Ekonomi Minus 5,32%, Fadel Minta Jokowi Lakukan Langkah Berani

Jum'at, 07 Agustus 2020 - 17:39 WIB
loading...
Ekonomi Minus 5,32%,...
Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad. FOTO/SINDOnews/Abdul Rochim
A A A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik ( BPS ) merilis kondisi ekonomi pada Kuartal II/2020 mengalami minus hingga 5,32%. Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad pun meminta agar pemerintah tidak menganggap enteng persoalan ini dan segera melakukan terobosan yang berani agar kondisi genting ini segera bisa diatasi.

"Menurut saya, kita harus mengambil langkah-langkah yang berani. Misalnya membatasi bayar utang untuk kita gunakan membiayai ekonomi kecil," ujarnya di sela Media Expert Meeting bertema Sidang Tahunan MPR RI, Konvensi Ketatanegaraan dalam Rangka Laporan Kinerja Lembaga Negara di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/8/2020). (Baca juga: Ekonomi Minus 5,32%, DPR Optimistis Penyaluran Bansos Pacu Perbaikan)

Fadel berharap dalam Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2020 mendatang, Presiden Jokowi bisa memanfaatkan untuk menyampaikan pesan yang bisa memberikan harapan kepada rakyat di tengah situasi yang serba sulit saat ini.

"Pada kesempatan nanti jangan hanya menyampaikan hal biasa-biasa saja. Presiden harus menyampaikan sesuai yang membawa harapan bagi masyarakat, terutama menyangkut kondisi ekonomi. Kalau ini gak ada, saya percaya kondisi akan lebih buruk lagi," kata Wakil Ketua MPR dari unsur DPD ini. (Baca juga: Sasar 13,8 Juta Pekerja, Begini Mekanisme Penyaluran Bansos Karyawan)

Mantan Gubernur Gorontalo ini mengatakan, sejauh ini belum ada tanda-tanda perbaikan substansial yang dilakukan pemerintah dalam penanganan Covid-19 dan dampaknya. "Hanya beberapa hal, perbaiki sana, bikin tim ekonomi, tapi apa yang dibikin tidak kelihatan. Orang menunggu-nunggu. Sekarang sudah semakin hari semakin berkurang tingkat kesabarannya. Ini sudah memuncak. Kalau Presiden tidak menyampaikan sesuatu maka akan repot," katanya.

Mantan politikus Partai Golkar ini mengatakan, saat ini keluhan dari berbagai daerah semakin besar akibat pendapatan daerah yang menurun karena pemasukan dari pajak tidak maksimal. Akibatnya, mereka kesulitan membiayai kebutuhan pemerintah daerah.

"DKI juga minus, Jabar, beberapa daerah lain, semakin hari semakin repot. Saya yakin ini akan ada bencana berat di daerah karena tidak mampu lagi (menanggung beban) karena daerah semakin parah," katanya.

Menurut Fadel, Presiden Jokowi mengeluh bahwa belanja negara masih kurang maksimal. Bahkan, hingga Agustus 2020, tingkat belanja baru 30%. "Ini artinya kurang kerja. Ada yang cuma 24%. Ini ada yang salah dalam mengelola pemerintahan. Ketika saya jadi gubernur, saya sangat keras dalam spending (belanja) karena ini berbanding lurus dengan kondisi ekonomi," tuturnya.

Menurut dia, saat ini banyak PNS di daerah yang tidak bisa bekerja dengan baik karena keadaan yang semakin parah. "Kalau ini terus berlangsung, saya khawatir ini akan terjadi sesuatu. Saya kurang percaya dengan ulasan-ulasan manis yang mengatakan Indonesia akan bla...bla...bla.," tandasnya.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini melanjutkan, sejauh ini rakyat masih "dininabobokkan" dengan anggapan sebagai negara yang akan cepat recovery. "Itu manis-manis mulut saja padahal orang teriak daya beli tak ada. Maka kita harapkan Presiden harus menyampaikan harapan. Kalau tidak akan terjadi sesuatu yang akan menyesal di kemudian hari," ungkapnya.

Karena itu, kata Fadel, pemerintah harus segera membuat terobosan kebijakan untuk segera keluar dari kondisi sulit saat ini. "Tidak boleh menunggu. Sekarang ini diam saja. Dana di perbankan ada tapi nggak bergerak, UKM mandek, kredit tanpa agunan banyak tapi nggak ada kebijakan khusus. Kami panggil OJK, BI, ada duit tapi langkah mereka saling tunggu satu dengan yang lain," katanya.
(nbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dampak Pandemi Covid-19,...
Dampak Pandemi Covid-19, Munculkan Kepedulian yang Nyata bagi Sesama
Kepala BIN Budi Gunawan...
Kepala BIN Budi Gunawan Beri Peringatan Winter is Coming, Begini Kata Pengamat Keamanan
Ekonomi Lokal Benteng...
Ekonomi Lokal Benteng Hadapi Resesi
Podcast Aksi Nyata:...
Podcast Aksi Nyata: Pemuda Perindo Bagikan Tips Hadapi Resesi
Merenda Optimisme dalam...
Merenda Optimisme dalam Histeria Ekonomi
Presiden Jokowi Dorong...
Presiden Jokowi Dorong Kemitraan ASEAN-Uni Eropa: Harus Didasari Kesetaraan
Antisipasi Krisis, Ini...
Antisipasi Krisis, Ini Isi Pertemuan Prabowo dan Tokoh Ekonomi Nasional di Istana
WHO Warning Angka Kasus...
WHO Warning Angka Kasus Covid-19 Akibat NB.1.8.1Terus Melonjak Cepat
Risiko Resesi Amerika...
Risiko Resesi Amerika Semakin Besar, Begini Isi Ramalan Goldman Sachs
Rekomendasi
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Berita Terkini
Kasus Tudingan Ijazah...
Kasus Tudingan Ijazah Segera Disidang, Pengacara Pastikan Jokowi Hadir
Qodari: Haji 2026 Lancar,...
Qodari: Haji 2026 Lancar, Masa Tunggu Dipangkas dan Layanan Ditingkatkan
KPK Perpanjang Penahanan...
KPK Perpanjang Penahanan Eks Wamen Imipas Silmy Karim Cs selama 40 Hari
Prabowo Teken UU Polri,...
Prabowo Teken UU Polri, Pakar Optimistis Kepolisian Jadi Institusi yang Modern dan Presisi
6 Poin Pernyataan Roy...
6 Poin Pernyataan Roy Suryo dan Dokter Tifa setelah Penahanan Ditangguhkan
Tim Hukum Merah Putih:...
Tim Hukum Merah Putih: Tawaran RJ untuk Roy Suryo dan Dokter Tifa Bukan Ajakan Jokowi
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved