alexametrics

Ideologi Pancasila Gambarkan Cita-cita Masyarakat Peradaban Tinggi

loading...
Ideologi Pancasila Gambarkan Cita-cita Masyarakat Peradaban Tinggi
Peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Adnan Anwar. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Pancasila merupakan kristalisasi nilai yang ada di masyarakat Indonesia yang berketuhanan, berkeadilan,  dan memiliki tradisi bermusyawarah dan sudah sepakat untuk membangun kesatuan nasional.

Untuk itu masyarakat harus bisa mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam berbangsa dan bernegara untuk keutuhan negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI).



“Tentunya hal tersebut harus dipertahankan. Masyarakat kita harus memperkuat ini karena Pancasila ini adalah peninggalan yang sangat luar biasa dari sejarahnya karena merupakan suatu gagasan narasi besar yang harus kita akui,” ujar Peneliti di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Adnan Anwar di Jakarta, Kamis 4 Oktober 2018.    

Menurut dia, Pancasila merupakan sebuah karya besar dari kehebatan para founding fathers bangsa Indonesia dalam meracik sebuah ideologi jalan tengah, di luar ideologi Islam dan ideologi sekuler liberal atau barat.

Para fOUnding fathers bangsa ini dapat ‘meracik’ ideologi Pancasila ini sebagai ideologi khas Nusantara. “Terbukti selama 73 tahun ideologi ini masih bisa dipraktikkan, meskipun dari sisi kualitas memang terus menerus didalami oleh masyarakat kita. Pancasila ini sebenarnya punya suatu gambaran cita-cita masyarakat yang ideal, bahwa masyarakat nusantara yang ber-Pancasila ini sebenarnya masyarakat yang berperadaban tinggi,” tuturnya.  

Tokoh Muda organisasi Nahdatul Ulama (NU) ini menilai, dengan memiliki peradaban yang tinggi, sejatinya masyarakat Indonesia tidak perlu lagi menoleh peradaban lain. Sebab, bangsa Indonesia ini merupakan adiluhung atau memiliki seni budaya yang bermutu tinggi dengan memiliki keberadaan, berketuhanan, memiliki moralitas dan akhlakul karimah.

“Itu ada semua di masyarakat bangsa Indonesia ini. Jadi dengan begitu tidak perlu ada imajinasi liar yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi di luar Pancasila. Karena ini kristalisasi ideologi yang sudah sangat luar biasa yang digagas oleh para founding fathers kita,” katanya.

Bahkan, menurut dia, saat ini justru banyak negara-negara lain mengamati perkembangan Pancasila ini mengaguminya dan bahkan sebagian lain ada negara yang ingin meniru ideologi Pancasila sebagai ideologi jalan tengah dan tinggal dipraktikkan.

“Negara luar saja banyak yang ingin mencontoh dan meniru Pancasila. Kan sangat aneh kalau justru masyarakat kita yang ingin meninggalkan Pancasila. Tentunya akan berbahaya bagi bangsa ini karena dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat karena orang tersebut menjadi radikal yang negatif seperti anti Pancasila, anti NKRI dan bahkan bisa bersikap intoleransi,” tutur mantan Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU)

Namun demikian dirinya mengakui bahwa sejak reformasi bergulir, pelajaran yang mengandung Pancasila di lembaga-lembaga pendidikan seperti agak berkurang akibat terjadinya gelombang liberalisasi di negara ini.

Dia mengatakan, akibat dari liberalisasi dan arus globalisasi itu membuat masyarakat Indonesia  mulai banyak menengok pada ideologi di luar idelologi Pancasila.

“Mereka ini terpengaruh ideologi-ideologi barat yang ada di Eropa atau di Amerika atau dari beberapa negara Islam yang menerapkan konsep syariat Islam. Mereka melihat seperti itu. Tapi sebenarnya ideologi-ideologi seperti itu di banyak jaman dan di banyak era itu malah banyak mengalami problematik di level negara, bangsa maupun masyarakat itu,” tuturnya.

 

Menurut dia, sejak reformasi, bangsa Indonesia seperti kurang percaya diri dengan ideologi Pancasila. Hal ini tak dapat dipungkirinya karena selama ini ideologi Pancasila itu ditampilkan menjadi ideologi tertutup yang represif.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak