Mahfud MD Ingatkan Pentingnya Islam Wasathiyah
Senin, 17 Agustus 2020 - 20:59 WIB
loading...
A
A
A
Rais Syuriah PCINU Australia dan Selandia Baru KH Nadirsyah Hosen (Gus Nadirs) menlai, buku Fiqih Kebangsaan III ini sangat penting. Karena dapat mengisi ruang kosong dalam fikih siyasah dan tema-tema khilafah. Buku ini disebutnya bukan pesanan pemerintah, juga bukan dari orang liberal. Ini jelas murni dari Lirboyo. Rujukannya pun sangat komplit.
"Buku ini khas manhaj pesantren. Metodologi ini sangat kokoh dan solid. Ini luar biasa, mestinya dikaji dan dibaca juga oleh kelompok di luar pesantren dan kalangan NU. Harus dicetak, dimasukkan kurikilum baik pesantren maupun sekolah umum. Insya Allah bermanfaat," tandasnya.
Serupa, Gus Mus pun sangat bergembira. Gus Mus mengusulkan tiga edisi buku ini dijadikan satu dan disebarluaskan tidak hanya untuk kalangan pesantren Nahdliyin.
Sebagai catatan, Gus Mus menambahkan pemahaman jihad yang kurang dalam buku ini. Perlu ditambah pemahaman jihad melawan kebodohan. Sebab, sekarang ini, selain korupsi dan pandemi, yang paling harus dilakukan adalah jihad melawan kebodohan untuk menghilangkan kebodohan dan yang tak mau belajar yang tengah menyeruak sekarang ini.
"Banyak yang enggak mengerti tentang agama, bicara soal agama. Ini amat gawat. Padahal ini soal ruh. Bikin celaka banyak orang. Ini harus diluruskan, salah satunya dengan buku ini," ujar Gus Mus.
Ketua Umum Himpunan Alumni Ponpes Lirboyo KH A Kafabihi Mahrus mengatakan, buku ini disusun oleh Lajnah Lembaga Bahtsul Masail Alumni Ponpes Lirboyo, Jawa Timur.
"Kami bangga dan bersyukur terbitnya fikih kebangsaan III ini. Agama dan pemerintahan harus beriringan. Posisi agama sebagai pondasi, ulama sebagai penjaga dari paham yang tidak baik. Pemerintah menjaga negara melanjutkan keberadaan NKRI. Kuseksesan sebuah bangsa tidak lepas dari para pendahulu, salah satunya ulama dan masayikh," tuturnya.
Lirboyo, lanjut Kiai Kafabihi, terpanggil untuk ikut mengurusi masalah kebangsaan yang kini mendapat ancaman.
"Buku ini khas manhaj pesantren. Metodologi ini sangat kokoh dan solid. Ini luar biasa, mestinya dikaji dan dibaca juga oleh kelompok di luar pesantren dan kalangan NU. Harus dicetak, dimasukkan kurikilum baik pesantren maupun sekolah umum. Insya Allah bermanfaat," tandasnya.
Serupa, Gus Mus pun sangat bergembira. Gus Mus mengusulkan tiga edisi buku ini dijadikan satu dan disebarluaskan tidak hanya untuk kalangan pesantren Nahdliyin.
Sebagai catatan, Gus Mus menambahkan pemahaman jihad yang kurang dalam buku ini. Perlu ditambah pemahaman jihad melawan kebodohan. Sebab, sekarang ini, selain korupsi dan pandemi, yang paling harus dilakukan adalah jihad melawan kebodohan untuk menghilangkan kebodohan dan yang tak mau belajar yang tengah menyeruak sekarang ini.
"Banyak yang enggak mengerti tentang agama, bicara soal agama. Ini amat gawat. Padahal ini soal ruh. Bikin celaka banyak orang. Ini harus diluruskan, salah satunya dengan buku ini," ujar Gus Mus.
Ketua Umum Himpunan Alumni Ponpes Lirboyo KH A Kafabihi Mahrus mengatakan, buku ini disusun oleh Lajnah Lembaga Bahtsul Masail Alumni Ponpes Lirboyo, Jawa Timur.
"Kami bangga dan bersyukur terbitnya fikih kebangsaan III ini. Agama dan pemerintahan harus beriringan. Posisi agama sebagai pondasi, ulama sebagai penjaga dari paham yang tidak baik. Pemerintah menjaga negara melanjutkan keberadaan NKRI. Kuseksesan sebuah bangsa tidak lepas dari para pendahulu, salah satunya ulama dan masayikh," tuturnya.
Lirboyo, lanjut Kiai Kafabihi, terpanggil untuk ikut mengurusi masalah kebangsaan yang kini mendapat ancaman.
(dam)
Lihat Juga :