Gemoy tapi Kejam: Kisah Kekejaman Dinasti Kim Jong-un
Minggu, 26 November 2023 - 17:40 WIB
loading...
A
A
A
Selain dengan kultus, Kim membangun kejayaan dan memupuk kebanggaan rakyat Korut dengan mitos megaproyek senjata nuklir yang digadang-gadang bisa melindungi rakyat Korut dari ancaman luar. Walau megaproyek itu dijalankan ditengah rakyatnya yang kelaparan.
Namun Kim berhasil menciptakan strategi propaganda dengan memompa kebanggaan tak bernalar hingga rakyatnya yakin bahwa satu-satunya jalan untuk melindungi keutuhan Korut dari ancaman Barat adalah senjata nuklir. Maka Trump kerap menyebut Kim dengan julukan “Rocket Man”, si manusia roket.
Orang-orang China menyebutnya si “Gendut”, karena kegemarannya melahap steak dan sushi hingga menenggak sampanye mahal membuat berat badan Kim kian membengkak. John McCain, senator Amerika Serikat menyebutnya “pria gendut yang gila”. Media-media Barat menjulukinya sebagai “Kim Fatty”, bayi gemuk yang manja (gemoy).
Kim pun marah dengan julukan yang bernada olok-olok itu. Hingga dia meminta Pemerintah China memblokir pencarian internet dan media sosial untuk kata kunci "Fatty Kim the Third", atau yang berarti "Kim (Generasi) Ketiga Gendut", ejekan yang kerap digunakan para netizen untuk mengolok-olok pemimpin Kim.
Gemoy tapi kejam. Itulah gambaran Kim di mata para netizen dunia. Olok-olok gendut itu kerap muncul ketika Kim melancarkan uji coba rudal dan nuklir. Namun dibalik olok-olok gemoy pada diri Kim itu ada sebuah kritik keras dari para netizen kepada seorang pemimpin berbadan gendut yang bygot, despotik dan kejam yang hingga kini membawa negaranya dalam isolasi totaliter ditengah dunia yang sudah maju pesat.
Tentu kita memilih pemimpin tak sekadar dilihat dari postur badan. Tak sekedar melihat ia gemoy atau bukan. Walau gembrot dalam peradababan keagamaan layaknya Islam dan Kristiani, pertanda ketidakmampuan seseorang mengendalikan nafsu duniawi. Sehingga agama pun menganjurkan umatnya untuk berpuasa.
Untuk itu, Thomas Wright, seorang puritan Inggri abad ke-17, meneyebut kegemukan adalah fenomena kultural, fenomena kebudayaan. Baik dalam kultur Barat dan Timur, kegemukan pertanda “kerakusan”. Dalam sains modern, kegemukan pertanda potensi bertumpuknya penyakit, bermula dari rumus sederhana; orang makan melebihi kebutuhan alami tubuh.
Namun Kim berhasil menciptakan strategi propaganda dengan memompa kebanggaan tak bernalar hingga rakyatnya yakin bahwa satu-satunya jalan untuk melindungi keutuhan Korut dari ancaman Barat adalah senjata nuklir. Maka Trump kerap menyebut Kim dengan julukan “Rocket Man”, si manusia roket.
Orang-orang China menyebutnya si “Gendut”, karena kegemarannya melahap steak dan sushi hingga menenggak sampanye mahal membuat berat badan Kim kian membengkak. John McCain, senator Amerika Serikat menyebutnya “pria gendut yang gila”. Media-media Barat menjulukinya sebagai “Kim Fatty”, bayi gemuk yang manja (gemoy).
Kim pun marah dengan julukan yang bernada olok-olok itu. Hingga dia meminta Pemerintah China memblokir pencarian internet dan media sosial untuk kata kunci "Fatty Kim the Third", atau yang berarti "Kim (Generasi) Ketiga Gendut", ejekan yang kerap digunakan para netizen untuk mengolok-olok pemimpin Kim.
Gemoy tapi kejam. Itulah gambaran Kim di mata para netizen dunia. Olok-olok gendut itu kerap muncul ketika Kim melancarkan uji coba rudal dan nuklir. Namun dibalik olok-olok gemoy pada diri Kim itu ada sebuah kritik keras dari para netizen kepada seorang pemimpin berbadan gendut yang bygot, despotik dan kejam yang hingga kini membawa negaranya dalam isolasi totaliter ditengah dunia yang sudah maju pesat.
Tentu kita memilih pemimpin tak sekadar dilihat dari postur badan. Tak sekedar melihat ia gemoy atau bukan. Walau gembrot dalam peradababan keagamaan layaknya Islam dan Kristiani, pertanda ketidakmampuan seseorang mengendalikan nafsu duniawi. Sehingga agama pun menganjurkan umatnya untuk berpuasa.
Untuk itu, Thomas Wright, seorang puritan Inggri abad ke-17, meneyebut kegemukan adalah fenomena kultural, fenomena kebudayaan. Baik dalam kultur Barat dan Timur, kegemukan pertanda “kerakusan”. Dalam sains modern, kegemukan pertanda potensi bertumpuknya penyakit, bermula dari rumus sederhana; orang makan melebihi kebutuhan alami tubuh.
(poe)
Lihat Juga :