Soal Lonjakan Kasus Positif COVID-19, Epidemiolog: Ini Risiko yang Sudah Diprediksi

loading...
Soal Lonjakan Kasus Positif COVID-19, Epidemiolog: Ini Risiko yang Sudah Diprediksi
Pakar Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navila Yamani menilai tren bertambahnya 1.000 kasus di Indonesia adalah risiko dari adanya pelonggaran yang diberlakukan saat ini. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Tren lonjakan kasus positif COVID-19 di Indonesia masih terus terjadi hingga saat ini. Bahkan, angka penambahan kasus positifnya dalam sehari mencapai angka 1.000.

Mengenai hal itu, Pakar Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navila Yamani menilai tren bertambahnya 1.000 kasus di Indonesia adalah risiko dari adanya pelonggaran yang diberlakukan saat ini. (Baca juga: Massifkan Tes PCR, DKI Temukan 489 Kasus Baru Positif Covid-19)

"Ini risiko yang sudah diprediksi sebelumya bahwa pasti akan ada penyebaran kasus dan pengendaliannya akan menjadi lebih sulit ketika tidak dilakukan PSBB (pembatasan sosial bersekala besar)," ujar Laura saat dihubungi di Jakarta, Selasa (4/8/2020).

Dia menyebutkan bahwa ada faktor lainnya yang membuat angka kasus baru COVID-19 masih tinggi. Salah satunya masyarakat yang abai dengan protokol kesehatan. "Tapi memang juga ketika masyarakat juga tidak mau dan tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan ini juga akan lebih meningkatkan lagi," jelasnya.



"Karena memang pergerakan dari masyarakat sudah tidak dibatasi artinya untuk mengendalikan penyebaran itu kan menurunkan peluang dengan cara menerapkan protokol kesehatan," imbuhya.

Sebelumnya diketahui, pemerintah kembali melaporkan jumlah kasus positif COVID-19 di Tanah Air. Tercatat kasus positif virus Corona (COVID-19) hingga 3 Agustus 2020 bertambah 1.679 kasus. Sehingga akumulasi sebanyak 113.134 orang.

Data penambahan kasus positif COVID-19 di Indonesia kini dipublikasikan oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19 di https://www.covid19.go.id dan laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/.



Dari penambahan sebanyak 1.679 kasus positif tersebut, Jawa Timur dan DKI Jakarta menyumbangkan kasus baru tertinggi. Di mana jawa Timur mengalami penambahan kasus baru sebanyak 478 kasus, sehingga total menjadi 22.982 kasus, dan masih menempati tertinggi kasus COVID-19 secara nasional.

Kemudian disusul DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penyumbang kasus terbanyak yakni sebanyak 472 kasus baru, sehingga total kasus positif di DKI Jakarta menjadi 22.616 kasus. (Baca juga: Putusan Banding Dinilai Tak Adil, Emirsyah Satar Ajukan Kasasi ke MA)

Selain itu provinsi lain yang mencatat penambahan kasus tertinggi lain di antaranya Sulawesi Selatan sebanyak 97 kasus baru. Jawa Tengah tercatat sebanyak 95 kasus, Sulawesi Utara sebanyak 57 kasus, dan Jawa Barat tercatat sebanyak 56 kasus.
(kri)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top