Percikan Filsafat dalam Novel Rayni Massardi
Senin, 18 September 2023 - 13:12 WIB
loading...
A
A
A
Sigap Walam ini selalu hadir dalam kehidupan Sila. Bahkan makin lama Sigap makin penting dalam hidupnya. Aneka peristiwa terjadi atau dilalui antara Sila dan Sigap Walam. Suatu hubungan yang cukup misterius. Namun, pada suatu waktu, Sigap menghilang begitu saja. Sila dengan bantuan Ruben mencari Sigap, tapi tidak ketemu..
Dalam menampilkan karakter tokoh utamanya, Rayni menggunakan metode langsung (telling). Metode ini mengandalkan pemaparan watak tokoh pada eksposisi dan komentar langsung dari pengarang. Ini berbeda jika pengarang menggunakan metode tidak langsung (showing). Dalam metode showing, pengarang menempatkan diri di luar kisah dengan memberikan kesempatan kepada para tokoh untuk memampilkan perwatakan mereka sendiri melalui dialog dan tindakan (action). Meskipun, belakangan banyak juga pengarang yang menggunakan kedua metode itu sekaligus dalam karyanya.
Sedangkan mengenai isinya, di beberapa bagian, saya cukup terkejut dengan penggambaran Rayni tentang tokoh Sila. Apa yang dirasakan, dikatakan, dan dilakukan Sila, memunculkan kelebatan pandangan beberapa filosof sekaligus di kepala saya.
Sila yang digambarkan hidup sendiri dan memandang dunia dan masyarakat sebagai kumpulan “orang sakit” itu agak mirip dengan kehidupan Arthur Schopenhauer. Bagi Schopenhauer, bergaul dengan banyak orang adalah “memuakkan” dan “membuang waktu”. Ia mengejek masyarakat sebagai “para karikatur”, “rumah sakit penuh orang tolol”, dan “pertunjukan para penipu”. Dia memandang hidup ini adalah tragis, berbahaya, dan mengerikan.
Menurut Schopenhauer, realitas kita ini sakit, tidak beres, dan jahat. Di dunia manusia ini terdapat egoisme, kemiskinan, kesengsaraan, penyakit, dendam, ketidakpercayaan, dan pembunuhan. Yang tidak baik dalam dunia ini jauh lebih besar jumlahnya daripada yang baik.
Pandangan Schopenhauer ini bahkan menginspirasi Friedrich Wilhelm Nietzche pada periode awal. Namun, pada keduanya terdapat perbedaan yang penting. Sementara Schopenhauer cenderung menolak kehidupan atau melarikan diri darinya, sikap Nietzche sebaliknya. Dia dengan tegas menerima kehidupan ini dengan mengatakan “ya” (Ja-Sagen) terhadap kehidupan ini.
Masih menurut Schopenhauer, hakekat dunia ini bukanlah sesuatu yang rasional (akal budi, logos, Ide, Roh absolut, atau Subjek transendental), melainkan sesuatu yang bersifat tidak rasional. Ia menamakan unsur tidak rasioal ini sebagai “Kehendak untuk hidup” (der Wille zum Laben). Dunia ini dikuasai oleh Kehendak. Dunia ini dipandang oleh Schopenhauer sebagai Kehendak dan Gagasan. Rasio dan pengetahuan hanyalah pelayanan kepada Kehendak itu.
Lalu, tindakan dan keputusan-keputusan manusia pertama-tama tidak berasal dari kesadarannya, tetapi muncul atas dorongan kehendak yang tidak rasional. Adapun kesadaran kita cuma sebagian kecil dari hakekat manusia. Ia hanyalah "permukaan" dari sebuah "lautan" yang dalam. Keputusan-keputusan kita muncul dari dalam lautan itu. Pendeknya, dunia batin serta akal budi kita dikuasai oleh kehendak yang buta ini. Hidup manusia, menurutnya, selalu berarti mengalami penderitaan, meskipun hal itu bisa diatasi melalui kesenian atau secara radikal memadamkan segala hawa nafsu dan melepaskan diri dari segala keinginan.
