Soal Lonjakan Kasus Positif COVID-19, Epidemiolog: Ini Risiko yang Sudah Diprediksi
Selasa, 04 Agustus 2020 - 06:10 WIB
loading...
Pakar Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navila Yamani menilai tren bertambahnya 1.000 kasus di Indonesia adalah risiko dari adanya pelonggaran yang diberlakukan saat ini. Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Tren lonjakan kasus positif COVID-19 di Indonesia masih terus terjadi hingga saat ini. Bahkan, angka penambahan kasus positifnya dalam sehari mencapai angka 1.000.
Mengenai hal itu, Pakar Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navila Yamani menilai tren bertambahnya 1.000 kasus di Indonesia adalah risiko dari adanya pelonggaran yang diberlakukan saat ini. (Baca juga: Massifkan Tes PCR, DKI Temukan 489 Kasus Baru Positif Covid-19)
"Ini risiko yang sudah diprediksi sebelumya bahwa pasti akan ada penyebaran kasus dan pengendaliannya akan menjadi lebih sulit ketika tidak dilakukan PSBB (pembatasan sosial bersekala besar)," ujar Laura saat dihubungi di Jakarta, Selasa (4/8/2020).
Dia menyebutkan bahwa ada faktor lainnya yang membuat angka kasus baru COVID-19 masih tinggi. Salah satunya masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan. "Tapi memang juga ketika masyarakat juga tidak mau dan tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan ini juga akan lebih meningkatkan lagi," jelasnya.
"Karena memang pergerakan dari masyarakat sudah tidak dibatasi artinya untuk mengendalikan penyebaran itu kan menurunkan peluang dengan cara menerapkan protokol kesehatan," imbuhya.
Mengenai hal itu, Pakar Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navila Yamani menilai tren bertambahnya 1.000 kasus di Indonesia adalah risiko dari adanya pelonggaran yang diberlakukan saat ini. (Baca juga: Massifkan Tes PCR, DKI Temukan 489 Kasus Baru Positif Covid-19)
"Ini risiko yang sudah diprediksi sebelumya bahwa pasti akan ada penyebaran kasus dan pengendaliannya akan menjadi lebih sulit ketika tidak dilakukan PSBB (pembatasan sosial bersekala besar)," ujar Laura saat dihubungi di Jakarta, Selasa (4/8/2020).
Dia menyebutkan bahwa ada faktor lainnya yang membuat angka kasus baru COVID-19 masih tinggi. Salah satunya masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan. "Tapi memang juga ketika masyarakat juga tidak mau dan tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan ini juga akan lebih meningkatkan lagi," jelasnya.
"Karena memang pergerakan dari masyarakat sudah tidak dibatasi artinya untuk mengendalikan penyebaran itu kan menurunkan peluang dengan cara menerapkan protokol kesehatan," imbuhya.
Lihat Juga :