Di Ende, Wajah Bung Karno Kini Tengah Muram

loading...
Di Ende, Wajah Bung Karno Kini Tengah Muram
Taman Renungan Bung Karno adalah salah satu situs Presiden Pertama RI di Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Selain Taman Renungan, di kota ini juga ada rumah pengasingan Bung Karno. Sayangnya kondisi situs ini kurang terawat karena keterbatasan biaya
A+ A-
ENDE - Kota Ende yang berada di Kabupaten Ende, Kepulauan Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki sejarah tersendiri dalam cerita perjalanan bangsa ini. Di sanalah, bapak pendiri bangsa Ir Soekarno melahirkan konsep dasar negara yang di kemudian hari dikenal dengan Pancasila. Sayangnya hari-hari ini, wajah Presiden Pertama Indonesia yang diabadikan di sana sedang muram.

Ende memang wilayah terpencil. Justru karena itulah Pemerintahan India Belanda pada saat itu memilihnya untuk menjadi pengasingan Bung Karno. Selama empat tahun si bung bersama Inggit Garnasih (istri), Ibu Asmi (mertua), Ratna Djuani, dan Kartika (anak angkat), menjalani hari-hari sepinya. Di sana Bung Karno tinggal di rumah kecil milik Abdullah Ambuwaru. Rumah sederhana itu tidak bernomor dan berada di tengah rumah penduduk yang beratap ilalang.

Setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengunjungi Ende untuk pertama kalinya pada 1951. Ia bertemu Abdullah Ambuwaru dan meminta agar rumah tempat tinggalnya itu dijadikan museum. Pada kesempatan kunjungan yang kedua tepatnya pada 1954, Soekarno meresmikan rumah tersebut sebagai Situs Rumah Bung Karno pada 16 Mei 1954. (Baca: Serbu Penjara di Afghaistan, Anggota ISIS Bebaskan Ratusan Tahanan)

Tak jauh dari Situs Rumah Bung Karno, terdapat Taman Renungan Bung Karno atau ada pula yang menyebut Taman Renungan Pancasila. Lokasinya berada di Kelurahan Rukun Lima. Di taman itu, tepatnya di bawah pohon sukun, Bung Karno dulu memikirkan tentang Pancasila. Kawasan Taman Renungan Soekarno sering dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kreasi seni dan budaya, serta diskusi.

Pada Selasa (28/7/2020), KORAN SINDO bersama rombongan Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid berkesempatan datang ke lokasi bersejarah itu untuk melihat langsung Taman Perenungan Bung Karno. Sayangnya, taman tersebut kini kondisinya sangat memprihatinkan. Area taman dipenuhi dengan sampah dedaunan.



Patung Bung Karno yang sedang duduk merenung juga terlihat kusam kurang terawat bahkan dindingnya berlumut. Patung Bung Karno sedang merenung itu menghadap ke arah Pantai Ria. Di bawah patung seharusnya ada kolam air mancur, namun kini kondisinya kering berkarat. Dinding di sekitar patung catnya juga banyak yang kusam dan mengelupas. Begitu pula lantai kayu banyak yang sudah lapuk tak terurus.

Sementara di samping patung, terdapat pohon sukun yang masih tumbuh segar nan hijau. Namun, pohon sukun tersebut bukan pohon sukun yang sama dengan ketika Bung Karno berteduh dan sering merenung di bawahnya. Sebab, pohon sukun yang awal tersebut sudah tumbang sejak 1960. Sementara pohon sukun yang tumbuh sekarang merupakan pohon yang ditanam pada 1981. Namun, ada kesamaan yakni sama-sama memiliki lima cabang yang sering dikaitkan pula dengan lima sila. (Baca juga: Terapkan New Normal, Lokasi Makam Bung Karno Akan Dibuka Kembali untuk Peziarah)

Taman dan Patung Perenungan Bung Karno itu diresmikan Wakil Presiden saat itu, Boediono pada 2013. Di bawah pohon sukun terdapat lambang Garuda. "Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila." Kutipan kata-kata emas Sang Proklamator Bung Karno itu terukir di sebuah batu marmer hitam di bawah pohon sukun tersebut. "Ini patung Bung Karno sedang merenung, tapi sedih," ujar Jazilul Fawaid menggambarkan kondisi Taman dan Patung Bung Karno.

Tak jauh dari Taman Perenungan Bung Karno, terdapat Situs Rumah Pengasingan Bung Karno yang berada di Jalan Perwira Ende. Berbeda dengan kondisi Taman Renungan Bung Karno yang kurang terawat, Situs Rumah Pengasingan Bung Karno terlihat masih terawat dengan bagus.

Dalam catatan sejarah, Situs Bung Karno mulai direnovasi pada 1 Mei 2012 dengan dimulai peletakan batu pertama. Selanjutnya pada 23 Juni 2012 resmi dilakukan renovasi total mulai dari dinding, lantai, sampai atap, tetapi tidak mengubah bangunan lama.



Rencana renovasi merupakan inisiatif Wakil Presiden Boediono yang berkunjung ke Ende pada 2009 dalam rangka menelusuri jejak pelopor utama kemerdekaan. Kondisi rumah ini masih terawat dengan baik. Di halaman rumah terdapat patung Bung Karno yang sedang berdiri tegak.

Di dalam rumah terdapat benda-benda peninggalan Bung Karno, seperti lukisan di dinding, akta nikah dengan Ibu Inggit, berbagai macam perabotan rumah, serta 2 tongkat yang biasa digunakan oleh Bung Karno. Kamar tidur Bung Karno terdapat di bagian tengah, berhadapan dengan 1 kamar tidur lain yang diisi mertua dan anak angkatnya. (Baca juga: Turis Timor Leste, Malaysia, dan China Paling Banyak Datang ke Indonesia)

Di bagian belakang rumah terdapat sebuah sumur, kamar mandi, dan dapur yang terlihat seperti sedia kala. Sumur tersebut hingga kini airnya masih jernih. Umumnya, pengunjung yang datang kerap kali menimba air untuk sekadar membasuh muka atau berkumur. Seperti yang dilakukan Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid yang langsung menimba air dan mengusap wajahnya. "Segar sekali," ungkapnya.

Gus Jazil mengatakan, Bung Karno menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. "Di Kota Ende ini sebenarnya Proklamator kita, Bung Karno, menemukan di bawah pohon sukun ini, lima mutiara di bawah pohon sukun, tapi kondisi yang ada memprihatinkan. Ini bahkan ibarat kandang ayam," tuturnya.

Karena itu, dirinya mengajak semua kalangan, baik pihak swasta maupun pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk ikut datang ke Ende dan menyelesaikan situs Taman Bung Karno yang juga sebagai Taman Perenungan Pancasila.

"Kalau lihat kondisinya begini, kecil sekali kita melihat Pancasila ini. Di tempatnya ditemukan, bukan mutiara kalau ini, ini batu kayak batu kali, nggak ada harganya. Padahal ini view-nya bagus ke laut," keluhnya.

Sebagai Wakil Ketua MPR, Gus Jazil juga mengajak para praktisi pendidikan yang memiliki keahlian desain tata kota untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran untuk membangun kembali situs bersejarah tersebut.

"Kita ingin menguatkan Empat Pilar, tapi masa di tempat ditemukannya pilar besar yang disebut dengan Pancasila, suasana memprihatinkan, gak selesai. Itu artinya kita tidak memberikan penghargaan. Saya miris. Karena itu setelah ini, saya bersama dengan Pak Bupati akan berkampanye untuk merawat situs ini," katanya.
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top