Dorongan kehendak untuk hidup ini sangat kuat, sehingga ia akan menerjang apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Itu sebabnya kehendak dapat membawa pada kesengsaraan bagi diri sendiri karena keinginannya tidak bisa dipenuhi. Di alam bebas, kehendak itu menampakkan diri dalam berbagai wujud makhluk hidup yang hanya survive dengan menyantap makhluk lainnya. Dalam dunia binatang, setiap hewan menjadi mangsa bagi hewan yang lain. Dan dalam dunia manusia, setiap manusia adalah serigala bagi sesamanya. Maka manusia menjadi sengsara. Dalam hidupnya, manusia didorong oleh pengharapan sambil berusaha meraih kematiannya. Hidup manusia adalah komedi dan tragedi dalam satu kesatuan, suatu lembah penuh keluhan yang tidak bernilai. Arthur Schopenhauer ini memang dikenal sebagai filosof yang murung dan pesimistis.
Pandangan bahwa “manusia serigala bagi yang lain” (homo homini lupus) ini juga ada pada Thomas Hobbes tentang manusia primitif. Menurut Hobbes, manusia sejak zaman purbakala dikuasai oleh nafsu-nafsu alamiah untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri. Dalam keadaan asli yang belum terdapat norma-norma hidup bersama, orang-orang primitif itu mempunyai hak atas semuanya. Akibatnya adalah timbulnya perang semua melawan semua (bellum omnium contra omnes) guna merebut apa yang dianggap haknya. Situasi primitif itu ditandai kecurigaan dan keangkuhan hati individu-individu yang saling menyerang. Jadi, manusia adalah serigala bagi manusia lain (homo homini lupus).
Baru pada tahap berikutnya, orang-orang primitif itu mulai menyadari pentingnya menciptakan suatu aturan hidup bersama. Sebab dalam keadaan saling mengancam itu manusia malahan tidak bisa mempertahankan kebesarannya, tidak bisa hidup dalam damai. Untuk itu, semua orang harus menyerahkan hak-hak asli mereka atas segala-galanya itu. Hal ini, katanya, sesuai dengan “petunjuk” hukum alam. Beberapa petunjuk itu, misalnya, “carilah damai”; “berlakulah terhadap orang lain sebagainana kau ingin orang lain berlaku terhadap dirimu”; dan seterusnya.
Maka dibuatlah suatu kontrak atau persetujuan bersama untuk membentuk suatu tatanan hidup bersama yang teratur. Persetujuan sosial yang asli atau kontrak asli inilah cikal-bakal adanya negara. Dan negara itu harus kuat. Negara harus berdiri dengan kedaulatan penuh dengan segala wewenang dan hak mutlaknya. Negara yang kuat itu bisa diibaratkan sebagai “Sang Leviathan”, monster laut raksasa yang menakutkan, yang ada dalam mitologi bangsa Timur Tengah.
Dalam menampilkan karakter tokoh utamanya, Rayni menggunakan metode langsung (telling). Metode ini mengandalkan pemaparan watak tokoh pada eksposisi dan komentar langsung dari pengarang. Ini berbeda jika pengarang menggunakan metode tidak langsung (showing). Dalam metode showing, pengarang menempatkan diri di luar kisah dengan memberikan kesempatan kepada para tokoh untuk memampilkan perwatakan mereka sendiri melalui dialog dan tindakan (action). Meskipun, belakangan banyak juga pengarang yang menggunakan kedua metode itu sekaligus dalam karyanya.
Sedangkan mengenai isinya, di beberapa bagian, saya cukup terkejut dengan penggambaran Rayni tentang tokoh Sila. Apa yang dirasakan, dikatakan, dan dilakukan Sila, memunculkan kelebatan pandangan beberapa filosof sekaligus di kepala saya.
Sila yang digambarkan hidup sendiri dan memandang dunia dan masyarakat sebagai kumpulan “orang sakit” itu agak mirip dengan kehidupan Arthur Schopenhauer. Bagi Schopenhauer, bergaul dengan banyak orang adalah “memuakkan” dan “membuang waktu”. Ia mengejek masyarakat sebagai “para karikatur”, “rumah sakit penuh orang tolol”, dan “pertunjukan para penipu”. Dia memandang hidup ini adalah tragis, berbahaya, dan mengerikan.
Menurut Schopenhauer, realitas kita ini sakit, tidak beres, dan jahat. Di dunia manusia ini terdapat egoisme, kemiskinan, kesengsaraan, penyakit, dendam, ketidakpercayaan, dan pembunuhan. Yang tidak baik dalam dunia ini jauh lebih besar jumlahnya daripada yang baik.
