Korona, Kiai, dan Immune Booster
Kamis, 30 April 2020 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Dahsyatnya tingkat persebaran dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan membuat virus korona lalu menjadi “musuh bersama” masyarakat. Namun, masyarakat sendiri juga tak tahu harus bagaimana melawan virus korona itu karena antivirusnya juga belum ditemukan dan amunisi yang dibutuhkan pemerintah untuk memunculkan antivirusnya serta menurunkan daya sebarnya juga memakan biaya yang superbesar.
Lalu, situasi itu memberikan tekanan yang sungguh kuat nan besar kepada semua pihak. Maka, galau, resah, gelisah, dan takut yang menghantui hampir semua orang adalah konsekuensi logis dari lemahnya kuasa berbagai pihak dalam mencegah, menangani, dan sekaligus menyelesaikan dampak medis, sosial, dan ekonomi dari virus korona di atas.
Dalam situasi seperti itu, lalu sejumlah masyarakatpun tampak mempertanyakan nasihat para kiai di atas. Sebagian mereka mungkin selanjutnya mempermasalahkan ungkapan “Jangan takut kepada korona; takutlah kepada Allah SWT!” dan sejenisnya di atas. Bahkan, sebagian lainnya tampak cenderung mencibir para kiai karena nasihat keagamaannya tersebut dianggap menabrak prinsip kesehatan-medis.
Dalam hemat saya, membaca kalimat dan ungkapan para kiai yang dikeluarkan sebagai nasihat kepada warga masyarakat di atas tak seharusnya berhenti pada uraian verbatimnya. Kalimat dan ungkapan oleh sejumlah kiai di atas harus diletakkan dalam konteks serta ranah kejiwaan dan spiritualitas publik.
Penjelasan sederhananya begini. Dalam menghadapi persebaran dan penularan virus korona yang superdahsyat belakangan ini, mental publik tidak boleh jatuh. Semangat hidup individu masyarakat tidak boleh tersungkur. Psikis dan emosi mereka tidak boleh terhuyung ke titik terendah.
Pasalnya, kalau semua itu terjadi, daya kebal tubuh mereka akan menurun drastis. Ujungnya, sistem kekebalan tubuh (the immune system) mereka akan hancur. Akhirnya, virus korona pun akan leluasa masuk dan menggerogoti kesehatan mereka. Lalu, mereka pun tinggal menunggu waktu untuk menjadi korban selanjutnya virus yang belum ditemukan obatnya itu.
Lalu, situasi itu memberikan tekanan yang sungguh kuat nan besar kepada semua pihak. Maka, galau, resah, gelisah, dan takut yang menghantui hampir semua orang adalah konsekuensi logis dari lemahnya kuasa berbagai pihak dalam mencegah, menangani, dan sekaligus menyelesaikan dampak medis, sosial, dan ekonomi dari virus korona di atas.
Dalam situasi seperti itu, lalu sejumlah masyarakatpun tampak mempertanyakan nasihat para kiai di atas. Sebagian mereka mungkin selanjutnya mempermasalahkan ungkapan “Jangan takut kepada korona; takutlah kepada Allah SWT!” dan sejenisnya di atas. Bahkan, sebagian lainnya tampak cenderung mencibir para kiai karena nasihat keagamaannya tersebut dianggap menabrak prinsip kesehatan-medis.
Dalam hemat saya, membaca kalimat dan ungkapan para kiai yang dikeluarkan sebagai nasihat kepada warga masyarakat di atas tak seharusnya berhenti pada uraian verbatimnya. Kalimat dan ungkapan oleh sejumlah kiai di atas harus diletakkan dalam konteks serta ranah kejiwaan dan spiritualitas publik.
Penjelasan sederhananya begini. Dalam menghadapi persebaran dan penularan virus korona yang superdahsyat belakangan ini, mental publik tidak boleh jatuh. Semangat hidup individu masyarakat tidak boleh tersungkur. Psikis dan emosi mereka tidak boleh terhuyung ke titik terendah.
Pasalnya, kalau semua itu terjadi, daya kebal tubuh mereka akan menurun drastis. Ujungnya, sistem kekebalan tubuh (the immune system) mereka akan hancur. Akhirnya, virus korona pun akan leluasa masuk dan menggerogoti kesehatan mereka. Lalu, mereka pun tinggal menunggu waktu untuk menjadi korban selanjutnya virus yang belum ditemukan obatnya itu.
Lihat Juga :