seluruh pihak. Buku ini, saya baca, saya lega. Ini yang ketiga dari Lirboyo. NU memang benteng NKRI, salah satu pendiri NKRI," ujarnya.
Lihat Juga :