Pandangan Schopenhauer ini bahkan menginspirasi Friedrich Wilhelm Nietzche pada periode awal. Namun, pada keduanya terdapat perbedaan yang penting. Sementara Schopenhauer cenderung menolak kehidupan atau melarikan diri darinya, sikap Nietzche sebaliknya. Dia dengan tegas menerima kehidupan ini dengan mengatakan “ya” (Ja-Sagen) terhadap kehidupan ini.
Masih menurut Schopenhauer, hakekat dunia ini bukanlah sesuatu yang rasional (akal budi, logos, Ide, Roh absolut, atau Subjek transendental), melainkan sesuatu yang bersifat tidak rasional. Ia menamakan unsur tidak rasioal ini sebagai “Kehendak untuk hidup” (der Wille zum Laben). Dunia ini dikuasai oleh Kehendak. Dunia ini dipandang oleh Schopenhauer sebagai Kehendak dan Gagasan. Rasio dan pengetahuan hanyalah pelayanan kepada Kehendak itu.
Lalu, tindakan dan keputusan-keputusan manusia pertama-tama tidak berasal dari kesadarannya, tetapi muncul atas dorongan kehendak yang tidak rasional. Adapun kesadaran kita cuma sebagian kecil dari hakekat manusia. Ia hanyalah "permukaan" dari sebuah "lautan" yang dalam. Keputusan-keputusan kita muncul dari dalam lautan itu. Pendeknya, dunia batin serta akal budi kita dikuasai oleh kehendak yang buta ini. Hidup manusia, menurutnya, selalu berarti mengalami penderitaan, meskipun hal itu bisa diatasi melalui kesenian atau secara radikal memadamkan segala hawa nafsu dan melepaskan diri dari segala keinginan.
Dorongan kehendak untuk hidup ini sangat kuat, sehingga ia akan menerjang apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Itu sebabnya kehendak dapat membawa pada kesengsaraan bagi diri sendiri karena keinginannya tidak bisa dipenuhi. Di alam bebas, kehendak itu menampakkan diri dalam berbagai wujud makhluk hidup yang hanya survive dengan menyantap makhluk lainnya. Dalam dunia binatang, setiap hewan menjadi mangsa bagi hewan yang lain. Dan dalam dunia manusia, setiap manusia adalah serigala bagi sesamanya. Maka manusia menjadi sengsara. Dalam hidupnya, manusia didorong oleh pengharapan sambil berusaha meraih kematiannya. Hidup manusia adalah komedi dan tragedi dalam satu kesatuan, suatu lembah penuh keluhan yang tidak bernilai. Arthur Schopenhauer ini memang dikenal sebagai filosof yang murung dan pesimistis.
Pandangan bahwa “manusia serigala bagi yang lain” (homo homini lupus) ini juga ada pada Thomas Hobbes tentang manusia primitif. Menurut Hobbes, manusia sejak zaman purbakala dikuasai oleh nafsu-nafsu alamiah untuk memperjuangkan kepentingannya sendiri. Dalam keadaan asli yang belum terdapat norma-norma hidup bersama, orang-orang primitif itu mempunyai hak atas semuanya. Akibatnya adalah timbulnya perang semua melawan semua (bellum omnium contra omnes) guna merebut apa yang dianggap haknya. Situasi primitif itu ditandai kecurigaan dan keangkuhan hati individu-individu yang saling menyerang. Jadi, manusia adalah serigala bagi manusia lain (homo homini lupus).
Baru pada tahap berikutnya, orang-orang primitif itu mulai menyadari pentingnya menciptakan suatu aturan hidup bersama. Sebab dalam keadaan saling mengancam itu manusia malahan tidak bisa mempertahankan kebesarannya, tidak bisa hidup dalam damai. Untuk itu, semua orang harus menyerahkan hak-hak asli mereka atas segala-galanya itu. Hal ini, katanya, sesuai dengan “petunjuk” hukum alam. Beberapa petunjuk itu, misalnya, “carilah damai”; “berlakulah terhadap orang lain sebagainana kau ingin orang lain berlaku terhadap dirimu”; dan seterusnya.
Maka dibuatlah suatu kontrak atau persetujuan bersama untuk membentuk suatu tatanan hidup bersama yang teratur. Persetujuan sosial yang asli atau kontrak asli inilah cikal-bakal adanya negara. Dan negara itu harus kuat. Negara harus berdiri dengan kedaulatan penuh dengan segala wewenang dan hak mutlaknya. Negara yang kuat itu bisa diibaratkan sebagai “Sang Leviathan”, monster laut raksasa yang menakutkan, yang ada dalam mitologi bangsa Timur Tengah.
Lihat Juga :