Menjaga Geliat Konsumsi Masyarakat

Senin, 27 November 2023 - 15:32 WIB
loading...
A A A
Berkaca pada kondisi ekonomi saat ini, daya beli masyarakat dan tingkat inflasi yang rendah memegang peran sentral dalam menciptakan lingkungan ekonomi yang kondusif untuk pertumbuhan yang berkelanjutan bagi Indonesia di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global. Menjaga daya beli masyarakat dan mendorong inflasi yang rendah memiliki dampak positif pada konsumsi, investasi, dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Daya beli masyarakat menciptakan dasar bagi konsumsi, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan ekonomi. Tatkala masyarakat memiliki daya beli yang stabil atau meningkat, maka masyarakat cenderung lebih termotivasi untuk melakukan pembelian barang dan jasa.

Hal tersebut selanjutnya akan memberikan dorongan positif pula pada sektor swasta untuk berproduksi. Terkait hal ini, konsumsi pemerintah melalui belanja pemerintah dapat menjadi salah satu instrumen kebijakan yang efektif untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan tingkat inflasi.

Saat ini, konsumsi pemerintah melalui penyaluran belanja barang, belanja pegawai, dan belanja modal perlu didorong lebih cepat untuk bisa memberi dampak langsung dalam menjaga daya beli masyarakat serta memicu multiplier effect terhadap perekonomian. Belanja pemerintah diharapkan dapat menciptakan lingkungan ekonomi yang stabil, mendukung daya beli masyarakat, dan pada saat yang sama juga dapat memitigasi risiko inflasi.

Sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat, pemerintah dapat mengalokasikan dana pada program-program kesejahteraan sosial, termasuk bantuan sosial langsung, subsidi kebutuhan pokok, dan program kesehatan yang terjangkau untuk memberikan dukungan langsung kepada kelompok masyarakat yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi.

Bantuan tunai langsung dan subsidi makanan, misalnya, dapat membantu menjaga daya beli kelompok ekonomi menengah ke bawah, menciptakan efek positif pada konsumsi. Selain itu, salah satu strategi lain yang juga dapat diadopsi adalah konsumsi pemerintah melalui belanja modal yang dapat meningkatkan kapasitas produksi ekonomi tanpa secara drastis meningkatkan permintaan agregat.

Mitigasi Dampak Dinamika Ekonomi Pada Industri
Di tengah penurunan daya beli dan melemahnya nilai tukar Rupiah yang mempengaruhi produksi, industri pengolahan masih terus berkontribusi terhadap perekonomian nasional. BPS merilis bahwa pada periode ini sektor industri pengolahan tumbuh 5,20% (yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi yang sebesar 4,94% pada periode yang sama. Angka tersebut cukup membuktikan bahwa Indonesia tidak sedang dalam proses deindustrialisasi dini.

Industri manufaktur tetap tumbuh positif dan mengesankan dibanding dengan industri manufaktur negara tetangga lainnya. Bahkan pertumbuhannya melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, hal ini sekaligus menjadi sumber terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2023.

Sektor industri kembali menduduki peringkat pertama atau menyumbang investasi terbesar yaitu 41,2% terhadap realisasi investasi nasional (sebesar Rp433,9 triliun) sepanjang Januari – September 2023. Angka tersebut naik 18,8% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Di sisi ketenagakerjaan, sektor industri pengolahan juga menyerap 19,35 juta atau 13,83% dari total pekerja. Akan tetapi, meski saat ini kinerja sektor industri menunjukkan tren positif, namun pemerintah tetap perlu waspada tatkala ancaman pelemahan ekonomi global belum usai.

Kondisi ekonomi global dan iklim perdagangan dunia secara langsung dapat berpengaruh terhadap volume perdagangan sektor industri, terutama yang bergerak di bidang ekspor, akibat berkurangnya permintaan global akibat pertumbuhan ekonomi di negara-negara tujuan ekspor melambat dan harga komoditas. Artinya, pada kondisi saat inipenting bagi peran pemerintah untuk melakukan mitigasi dampak dinamika ekonomi pada kinerja industri yang dapat menyebabkan penurunan upah tidak dapat diabaikan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
BI Rate Naik dan Rupiah...
BI Rate Naik dan Rupiah (tetap) Melemah
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
Istana Buka Suara soal...
Istana Buka Suara soal Variabel Kejatuhan Rupiah ke Rp18.000: Singgung Kemandirian Ekonomi
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Menkeu Purbaya Tegaskan...
Menkeu Purbaya Tegaskan Fiskal Bukan Tumbal Agar Ekonomi RI Tumbuh Cepat
Rekomendasi
Tsunami Tercatat di...
Tsunami Tercatat di 9 Wilayah Indonesia Pascagempa M7,7 di Filipina
Tak Hanya Iran, Houthi...
Tak Hanya Iran, Houthi Yaman Juga Tembakkan Rudal ke Israel
BMKG: Peringatan Dini...
BMKG: Peringatan Dini Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Filipina Berakhir
Berita Terkini
KPK Panggil 2 Tersangka...
KPK Panggil 2 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Kapolri Buka Peluang...
Kapolri Buka Peluang Sipil Duduki Jabatan di Polri, Pakar: Modernisasi Kelembagaan
Fokus Belanja Negara
Fokus Belanja Negara
Said Iqbal Bakal Dilantik...
Said Iqbal Bakal Dilantik Prabowo Jadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan Sore Ini
Korlantas Polri Tunda...
Korlantas Polri Tunda Pelaksanaan Operasi Patuh Jaya 2026
25 Wilayah Indonesia...
25 Wilayah Indonesia Berpotensi Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Mindanao Filipina
Infografis
PPN Naik Jadi 12%, Masyarakat...
PPN Naik Jadi 12%, Masyarakat Beralih ke Frugal Living
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved